Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 26 Mei 2013 10:25 WIB

D'TRAVELERS STORIES

6 Hari Paling Dahsyat di Phuket

Fransisca Widi
d'Traveler
Kuil utama di kompleks Wat Chalong
Kuil utama di kompleks Wat Chalong
Birunya air laut di Phi-Phi Ley
Birunya air laut di Phi-Phi Ley
James Bond Island - Phang Nga Bay
James Bond Island - Phang Nga Bay
Play football after sunset at Patong
Play football after sunset at Patong
Viking Cave di Koh Phi-phi Ley
Viking Cave di Koh Phi-phi Ley
detikTravel Community - Liburan ke Phuket, Thailand, tidak cukup sehari saja. 6 Hari di Phuket, itu baru menyenangkan. Pantai-pantai yang indah dan wisata kulinernya sangat tepat untuk menjadi target utama liburan yang mantap!Tujuan liburan musim panas kali ini adalah Phuket, di selatan Thailand. Phuket sudah sangat terkenal dengan udara tropis, pantai-pantainya yang indah, wisata kulinernya, dan keramahan warganya. Keberuntungan yang mendukung liburan kali ini, lagi-lagi saya mendapatkan tiket promo pesawat. Kembali saya menyandang backpack di punggung menuju Bandara Soekarno Hatta.Saya berangkat bersama seorang teman, Rebecca dan Angelina yang sudah berangkat duluan ke Bangkok dan kami berencana bertemu di Phuket International Aiport. Butuh waktu tempuh selama 3 jam dari Jakarta menuju Phuket dengan catatan direct flight. Setengah jam sebelum mendarat, cuaca di atas Kota Phuket memburuk. Hujan dan turbulence mengguncang pesawat kami dan lumayan berhasil membuat Rebecca mabuk udara. Sampai di Phuket International Airport langit masih mendung dan waktu sudah menunjukkan pukul 20.00 malam. Kami mencarter minivan THB 200 atau sekitar Rp 60.000 untuk bertiga, lumayan murah.Kami pun minta diantar ke Lub Sbuy Guesthouse, sebuah penginapan backpacker di kawasan Phuket Town. Kami booking kamar Japanese Room bergaya Jepang, kipas angin, dan shared bathroom yang bersih. Harganya kurang lebih Rp 90.000 per org semalam dan strategis di dekat terminal bus Phuket Town. Sesampainya di hostel kami langsung keluar mencari makan tukang jajanan sate sosis di perempatan jalan depan terminal. Semuanya serba ditusuk. Mulai dari sosis, shrimp, baso, tofu, cumi, pork, beef, chicken, dan seafood. Harga per tusuk nya hanya THB 5-10 saja (Rp 1.500-3.000). Sate tersebut digoreng, dan dimakan dengan saus khas Thailand dan potongan timun segar. Ehm... maknyus!Setelah makan kami menyusuri Phuket Town yang sudah sangat sepi padahal masih pukul 22.00 malam. Kami tiba di pasar malam Ong Sim Phai Rd, belakang Robinson Mall. Di pasar itu berjejer kios makanan, mirip Jl Alor di Kuala Lumpur, Malaysia. Di sana kami memesan Tom Yam, Pad Thai, Crispy Vegie Noodle, dan tak lupa Thai Herbal Tea. Rentang harga di pasar ini sekitar Rp 30.000 per porsi.Phuket Hari KeduaDi hari kedua, kami mengeksplor Kota Phuket. Kami menyusuri Phang Nga Rd menuju Phuket Old Town,  dengan bangunan bergaya Sino Portuguese peninggalan zaman dulu. Di perempatan Phuket Rd dan Phang Nga Rd ada sebuah bangunan antik dengan jam besar di atasnya. Namun sayang, Kota Phuket ini terlihat semerawut akibat juntaian kabel-kabel listrik dan telepon.Di ujung Phang Nga Rd, kami belok kanan ke Yaowart Rd menuju tempat makan bernama "Local Food". Namun kami datang terlalu pagi dan beberapa kios makanan belum buka. Kami pun ke arah Thalat Dibuk Rd karena ada kuil Wat Puttamongkon yang memiliki arsitektur yang indah dengan dominasi warna emas dan merah sebagai ciri khas kuil Buddha di Thailand. Kami lalu naik tuk-tuk