Jakarta - Berada di bandara dan bertemu banyak bule yang menggunakan coat dan boots. “Wooww, saya sedang di Paris” itulah kesan pertama yang saya dapat ketika menginjakkan kaki di Mohammed V Airport, Casablanca.Casablanca, kota yang cukup ramai namun tidak begitu sibuk seperti Jakarta. Hanya sedikit gedung pencakar langit yang terlihat di pusat kota. Selebihnya rumah-rumah penduduk berupa gedung-gedung yang sudah cukup tua. Mayoritas penduduknya beragama muslim dan mereka menggunakan dua bahasa. Namun sayang sekali karena kedua bahasa tersebut adalah bahasa Arab dan Perancis. Bukan bahasa Inggris.Cuaca yang cukup dingin di bulan November tak menghalangi saya untuk tetap berjalan-jalan menikmati segarnya cuaca dengan hamparan langit biru di Casablanca. Shalat di Masjid Hassan II, berjalan di tepi pantai, berbelanja di Old Medina Market dan duduk di cafe sambil menikmati secangkir teh hangat asli Maroko.Salah satu yang cukup unik disini adalah ketika kita menaiki taksi. Jangan berharap bahwa taksi di Casablanca akan sama seperti di Indonesia. Taksi disini tanpa AC dan berupa mobil-mobil tua. Petit Taxi namanya. Jangan bingung dan jangan takut jika tiba-tiba taksi berhenti dipinggir jalan dan mengangkut penumpang lain. Ya, taksi di Casablanca juga tidak memakai argo, mereka menerapkan sistem share. Untuk tarifnya, nanti sang sopir yang akan menentukan, tergantung dari jaraknya. Sudah pasti ongkosnya jadi lebih murah, dan bisa saja kita mendapatkan teman baru di dalam taksi.Penduduk Casablanca cukup ramah, sayangnya saya tidak bisa berbincang-bincang dengan mereka karena kendala bahasa. Hanya sedikit orang yang saya temui yang bisa berbahasa Inggris. Bahkan petugas hotel pun selalu menyapa saya dengan bahasa Perancis.
(travel/travel)
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru
Sebelum Bikin Patung Macan Putih Gemoy, Seniman di Kediri Sempat Mimpi Aneh