Serunya Arung Jeram di Sungai Elo & Misteri Tapak Buddha

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Serunya Arung Jeram di Sungai Elo & Misteri Tapak Buddha

Yogaku Puspita Rini Sagal - detikTravel
Sabtu, 30 Agu 2014 10:35 WIB
loading...
Yogaku Puspita Rini Sagal
Kita siap berarung jeram
Cheersss...
Ketika teman-teman lain menghadapi jeram
Serunya Arung Jeram di Sungai Elo & Misteri Tapak Buddha
Serunya Arung Jeram di Sungai Elo & Misteri Tapak Buddha
Serunya Arung Jeram di Sungai Elo & Misteri Tapak Buddha
Jakarta - Hal menarik yang dapat dilakukan ketika berlibur di Yogyakarta atau Magelang adalah menjajal jeram-jeram liar di Sungai Elo. Selain merasakan serunya arung jeram, ada juga batu dengan tapak kaki Buddha. Penasaran?Beberapa waktu lalu saya berkesempatan untuk menikmati jeram tersebut bersama teman-teman, yakni Mace Seila, Mas Klowor, Mas Hulk, Mas Dwek dan Mas Dimas, yang kebetulan penggila jeram. Kurang lebih satu jam berkendara dari Yogyakarta, kami akhirnya sampai di meeting point kegiatan arung jeram ini, tepatnya di Resto Kampung Ulu, Mungkid, Muntilan, Jawa Tengah.Di sini kami semua naik transportasi lokal yang sudah disediakan menuju ke start point. Jaraknya sekitar sepuluh menit dari meeting point ini.Perahu karet warna-warni telah siap menunggu. Pelampung-pelampung serta helm pengaman pun sudah siap digunakan. Salah satu skipper membawa beberapa dayung dan disusul dengan yang lain yang juga membawa dayung. Sementara para peserta arung jeram, termasuk kami, membuat satu lingkaran besar dan mendengarkan brief singkat dari salah satu skipper yang lain.Semua persiapan sudah dilakukan, kami sudah berpakaian lengkap layaknya Power Rangers yang siap beraksi. Dayung bergagang biru sudah ada di tangan, saatnya turun langsung dan mencicipi arus Sungai Elo yang dari tadi sudah berkeciap memanggil-manggil kami.Panjang lintasan yang akan kami arungi adalah 12,5 km dengan waktu tempuh sekitar 2,5 sampai 3 jam. Kami juga akan melewati 35 jeram, menurut informasi mas skipper yang tak lain adalah Mas Klowor sendiri.Jeram pertama yang kami arungi adalah Jeram Sesek. Air beriak yang cukup panjang ini lumayan menggoyang-goyang perahu karet kami yang awalnya tenang.Wowwww! Ini merupakan jeram selamat datang, yang artinya masih ada 34 jeram lagi menanti di depan kami.Jeram demi jeram bisa kami lalui. Beberapa permainan kami lakukan, salah satunya saya namai permainan putar perahu. Di permainan ini, empat orang dari kami berdiri di atas perahu dan dua orang lagi mendayung perahu sehingga perahu tersebut memutar. Karena tidak mampu menjaga keseimbangan, akhirnya kami jatuh ke air. Basah juga deh!Ditengah-tengah pengarungan, kami beristirahat di rest area yang sudah disediakan. Di sana kami disuguhi kelapa muda dan snack berupa makanan tradisional yang cocok dinikmati setelah pengarungan setengah jalan ini.Setelah menikmati hidangan istirahat kami, saya, Mace Seila dan Mas Hulk melakukan kegiatan yang lebih ekstrem. Renang jeram. Bagi kalian yang belum pernah atau takut dengan air, kegiatan ini sangat tidak disarankan.Renang jeram adalah aktivitas berenang di jeram dengan gerakan tertentu. Gerakan tertentu tersebut adalah gerakan terlentang dengan kaki berada di depan dan mengayuh seperti sedang mengayuh sepeda.Gerakan ini berfungsi untuk menjaga kita supaya bisa tahu di mana ada batu atau benda lainnya sehingga tidak terantuk kepala terlebih dahulu.Setelah selesai mengarungi satu jeram dengan berenang, pengarungan kami dengan menggunakan perahu karet pun dilanjutkan. Jeram-jeram berikutnya tak kalah seru. Apalagi ketika perahu kami sengaja dibalikkan dan saya berada di bawah perahu.Itu pengalaman yang tak akan terlupakan. Tak jauh dari tempat perahu dibalikkan, ternyata sungai menyempit. Di penyempitan ini arus tidak terlalu deras, dan kami seolah-olah menyusuri Green Canyon versi Elo. Di sini Mace Seila memilih berenang ketimbang duduk di perahu.Mendekati finish point ada satu hal menarik lagi. Di salah satu batu-batu besar di pinggir sungai ada satu batu unik. Di batu tersebut, sebuah jejak besar terlihat. Konon, itu adalah tapak Buddha. Bagian itu menjadi daya tarik tersendiri bagi saya.Awalnya saya heran kenapa ada tapak Buddha di sana. Ternyata setelah finish dan kembali ke meeting point, tapak Buddha itu menjadi masuk akal. Tempat itu ternyata berada tepat di belakang Vihara Buddha Mendut.Tapak Buddha tersebut akhirnya menutup petualangan menyenangkan kami hari itu. Setelah merasakan sendiri serunya berarung jeram, aku jadi mengerti mengapa teman-teman saya yang lainnya ini menjadi penggila jeram.
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads