Gang Pertenunan, Samarinda Sebrang

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Halida Agustini|1508|KALTIM 2|22

Gang Pertenunan, Samarinda Sebrang

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Senin, 08 Agu 2011 13:20 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Jakarta -
Dihari kedua di Samarinda ini kami manfaatkan waktu untuk mampir sejenak melihat pertenunan kain khas Samarinda. Di Gang Pertenunan, RT 02, Samarinda Sebrang. "Masyarakat disini berjumlah 300KK, dan mayoritas adalah penenun kain Samarinda" Kata ketua RT yang rela menemani kami berkeliling kampung ini. Di kampung ini masyarakatnya mayoritas sudah menggunakan mesin kayu yang telah diberikan oleh suatu instansi perusahaan pada tahun 2007, namun masih ada juga warga yang masih menggunakan alat tenun tradisional.

Kami berhendi dibeberapa rumah warga, untuk bertanya-tanya dan mengabadikan fotonya untuk diabadikan. "Zaman sekarang sudah jarang anak muda yang ingin belajar menenun, yaaa hanya yang tua-tua inilah yang masih bertahan" celetuk salah satu ibu yang kami temui. Memang tragis, disaat budaya bangsa kita yang terancam diambil orang, kita sendirilah yang tidak pernah menghargainya. Tapi lain lagi dengan salah seorang anak kelas dua SD yang kami temui, kaki dan tangannya terampil mengolah benang-benang berwarna ungu dan putih tersebut agar menjadi sebuah sarung yang elok. Ibunya yang sering melatihnya berkata,"cuma ini yang dapat saya lakukan agar budaya kain tenun khas Samarinda ini tidak hilang.."

Untuk menjadi selembar kain, dibutuhkan waktu yang cukup panjang dan proses yang lama. Mulai dari pemintalan benang, pewarnaan benang, penyusunan warna benang hingga mulai bisa dibuat motif pada mesin tenun itu sendiri. Soal harga, memanglah mahal, sebanding dengan lawa waktu, motif dan warna yang mereka buat. Tapi di kampung ini kita akan mendapatkan harga yang khusus dibandingkan dengan harga-harga yang dipajang di etalase toko. Untuk kain Samarinda yang menggunakan mesin kayu modern, warga biasanya mematok harga lebih murah dibandingkan dengan yang menggunakan alat tradisional, sekitar Rp 175000 hingga Rp 200000, sedangkan kain yang menggunakan alat tradisional dipatok dengan harga Rp 350000 hingga Rp 800000.Tentunya, ada harga, ada kualitas.

Β 

(travel/travel)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads