Serunya Liburan Bareng Happy Holiday ke Lampung
Rabu, 01 Feb 2012 17:50 WIB
Kunkunaprisakti
Jakarta - Aku bersama dengan ketiga teman, yaitu Sasa, Elga, dan Rere memang sangat beruntung. Kami berkesempatan jalan-jalan ke Lampung bersama dengan Tim Happy Holiday. Akhirnya hari besar itu pun tiba. Kami berangkat setelah semuanya kumpul bersama tim Haphol. Sebelum jalan aku pun bertanya, "Kita ke Lampungnya naik pesawat?" tawa yang beraroma ejekan pun mengiringi pertanyaan itu. Aku merasa sangat tertarik karena ini merupakan pertama kalinya aku naik peswat, lho. Baru saja merasakan tidur di pesawattak lama kemudian sudah dibangunin saja. Ternyata Jakarta-Lampung itu cuma sebentar. Dari Bandara kami langsung menuju ke resort yang bakal kami tempati selama di Lampung. Begitu masuk resort, perasaan lelah pun menguasai diri ini. Ingin rasanya tidur menikmati indahnya resort itu karena resort tersebut terletak di sebelah pantai. Bau laut, pemandangan Indah, pohon-pohon kelapa yang berjoget mengikuti tiupan angin, sungguh membuatku merasa nyaman. Namun, sayang kami harus shooting untuk episode Happy Holiday.Hal pertama yang kami lakukan di sana adalah outbond yang juga termasuk dalam fasilitas resort tersebut. Sebenernya outbond itu simple banget, hanya skywalk terus flyingfox. Tapi, tetap saja kami nggak berani soalnya takut dengan ketinggian. Tapi, akhirnya kami memaksakan diri karena show must go on!Selesai outbond kami merasa lebih segar. Selanjutnya, kami harus menaiki Banana Boat. Sebelum naik, tim HapHol menyuruh Elga untuk memegang kamera dan tim juga memasang kamera di kepalaku supaya kamera menyorot seperti sudut pandang mataku.Naiklah kami ke Banana Boat itu. Maju pelan-pelan sampai akhirnya kami mencapai kecepatan "2jt km/jam" dan "Byuuuurrr...!" Sang pengendara boat menjatuhkan kami semua ke laut. Semuanya tertawa menikmati ceburan ini, tapi aku merasa panik karena sama sekali tidak merasakan adanya kamera di kepalaku. Mungkin saking kerasnya pas jatuh, kamera di kepalaku pun ikut terhempas. Saya panik, dan tim Haphol juga panik. Selama kurang lebih sejam kami melakukan pecarian terhadap kamera tersebut tapi tetap tidak ketemu.Semua tim menghiburku dengan berkata, "Udah nggak apa-apa itu musibah." Berhubung aku orangnya nggak enakan, minat untuk kembali bermain jadi jelek.Akhirnya sesi bermain boat pun selesai. Mood-ku berangsur membaik setelah di cek ke puskesmas 24 jam. Walaupun sejak itu tim Haphol menjulukiku sebagai siluman kamera. Ternyata acara main-mainnya belum selesai, tim mengajak kami bersepeda ke pantai yang ada di atas desa. Kami bersepeda sepanjang 200 meter ke atas, masih banyak rumah-rumah dan penduduk desa yang lagi "hang out" di teras rumahnya. Tapi, selepas 200 meter itu, kanan kiri kami hanya ada pepohonan dan di depan juga ada jalan rusak yang nggak di aspal. Akhirnya, sampai juga kami di pantai itu. Gapura selamat datangnya sudah rusak, kotor, seperti tidak pernah ada orang yang datang ke situ. Tapi tenang, ini bukan cerita horor. Dari gapura, kami harus masuk lagi kurang lebih sejauh 100 meter. Wow... pemandangan pantai yang terbengkalai ini ternyata sangat indahdan mampu memanjakan mata. Sumpah, berada di pantai itu, seperti bukan sedang berada di Indonesia. Setelah bertanya dengan guide kenapa pantai itu di tutup, ternyata pantai itu memakan banyak korban dengan ombak besarnya. Tidak heran, ombaknya emang besar banget.Mendengar kata "memakan korban" dan waktu yang sudah menunjukan jam 6 sore lewat, dan mengingat di sepanjang perjalanan kanan dan kiri hutan kami jadi ingin cepat-cepat balik ke resort. Akhirnya kami pun sampai di resort dan istirahat untuk persiapan melakukan kegiatan esok harinya. Karena katanya besok kami akan pergi ke Gunung Krakatau.Penasaran dengan perjalanan kami? Pantengin terus ya, cerita perjalanan kami di detiki.travel!












































Komentar Terbanyak
Duh, Jembatan Ikonik Suramadu Jadi Sasaran Pencurian, 480 Kg Besi Raib
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
DPR Pertanyakan Harga Tiket Pesawat Mahal Jelang Lebaran, Aneh Bin Ajaib