Jakarta - Berkesempatan mengunjungi daerah "Chinatown" di kawasan Jakarta Kota Imlek kemarin? Meliputi Petak Sembilan hingga kawasan niaga Glodok (dahulu terkenal dengan Pancoran) memiliki cerita tersendiri. Salah satu hal yang membuat kawasan Chinatown ini terlihat luar biasa adalah kentalnya jejak asimilasi budaya antara budaya Tionghoa dengan budaya lokal. Sebagai contoh, ada sebuah bangunan yang agak sulit menebaknya. Ini gereja atau kelenteng (vihara)? Bagi yang sudah pernah mengunjunginya, tentu tahu bahwa ini adalah gereja dengan nuansa Tionghoa.Struktur bangunan di kawasan ini juga berbeda dengan kawasan lainnya, baik di Indonesia maupun di China. Adanya perpaduan harmonis antara arsitektur lokal, Hindia Belanda, dan Tionghoa dalam tiap bangunannya menjadi daya tarik tersendiri kawasan ini. Struktur bangunan kokoh ala pemerintahan kolonial dengan penutup atap untuk daerah tropis ini semakin terlihat manis dengan sentuhan ornamen Tionghoa yang hadir pada setiap bangunannya.Asimilasi dan akulturasi budaya ini tidak berhenti sampai di sini saja. Adanya antrian yang sangat panjang di pelataran vihara ini menunjukkan bahwa penduduk lokal khususnya yang tidak mampu sudah sangat mengenal budaya bagi-bagi angpao ketika imlek. Melihat keadaan ini, sebenarnya hati akan merasa semakin miris dan sedih.Kemajemukan penduduk di Indonesia, khususnya di Jakarta ini merupakan aset dalam aspek sosial-budaya bangsa kita. Sebagai masyarakat Indonesia sebaiknya kita juga ikut memelihara kemajemukan itu dengan memupuk kembali toleransi dengan saling menghormati antar kelompok masyarakat dengan segala perbedaan yang ada. Tentunya, hal ini sudah lama hilang di wilayah perkotaan besar seperti Jakarta.
(travel/travel)