seharga THB 250 untuk keliling kota termasuk wat yang paling terkenal di Phuket, yaitu Wat Chalong. Destinasi pertama kami adalah Big Buddha, kuil dengan patung Buddha 18 m di lereng bukit yang menghadap ke Kota Phuket.Kami melanjutkan perjalanan ke Rang Hill-Phuket View Point, puncak bukit untuk melihat pemandangan seluruh Kota Phuket dari ketinggian. Bahkan Andaman Sea pun terlihat jelas dari sini. Selanjutnya kami menuju pusat Kota Phuket untuk booking trip ke Phi-Phi Island, Sabtu keesokan harinya. Kami mendapat harga THB 900 per pax sekitar Rp 270.000 untuk satu hari jalan-jalan ke Phi-phi Island, termasuk antar-jemput, makan, cruise ship, dan alat snorkeling. Kami juga membeli paket One Day Tour to Phang Nga Bay atau James Bond Island untuk hari Minggunya, THB 700 per org atau sekitar Rp 210.000 saja.Selanjutnya kami menuju ke kuil Wat Chalong dan mampir dulu ke Gems Store dan toko cemilan terkenal "Sri Bhurapa Orchid" untuk membeli oleh-oleh makanan khas Thai, seperti manisan buah kering, permen asem, dan teng-teng kacang mede. Tepat pukul 14.00 siang, kami tiba di Wat Chalong. Saat itu cuaca sedang panas-panasnya dan sialnya tak satupun dari kami memakai sunblock. Terbayang kan panasnya? Di bagian depan ada sebuah cerobong asap tempat pembakaran petasan. Siap-siap tutup kuping setiap kali ada yang menyalakan petasan di sini. Setelah puas kami kembali ke kota dengan tak lupa mampir ke toko Spa Aromatherapy "Mook Phuket" di dekat pasar tradisional "Chatucak Phuket".Di Chatucak sore itu, kami berwisata kuliner. Setelah puas icip-icip, kami mulai mengeksplore pasar Chatucak Phuket ini. Kenapa namanya sama dengan Pasar Chatucak Bangkok? Ya karena pasar ini adanya cuma pas weekend dan hampir serupa dengan pasar yang di Bangkok itu. Mayoritas barang yang dijual di sini seputar fashion dan souvenir. Kami dapat beberapa barang unik di sini, antara lain miniatur minuman keras bermerk Jack Daniels, Vodka, Black Label, dll. Harganya pun relatif miring, kami mendapat aksesoris lucu, serupa yg dijual di online shop Indonesia dengan harga 5 kali lebih murah dari. Maksud hati masih ingin menjelajah pasar tersebut, namun kami sudah sangat kelelahan. Akhirnya kami naik ojek untuk pulang ke penginapan. Hari yang melelahkan namun sarat pengalaman.Phuket Hari KetigaHari ini kami bangun kesiangan, padahal pagi ini kami akan dijemput pukul 08.00 pagi untuk One Day Trip ke Phi-phi Island. Untungnya si sopir penjemput menunggu kami siap. Kami dibawa ke pelabuhan yang jaraknya tak jauh dari kota Phuket. Boat kami, Sea Angel Luxury, sudah tertambat rapi di pier tersebut. Suasana pelabuhan cukup ramai. Tepat pukul 08.30 Sea Angel pun bertolak dan breakfast ringan pun dibagikan, teh dan kue. Kami duduk di dek kedua, open air, jadi selama 2 jam ke depan bakal berangin-angin ria di atas dek kapal. Mungkin karena Becca tidak kuat dengan ayunan gelombang laut dan terpaan angin kencang, makanya dia mabuk laut dan teler.Sepanjang perjalanan, laut mulai berubah warna. Dari biru keruh ke biru dongker, biru terang hingga turquoise di Phi-phi Island. Bukit-bukit limestone pun mulai bermunculan, inilah kawasan Koh Phi-phi Ley. 