Seorang warga negara asing (WNA) yang diduga dari Prancis disorot setelah video yang berisi kritik tajam terhadap Pulau Bali viral di media sosial. Dinas Pariwisata Badung merespons.
Dalam video itu, perempuan tersebut meminta wisatawan lain untuk tidak berkunjung karena menganggap Bali sebagai tempat yang mengerikan untuk berlibur.
"Percayalah padaku, jangan pernah datang ke Bali. Aku jamin pulau sialan ini adalah neraka di dunia," ujar turis tersebut dalam rekaman video yang beredar luas di medsos, dikutip dari detikBali, Selasa (10/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengeluhkan kondisi infrastruktur jalanan di Bali yang dianggapnya sebagai sebuah bencana besar dan sangat merusak kenyamanan. Selain masalah jalan, perempuan ini mengaku hampir menjadi korban penipuan saat mencoba menukar uang di gerai penukaran uang (money changer).
"Semuanya rumit di sini, benar-benar mengerikan. Jalan-jalannya hancur total," kata perempuan yang belum diketahui identitasnya tersebut.
Bule perempuan itu juga menyoroti perilaku oknum masyarakat setempat yang menurutnya tidak jujur meski Bali dikenal dengan konsep spiritualitasnya. Ia merasa klaim mengenai hukum karma di pulau tersebut tidak terbukti karena pengalaman buruk yang ia alami berkali-kali.
"Tiga kali aku menukar uang, tiga kali juga mereka mencoba menipuku. Katanya ini pulau spiritualitas dan karma, tapi persetan dengan karma," lanjutnya dengan nada emosional.
Kekecewaannya berlanjut pada urusan kuliner. Dia menganggap makanan di Bali membosankan karena hanya menyajikan menu ayam dan nasi setiap hari.
Kondisi penginapan pun tak luput dari sasaran kritiknya. Dia mengeluhkan fasilitas dasar seperti koneksi internet dan ketersediaan tisu toilet yang minim. Meski mengakui kamar hotelnya memiliki desain yang bagus, ia tetap merasa pelayanan yang diberikan sangat mengecewakan.
"Jujur aku sudah tidak tahan lagi, bayangkan masuk kamar tidak ada Wi-Fi dan tidak ada tisu toilet. Cuma ada satu gulungan kosong, apa mereka sedang menertawakanku atau bagaimana?" kata bule perempuan tersebut.
Menanggapi hal itu, Kepala Dinas Pariwisata Badung I Nyoman Rudiarta menilai kritik dari wisatawan, influencer asing atau siapapun yang mengetahui Bali, harus diambil hikmah positifnya sebagai bahan evaluasi pemerintah daerah. Dia menekankan pentingnya berbenah diri sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing di tengah kebebasan media sosial saat ini.
"Nah, kalau kita melihat itu, kita ambil hikmah ya, hikmah positif bagi kita di pemerintah daerah bahwa dengan kebebasan saat ini apalagi di media sosial ya kita harus berbenah diri. Kita harus berbenah diri tetapi kita berbuat sesuai dengan tupoksi kita masing-masing," kata Rudiarta saat dikonfirmasi, Selasa (10/3/2026).
Rudiarta berharap para pemangku kepentingan lainnya juga turut memberikan pernyataan positif demi menjaga citra pariwisata di Bali, khususnya Badung.
Pemerintah Kabupaten Badung sendiri tengah melakukan berbagai langkah perbaikan bertahap, mulai dari pembenahan infrastruktur, penanganan sampah, lalu lintas, penanganan kriminalitas bekerja sama dengan kepolisian dan layanan publik untuk peningkatan kualitas pariwisata.
"Dan kami berharap ada influencer-influencer teman-teman juga memberikan pandangan yang positif terhadap kondisi pariwisata maupun infrastruktur yang ada di Kabupaten Badung mulai dari pembenahan jalan, pelebaran jalan, dan lain sebagainya seperti itu," ujar dia.
Dia juga mengingatkan sektor pariwisata merupakan inti bisnis wilayah Badung yang menjadi tumpuan ekonomi bagi 60 persen masyarakat setempat. Rudiarta menyebut pemerintah sudah mengeluarkan kebijakan strategis untuk menangani masalah kemacetan dan banjir yang selama ini dikeluhkan.
"Badung ini core bisnisnya pariwisata dan hampir juga 60 persen masyarakat juga bertumpu di sektor ini. Kami berharap tetap menjaga marwah dan kondisi pariwisata kita. Apalagi pemerintah saat ini Pak Bupati sudah membuat sebuah kebijakan terkait dengan kemacetan, terkait dengan banjir banyak langkah-langkah yang sudah dilakukan," ujar dia.
Rudiarta mengajak seluruh elemen masyarakat, pengusaha, dan pemangku kepentingan pariwisata untuk mulai berbenah secara kolektif. Kesadaran masyarakat akan pentingnya keamanan dan kenyamanan dianggap sebagai kunci agar roda ekonomi Bali tetap berjalan dengan baik.
(fem/fem)












































Komentar Terbanyak
Setuju atau Tidak Bandara Husein & Adisutjipto Dibuka Lagi?
'Dulu Ramai Sekali, Sekarang Sepi Seperti Kota Mati'
Visa Ditolak, Iran Tuduh AS Diskriminasi Delegasi Timnas Jelang Piala Dunia