Nyang-nyang, Pantai Perawan Tanpa Penghuni di Bali
Jehan Khaleda - detikTravel
Rabu, 19 Des 2012 14:18 WIB
Jakarta - Pantai-pantai cantik di Bali, sudah banyak dikenal orang. Tapi ternyata, masih ada pantai perawan tak berpenghuni yaitu Pantai Nyang-nyang. Pantai ini bisa menjadi destinasi asyik saat libur panjang di Pulau Dewata nanti.Bali, pulau seribu pura ini masuk dalam 10 pulau terbaik di dunia versi TripAdvisor. Tak heran, eksotisme setiap inci dari tubuh pulau ini memiliki pesona yang tak ada habisnya untuk dijelajahi. Ditambah dengan kearifan lokal yang masih terjaga, menempatkan Bali di peringkat 2 pulau terbaik di dunia.Daya tarik Pulau Dewata ini mampu menjadi magnet bagi para kaum globetrotter. Siapa yang tak mengenal pantai-pantai tercantik di Bali? Saya yakin Anda pasti sudah menyusuri setiap jengkal pantai yang populer seperti Kuta, Seminyak atau Tanah Lot. Tapi saya bertaruh, beberapa maniak pantai belum banyak yang mengintip pantai ini, yaitu Pantai Nyang-Nyang.Pantai Nyang-Nyang terletak di selatan Bali, tepatnya di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, dekat dengan Pura Luhur Uluwatu. Anda dapat menemukan pantai ini dengan mudah. Menghadap tepat ke Samudra Hindia dan dibentengi tebing kokoh yang tinggi, membuat pantai ini jarang dijamah manusia.Pertama kali datang ke Pantai Nyang-Nyang, saya hanya melihat dari atas Puri Bali Villas. Saat itu saya berkunjung untuk menikmati makan siang di restorannya. Dari sini, sejauh mata memandang hanya biru lautan yang menyapa. Terpesona dengannya, membuat saya ingin turun tebing. Saya pun bertekad untuk menuruni 555 anak tangga untuk mancapai pantai ini.Aroma air laut seperti membius sistem motorik saya. 10 Menit berlari menuruni tangga, saya harus hati-hati menapaki tangga yang berselimut lumut. Kemarau menyisakan ranting, pasrah terinjak karena rapuh. Usai membelah pepohonan rindang di tepi jalan setapak, sampailah saya di pantai sepi tak bertuan ini.Tepat di tangga terakhir, saya melewati padang rumput yang cukup luas. Beberapa sapi Bali mendamba rumput, entah milik siapa. Sejenak mata tertuju pada timbunan kotoran sapi-sapi itu. Tampak beberapa jamur ramai tumbuh. Ini rupanya magic mushroom yang digemari turis asing di Bali.30 Meter dari hamparan tanah berumput tadi, deru ombak menderu girang menyambut saya. "What a beautiful beach!"Air laut sebiru langit nan jernih tak berhenti bernyanyi bersama sang bayu. Keindahan alam pantai ini di bingkai dengan hamparan pasir putih yang halus. Seperti halusinasi tapi nyata dalam pandangan dan Nyang-nyang benar-benar perawan.Kontur di sisi kanan pantai berbatu karang, sedangkan pasir putih memanjang di sebelah kiri. Bayangkan pantai ini milik Anda. Sepi, hanya ada jejak kaki saya. Tidak ada sampah. Hanya ada satu gubuk kecil, entah siapa yang membuatnya.Saya sangat menikmati kemerdekaan sebagai penikmat pantai di sini, "There is no one here, so live free or die! I'm gonna dance in the sand, beach!"Saya pun penuh gairah ingin mencumbu tubuh pantai ini. Membuai raga, bertelanjang di atas pasir lembut dengan air dangkal dan ombak menderu di depan mata. Inilah surga!Sekelompok burung terbang, sesekali hinggap di karang laut mencari ikan. Pantai Nyang-nyang memiliki ombak yang sempurna. Sangat ideal untuk surfer profesional. Ingat, hanya untuk yang sudah profesional. Selain ombaknya yang besar, jarak habisnya ombak menghantam karang dangkal terlalu dekat untuk para surfer yang masih pemula. Punya nyali untuk berselancar di sini? Datanglah ke Pantai Nyang-nyang dan lihat apakah Anda bisa menaklukkan ombaknya.Heningnya alam seolah memaksa lupa pernah dicampakkan rasa lelah, buah rutinitas sehari-hari. Saya puas berdansa dengan gelombang samudera di Pantai Nyang-nyang. Tepat pukul 18.00 Wita, tampak matahari lelah menemani siang dan malam segera tiba. Ombak yang tadinya ramah beranjak ganas.Tadinya merentang angan untuk mengabadikan mega sunset di tepi pantai. Tapi menyadari ratusan anak tangga menanti untuk menuju atas tebing membuat hasrat hanya bisa saya pendam. Sukma melayang ke angkasa, ini titik ketidakpuasan dalam darah dan daging. Suatu hari nanti saya pasti akan kembali ke sini dan bermalam di bibir pantai, "Yeah, because life is a beach!"
(dtvl/dtvl)











































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Gratis Garuda Indonesia Berubah Mulai 1 September 2026
Viral Turis Lokal Diusir dari Pantai Bali, Pemilik Warung Klarifikasi
Curhatan Wisatawan Situ Bagendit: Tempatnya Nyaman, tapi Apa-apa Bayar