'Koh' berarti pulau dalan bahasa Thai. Sedangkan Phi-phi Island sendiri terbagi menjadi dua wilayah: Koh Phi-phi Ley dan Koh Phi-phi Don. Phi-phi Ley adalah gugusan pulau yang tidak berpenghuni, dengan laguna Maya Bay, tempat syuting film 'The Beach'-nya Leonardo Di Caprio. Sedangkan Phi-phi Don adalah pulau yang berpenghuni, di mana terdapat perkampungan, hotel-hotel, resort, dan penginapan yang ramai wisatawan.Boat kami perlahan-lahan melintasi gunung batu kapur, kemudian Maya Bay yang tersohor itu. Namun sayang paket tur kami tidak mampir ke Maya Bay, alhasil kami hanya mampu mengagumi keindahannya dari jauh saja. Kemudian kami diajak melewati Viking Cave, sebuah goa di bawah gunung batu yang terbentuk akibat kikisan air. Konon goa itu disebut Viking Cave karena terdapat lukisan kapal Viking di dinding goa yang kini menjadi sarang ribuan burung wallet itu.Akhirnya sampailah kami di sebuah spot untuk snorkeling, dimana warna airnya turquoise! Rebecca masih mabuk laut berat sehingga tidak dapat ikut berenang dan snorkeling. Variasi ikan-ikan di sini lumayan banyak, namun sayang terumbu karang di sini benar-benar sudah hancur. Namun bagi yang bisa menyelam, jangan khawatir, Phi-phi masih punya beberapa spot menarik dan oke banget untuk diving. Selesai snorkeling yang hanya 1 jam saja kami dibawa ke Phi-phi Don untuk santap siang berupa buffet all you can eat dengan menu Western, Asia, dan Arabian. Rebecca pun akhirnya pulih dari mabuk lautnya.Selesai makan siang, kami diberi waktu bebas mengeksplore Phi-phi Don sampai pukul 14.00 siang. Kami memutuskan untuk bermain-main di Tonsay Bay. Angel dan Becca memutuskan untuk berenang. Secara Becca dari tadi kan belum menyentuh air laut karena mabuk. Saya ketiduran dan ternyata sudah pukul 14.00! Kami berlari-lari ke pier, syukurlah kapalnya masih bersandar manis di dermaga meski hampir penuh. Pukul 16.00 sore kami tiba kembali di dermaga Phuket. Tak lupa kami membeli oleh-oleh berupa foto kami masing-masing yang dicetak di atas piring keramik pajangan seharga THB 100 saja. Malam harinya, kami menyusuri Phuket Town untuk mencari makan malam. Saat kami menyusuri Ranong Rd, kami menemukan travel agent yang memasang iklan "ONE DAY TOUR PHI-PHI ISLAND, ONLY THB 700" What! Agen ini menawarkan harga paket tur yang THB 200 lebih murah! Jadi pembelajaran bagi kami, lain kali harus lebih jeli dalam memilih travel agent.Di perjalanan pulang ke hostel, kami menemukan toko kue kecil dipojokan Ratsada Rd setelah Hotel Tavorn. Tokonya mengingatkan kami pada toko kuenya Shan Chai di film Meteor Garden. Terletak di sebelah taman kecil yang rapi, cake shop ini sepertinya nyaman banget buat nongkrong. Akhirnya kami memutuskan untuk mampir dan menyantap sepotong Cheese Cake lezat sambil menikmati Chinese Tea hangat. Suasana di dalam toko sangat homey dan cozy, bikin betah. Sang ibu pemilik toko pun sangat ramah dan welcome. Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 21.30 malam, kami pun pulang ke hostel melewati Ocean & Robinson Mall.Phuket Hari KeempatPagi pukul 08.00 kami dijemput minivan dan pemandu wisata yang kocak dan rame, Nok-nok namanya. Hari ini tujuan tur kami adalah James Bond Island, sebuah pulau tempat syuting film James Bond 007, The Man with the Golden Gun. Tempat ini terletak di Phang Nga, sebuah taman nasional dengan pulau-pulau yang menyembul di Laut Andaman. Kami menuju utara hingga melewati jembatan penghubung antara Phuket Island ke mainland Thailand. Waktu tempuh kurang lebih 2 jam perjalanan darat dan kami mampir ke Wat Tham Suwanakhuka (Buddha Cave Temple) yang berada di dalam gua dan punya patung reclining Buddha (Buddha Tidur) sepanjang 15 meter.Kami menuju ke Surakul Pier untuk mengarungi Andaman Sea dengan longtail boat. Berbeda dengan Phi-phi, air laut di Andaman Sea taman nasional ini berwarna coklat keruh seperti sungai di Kalimantan! Saat kami memasuki kepulauan Phang Nga, gunung batu kapur dengan berbagai bentuk menyembul dari permukaan laut. Warga Thailand percaya gunung ini mewakili bentuk binatang.Akhirnya sampailah kami di James Bond Island, namun ternyata aslinya nggak sebagus yang di gambar brosur, majalah, dan internet. Di pulau yang bernama asli Koh Khao Ping Kan ini, terdapat sebuah pulau berbentuk paku yang menancap di tengah laut, pulau paku ini bernama Koh Tapoo, inilah ikon James Bond Island tersebut. Di pulau utama terdapat dinding kapur sangat tinggi yang seolah-olah dipotong rata dan disandarkan ke sisi tebing. Potongan dinding kapur inilah yang dinamakan Khao Ping Kan. Kami lalu menuju desa nelayan terapung Koh Panyee. Ternyata, sang tour guide menjelaskan desa ini awal mulanya dibangun oleh orang-orang Indonesia yang dahulu mendirikan tempat ini 200 tahun yang lalu. Bahkan jika kita perhatikan, wajah para penduduk Koh Panyee ini mirip sekali dengan wajah orang Jawa dan Sumatera!Pukul 14.00 tepat kami bertolak pulang. Sesampai di hostel, kami langsung ambil koper dan memutuskan untuk menghabiskan sisa liburan kami di Patong, pusatnya kehidupan hingar bingar di Phuket. Bus Phuket-Patong ngetem di depan Sevel sebelah Phuket Backpacker Hostel tarifnya THB 25 /orang. Sampai di Patong, kami disambut dengan gedung tinggi hotel-hotel berbintang. Jalanan pun ramai dengan kendaraan berseliweran. Kami turun tepat di depan hostel yang sudah kami booking kemarin via online, Coast Star Mansion di Rat U-thit Rd, tak jauh dari Jungceylon Mall. Kamar kami Rp 70.000/orang untuk tipe dorm, dengan 2 ranjang tingkat, kamar mandi di dalam, TV, kulkas, dan kipas angin. Ada WiFi yg bisa diakses dari kamar masing-masing.Malam itu kami berwisata kuliner di Banzaan Market. Aroma wangi daging panggang langsung menyambut kami saat kami memasuki area Banzaan Night Market yang dipenuhi para pedagang makanan kaki lima. Ada banyak macam makanan di sini, mulai dari yang halal sampai yang aneh. Harga pun relatif murah, makan nasi campur cuma Rp 15 ribu/orang. Minumnya apalagi kalau bukan air jeruk segar yang langsung bikin adem badan di malam yang gerah itu.Kami lalu menuju sebuah pasar di sebelah kiri Jungceylon yang menjual baju dan suvenir, namun pedagangnya kurang ramah dan ngotot. Saat kami menawar kaos dengan harga THB 100, kami ditertawakan dan dimaki-maki! Kami pun melipir ke Bang La Road, sebuah jalanan sepanjang 700 meter yang notabene merupakan pusat nightlife di Patong. Saat tiba di ujung jalan, kami langsung disodori brosur-brosur oleh beberapa pria yang menawarkan paket nonton 'Tiger Show' yang menampilkan adegan-adegan erotis pria dan wanita, khusus untuk dewasa. Kami menolak dengan halus tawaran mereka.Suara musik hingar bingar di sepanjang jalan, bar-bar berlampu warna warni tampak dipenuhi orang. Bahkan beberapa bar menyajikan para penari semi striptis yang meliuk-liuk di tiang di atas meja-meja! Itu belum seberapa, ada pula sebuah bar yang memajang seorang wanita sangat cantik bak boneka, di sebuah jendela kaca. Wanita itu akan melambai pada pria-pria yang lewat, memancing mereka untuk masuk dan mencoba beberapa servis yang mereka tawarkan. Tak cuma itu, ada pula toko baju yang khusus menjual kostum-kostum penari semi striptis, kostum cosplay, dan G-String genit untuk pria! Bisa dibayangkan bukan suasana malam di jalanan ini seperti apa?Niat hati sih ingin masuk di salah satu bar dan mencicipi sebotol dua botol bir, sambil nonton penari yang asyik joget di atas meja. Namun entah kenapa perut saya tiba-tiba melintir dan mulas luar biasa! Mungkin karena tadi saya makan masakan khas Thailand yang berbumbu sangat pedas. Atau mungkin juga sebuah teguran dari Yang Di Atas, supaya saya tidak masuk ke tempat 'lampu merah' itu. Yang pasti saya langsung merengek pulang ke hostel saat itu juga. Maaf ya teman-temanku Angel dan Becca, ga jadi ajojing deh kalian gara-gara saya.Phuket Hari KelimaHari itu rasanya kami malas sekali mau keluar hostel, karena cuaca Patong sedang panas luar biasa! Kami minta extend 1 malam lagi dan kami beruntung dipindahkan ke sebuah kamar luas dengan double bed plus extra bed, TV, kulkas, kamar mandi di dalam, lemari besar, dan meja rias. Kami bisa jumpalitan di kamar segede ini! Ditambah lagi kamar baru kami ini menghadap langsung ke jalan, dan jendelanya bisa dibuka lebar-lebar, sejuk deh. Berapa harganya? Hanya Rp 55.000/orang lho, bahkan lebih murah dari kamar kami sebelumnya!Pukul 13.00 siang kami keluar menuju Patong Otop Market, pusat belanja baju dan suvenir untuk oleh-oleh. Setelah mengaduk-aduk pasar, kami mendapatkan kaos gambar gajah khas Thailand dengan harga THB 100, gemas rasanya kalau ingat tadi malam kami sempat dimaki-maki pedagang di pasar yang satunya itu. Kami beranjak ke 7Eleven mencari makan siang. Sore nya, kami ke Patong Beach yang sore itu berawan. Saya dan Becca sibuk main ombak, sementara Angel tertidur pulas di atas pasir. Niatnya sih pengen lihat sunset di Patong, tapi cuaca yang mendung menghalangi niat kami. Akhirnya kami main sepak bola bersama pemuda-pemuda lokal warga asli Thai.Malam harinya, kami makan yang aneh-aneh lagi di Banzaan Night Market. Kami tidak menginjak Bang La Road lagi, bukan karena kapok, tapi karena persediaan Baht kami mulai menipis! Akhirnya kami hanya memutari Jungceylon Mall sambil beli beberapa produk Boots yang notabene tidak ada di Indonesia. Di perjalanan pulang ke hostel, Angel dan Becca mampir ke tukang buah durian.Phuket Hari KeenamPagi-pagi pukul 06.00, kami sudah menggulung seprai dan siap-siap. Bukan mau check out, melainkan mau pindah tidur ke pinggir pantai, mumpung ini hari terakhir di Patong! Berbekal Popmie, air mineral, dan sebotol bir Chang yang kami beli di minimarket 24 jam, kami menyusuri Bang La Road yang tiba-tiba berubah sangat sepi sekali di pagi hari. Ya, suasananya berbeda 180 derajat dengan malam hari. Tiba di pantai pun, masih sepi. Hanya ada beberapa bule yang jogging dan jalan-jalan. Kami mencari pasir yang teduh dan mulai menggelar seprei dan bekal kami. Sarapan popmie dengan bir pagi-pagi, setelah itu kami tidur.Pukul 11.00 siang, matahari mulai terik dan membangunkan tidur pulas kami. Kami pulang ke hotel, mandi, packing dan check out. Berhubung airport transfer kami datang pukul 16.00 sore, kami pun menitipkan koper dan ransel kami di lobi, kemudian ke Banzaan Food Court untuk makan siang. Masih ada waktu sebentar, kami sempat membelanjakan Baht terakhir kami di Jungceylon.Minivan penjemput akhirnya tiba di hostel pukul 16.00. Minivan mulai bergerak meninggalkan keramaian Patong di sore yang cerah itu. Kami melewati garis pantai Patong yang sore ini airnya berwarna biru keemasan tertimpa cahaya matahari sore. 6 Hari terasa sangat singkat. Dalam hati saya berjanji, saya akan menginjakkan kaki kembali di pasir pantai Patong ini. Good Bye Phuket, see you in my next trip!

BERITA TERKAIT
BACA JUGA