Jakarta - Kota Medan bukanlah satu-satunya destinasi wajib di Sumatera Utara. Tak ada salahnya Anda mengunjungi Tangkahan, yang menyuguhkan ekowisata dan mengizinkan traveler berada dekat dengan fauna liar.Kami adalah sekelompok mahasiswa yang melakukan penelitian tentang ekowisata di daerah Tangkahan, Sumatera Utara. Ekowisata adalah bentuk perjalanan wisata ke area alami yang bertujuan mengkonservasi lingkungan dan melestarikan kehidupan dan kesejahterahan penduduk setempat (The Ecotourism Society, 1990).Kami memulai perjalanan pada Senin (16/03/2015) dan tiba di Bandara Kualanamu tepat pukul 12.11 WIB setelah menempuh perjalanan udara selama 2,5 jam. Setelah itu kami bertemu dengan seorang ranger bernama Ika yang memandu kami ke dalam bis. Ranger adalah sebutan bagi interpreter yang bekerja di Tangkahan. Hampir semua ranger merupakan warga asli Tangkahan.Selama 4 jam perjalanan melewati perkebunan kelapa sawit, kami sampai di Tangkahan Inn pukul 17.45 WIB. Tangkahan Inn adalah tempat menginap kami selama 4 hari. Penginapan dengan bernuansa alam ini memiliki 14 kamar, sebuah restoran, dan satu bar. Restoran tersebut menghadap langsung kearah Gunung Leuser.Makanan khas Sumatera Utara disajikan dalam bentuk prasmanan, tambah nikmat saat menyantapnya sambil melihat pemandangan Gunung Leuser. Kamarnya sederhana tapi tetap sangat nyaman digunakan untuk beristirahat setelah melakukan kegiatan penelitian.Malam harinya kami bertemu dengan LPT (Lembaga Pariwisata Tangkahan). LPT adalah lembaga yang didirikan pada 20 April 2001 oleh masyarakat yang sebelumnya berprofesi sebagai penebang liar. LPT bertujuan untuk mengembangkan ekowisata di Tangkahan dengan batuan Indecon.Kami berdiskusi serta diberikan materi oleh anggota LPT mengenai pengetahuan seputar Tangkahan. Bang Ika yang juga merupakan salah satu anggota dari LPT memberitahu kami, 10% hasil yang mereka dapat dari pengunjung yang datang ke Tangkahan akan d donasikan ke LPT dan digunakan kembali untuk pengembangan Tangkahan.Hari kedua, kami melakukan trekking ke Gunung Leuser. Sebelum memasuki hutan kami harus menyeberangi Sungai Batang Serangan dengan menggunakan getek, perahu yang biasa digunakan masyarakat Tangkahan. Para ranger memandu kami di dalam hutan, serta memberi pengetahuan tentang flora dan fauna yang terdapat di dalam Gunung Leuser.Contohnya yaitu pengetahuan mengenai daun jelatang, yang bila mengenai kulit kita dapat menyebabkan gatal. Soal keberadaan fauna kami diperlihatkan sarang orangutan, jejak gajah, serta kubangan babi hutan. Saat trekkig kami berhenti di Sungai Uning, yang merupakan tempat minum bagi fauna di Gunung Leuser.Setelah itu kami berhenti di Sungai Gambir untuk beristirahat sejenak dan menikmati nanas muda yang dibawakan oleh ranger. Kami melanjutkan perjalanan keluar menyusuri Gunung Leuser. Kami telah berjalan sekitar 6 km trekking pun diakhiri dengan berenang di sungai Batang Serangan.Hari ketiga, Rabu (18/03) kami gunakan untuk mengunjungi CRU (Conservation Response Unit). Dahulu kala gajah-gajah menjadi hama yang merusak perkebunan milik masyarakat Tangkahan. Dengan begitu dibentuklah CRU.CRU didirikan oleh FFI (Flora and Fauna International). Mereka mengirim gajah-gajah yang dulunya hama bagi masyarakat ini ke 'Elephant School' agar tidak merugikan dan menjadi berguna bagi kepentingan masyarakat.Seperti hari sebelumnya kami diberi materi seputar CRU oleh Manager CRU yaitu Bapak Edi Sunardi. Sehabis pemberian materi, kami di berikan kesempatan untuk memandikan gajah-gajah di pinggiran sungai Batang Serangan. Kegiatan kami selanjutnya adalah tubing bersama-sama. Tubing adalah salah satu kegiatan air seperti rafting tetapi kami duduk di atas ban besar untuk mengarungi sungai.Tubing dimulai dari Sungai Batang Serangan menuju Sungai Buluh dan berhenti di spot jumping Namocengcengkeh. Setelah bermain air, kami menuju lapangan untuk bermain sepak bola dengan komunitas sepak bola Tangkahan. Di malam harinya kami mengadakan api unggun di pinggiran sungai. Di sana kami bercerita, bernyanyi serta bersenang-senang bersama ranger dan anggota LPT lainnya.Kamis (19/03), inilah hari terakhir kami berada di Tangkahan. Kami bangun pukul 04.00 WIB dan bersiap kembali ke Bandung. Sama seperti hari pertama kami menggunakan bus untuk menuju bandara Kualanamu. Kami berhenti di Kota Medan untuk mampir ke beberapa toko oleh-oleh.Oleh-oleh khas Sumatra Utara yang terkenal antara lain Bika Ambon dan Bolu Meranti. Setelah puas belanja, kami kembali melanjutkan perjalanan kami menuju bandara Kualanamu. Pukul 12.00 WIB kami kembali ke Bandung menempuh 2,5 jam perjalanan udara. Tiba di Bandung siang hari, tepatnya pukul 14.35 WIB dan selesai sudah perjalanan kami.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru