Jakarta - Menikmati bulan Ramadhan di negeri orang bisa saja mendatangkan pengalaman pribadi yang mengasyikan. Seperti halnya saya yang harus melewati Ramadhan di Hanoi, Vietnam. Banyak kejadian seru yang tak akan pernah terlupakan.Berlibur di Kota Hanoi, Vietnam saat bulan Ramadhan menjadi kenangan untuk saya tahun ini. Selama berlibur, saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah saat pagi hari atau sore menjelang berbuka puasa.Ya, keadaan ini dikarenakan cuaca Kota Hanoi yang cukup panas di awal bulan Agustus. Ditambah lagi, puasa di kota ini lebih panjang satu jam ketimbang di Jakarta.Beberapa destinasi wisata pun menjadi target kunjungan saya kali ini. Beberapa di antaranya sudah masuk dalam daftar, yaitu Hoankiem Lake, Ngoc Sohn Temple, That Long Water Puppet Theatre, Ha Noi Old Quarter, dan berbuka puasa gratis di Masjid Al Noor.Perjalanan di Hanoi pada pagi hari, saya isi dengan berkunjung ke kompleks Ho Chi Minh di sebelah barat Hoan Kiem Lake. Di sini terdapat Bao Tang Ho Chi Minh atau Museum Ho Chi Minh yang saat ini menjadi tempat diadakannya pameran untuk memperingati HUT ke-122 Paman Ho.Β Di sini Anda dapat melihat sejarah perjuangan Paman Ho dalam menentang imperialisme Prancis. Di kawasan ini pulah terdapat Istana Presiden Vietnam dan juga rumah Paman Ho sewaktu menjabat menjadi presiden sampai meninggal pada 1969.Β Kemudian, yang menjadi pusat perhatian di kawasan ini adalah Mousoleum Ho Chi Minh yang menjadi tempat ribuan rakyat Vietnam dan wisatawan asing memberikan penghormatan kepada paman Ho. Mereka antre dengan tertib untuk memeberikan penghormatan kepada Presiden pertama negeri itu yang jenazahnya dibalsem dan dipamerkan dalam peti kaca.Selanjutnya, untuk ngebuburit saya menuju sebuah danau tempat berkumpulnya seluruh penduduk Vietnam. Hoankiem Lake merupakan sebuah danau luas yang berada di jantung Kota Hanoi. Di tempat ini, wisatawan bisa melihat kehidupan sehari-hari penduduk Hanoi.Setiap sore banyak wisatawan dan penduduk asli Hanoi yang bersantai di tepi danau ini. Sementara itu, penjaja makanan dan minuman ataupun Β buah-buahan berkeliling sambil menawarkan dagangannya. Asyiknya gadis-gadis Vietnam yang langsing ini masih setia dengan pakaian khas dan topi caping yang disebut Non La. Selain itu dagangan mereka bawa dengan menggunakan sepeda atau pikulan yang khas.Selain itu, di bagian utara danau ini terdapat sebuah pagoda tua bernama Ngoc Sohn Temple. Pagoda ini juga sangat ramai oleh wisatawan. Untuk sampai ke sana pelancong harus melewati sebuah jembatan kayu yang dicat merah.Β Di jalan yang mengelilingi danau ini terdapat beragam transportasi yang lalu lalang. Ada bus, taksi, kendaraan pribadi, dan yang paling banyak merajai jalan adalah sepeda motor. Namun yang paling menarik perhatian saya adalah Cyclo atau becak Vietnam yang dimodifikasi dengan sepeda.Selanjutnya, persis di seberang Ngoc Sohn Temple terdapat That Long Water Puppet Theatre. That Long Water Puppet Theatre merupakan gedung yang dibangun pada tahun 1969-an. Setiap harinya, gedung ini mengadakan empat kali pertunjukan wayang air.Pertunjukan ini merupakan kesenian tradisional dari Vietnam bagian utara dan sudah ada sejak seribu tahun lalu. Saya sempat menyaksikan pertunjukan selama kurang lebih satu jam dengan membeli tiket seharga 100 ribu Dong atau sekitar Rp 48 ribu.Selepas menonton wayang air, kini tiba waktunya untuk melihat-lihat Ha Noi Old Quarter. Destinasi yang satu ini merupakan kawasan kota tua yang juga sudah ada sejak lebih dari seribu tahun. Keadaannya tetap menarik karena di kawasan ini terdapat jalan-jalan dengan nama yang khas dan sesuai dengan produk yang dijual. Beberapa nama jalan yang saya ingat, antara lain Hang Ga, Hang Bo, dan tentu saja Hang Luoc, dimana masjid Al-Noor berada.Kemudian dengan naik cyclo, sayapun menuju Masjid Al-Noor untuk menantikan azan magrib dan berbuka puasa bersama umat Muslim Hanoi serta komunitas Islam dari berbagai negara. Di depan masjid sudah ada beberapa spanduk yang menyatakan kegembiraan komunitas Islam Hanoi dalam menyambut bulan Ramadhan tahun ini.Tibalah saatnya Magrib, ketika suara azan mengalun dengan merdu seluruh jamaah dengan segera menyantap tajil. Tajil yang diberikan secara cuma-cuma ini, terdiri atas kurma, air putih, jus, serta susu dalam kemasan.Β Setelah salat magrib berjamaah, acara berbuka dilanjutkan dengan hidangan lengkap dengan menu Timur Tengah sepeti nasi basmati, kebab, chicken tika, salad, roti, dan buah-buahan. Serunya lagi, tetangga di dekat masjid yang tidak berpuasa juga ikut menikmati sajian berbuka ini bersama-sama.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru