Mi Balap, Sarapan Cepat Saji ala Medan
Mayang Anggarani - detikTravel
Kamis, 09 Feb 2012 08:35 WIB
Jakarta - Fast food identik dengan burger, ayam goreng, pizza, dan beragam kuliner ala barat lainnya. Padahal, sistem penyajian cepat saji ini juga dimiliki oleh Indonesia. Fast food bahkan digunakan oleh sebuah kedai di kota Medan, pencipta sarapan cepat saji yang terkenal nikmat.Mi Balap Jalan Darat Medan sudah menjadi situs budaya kuliner masyarakat Sumatera Utara, khususnya kota Medan. Selama lebih dari tiga dekade, kedai ini menyediakan kehangatan sarapan sederhana namun lezat dalam waktu singkat.Penggunaan kata Balap ini mengacu pada kecepatan penyajian hidangan yang dipesan pembeli. Menu yang tersedia hanya 3 variasi mi, yaitu Kwetiaw, Bihun, atau Mi biasa. Begitu sederhananya hingga tidak ada pilihan isian atau topping. Dengan telur atau tanpa telur, itu saja.Β Tetapi seperti banyak mahakarya di dunia, yang paling sederhanalah yang menunjukkan kehebatannya.Untuk memesan sebuah hidangan, pembeli harus mengamati cara pelanggan regularnya. Ci Mei Mei sebagai penerus usaha ini dari Oma-nya menjalankan sebuah sistem yang efektif dan efisien. Ada metode tersendiri, mirip cara kita memesan kopi di Starbucks!Untuk mengetahui cara pemesanan dan metode unik penyajiannya dapat dilihat disini.Saya sendiri sebagai penggemar selama 3 tahun terakhir, baru bulan lalu berkesempatan mengunjungi kedainya langsung. Sebelum dapat menentukan pilihan, saya perhatikan dahulu bagaimana pembeli lain menentukan pilihannya.Β Untuk rasa tidak perlu diragukan lagi kelezatannya. YangΒ lebih mengagumkan adalah kualitas produk akhirnya. Sebelumnya, saya mencicipi kwetiaw goreng balap sebagai oleh-oleh dari Medan. Setelah melalui sekitar 4 jam perjalanan di pesawat dan mobil ke Jakarta, lalu dimasukkan ke lemari pembeku selama beberapa minggu.Suapan pertama kwetiaw goreng yang dicairkan via micorwave laluΒ dihangatkan dengan wajan diatas kompor, membuat saya jatuh cinta.Saya suka rasa gurih yang tidak berlebihan, saya suka sensasi sedikit smokey dari tumisan bawang putih yang sedikit gosong. Tetapi saya cinta mati dengan kualitas kwetiawnya yang lebih tipis dari biasanya, nyaris transparan bahkan. Bila dibayangkan, seharusnya konsistensi kwetiaw tersebut sudah hancur lebur karena melewati pembekuan dan pemanasan berulang.Ternyata oh ternyata, tidak sama sekali. Baik mi atau kwetiaw tetap kenyal sekaligus ringan.Β Dapatkah kawan-kawan bayangkan bagaimana gembiranya saya saat berhadapan dengan sepiring kwetiaw campur bihun goreng yang baru selesai dimasak mengepul didepan saya?Β Hampir saja saya menitikkan air mata saking terharunya. Akhirnya saya bisa merasakan hidangan ini langsung dari penggorengan.Β Untuk suapan pertama saya tidak ingin menambah sambal. Saya ingin menikmati rasa asli masakan tersebut. Keharuman bawang putih yang menjadi bumbu dasarnya sungguh terasa.Begitu kwetiaw-bihun tersebut hinggap dilidah, tidak perlu dikunyah lagi langsung hilang begitu saja. Meninggalkan rasa gurih, sedikit sensasi asap dan sentuhan manis yang mengesankan.Suapan berikutnya saya tambahkan sambalnya hingga maksimal. Sambal ini juga senjata rahasia sang penjual. Rasanya sangat berbeda dengan sambal mi goreng dari restoran manapun. Bahkan pembeli hanya diberikan sambal dalam mangkuk mini untuk sambalnya. Bila suka pedas, harus meminta tambahan mangkuk mini tadi pada pelayannya.Ledakan rasa pedas, gurih, gigitan asam dan keseimbangan indah antara asin dan manis serta tekstur kwetiaw bihun yang masih bisa digigit namun langsung lumer dilidah melebihi ekspektasi saya.Sahaja kaya rasa, sedap!Mi balap, tidak hanya cepat disajikan, cepat pula dihabiskan.Β Oh ya, tidak lupa kami memesan dua puluh bungkus untuk dibawa ke Jakarta. Sekarang sudah tersusun rapi menjadi penghuni lemari beku (freezer) kami.Β catatan: Saduran bebas dari artikel saya di No Recipe Just Story.Β Β
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru