Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hanindita Ratna Asti|314|NTB|21

Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Kamis, 11 Agu 2011 13:30 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
Menyimak penjelasan Mamiq di beruga
Bersama Mamiq, pemangku adat Suku Bayan
Komplek pedaleman yang sederhana
Mesjid kuno bayan yang diperkirakan ada sejak 300 tahun sebelum masehi
Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan
Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan
Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan
Suku Bayan, Mempertahankan Adat Leluhur Tanpa Menolak Pembaruan
Jakarta - Suku Bayan merupakan salah satu kelompok masyarakat yang di tengah segala modernisasi dan pembaruan masih memegang teguh prinsip hidupnya. Bukan berarti menolak pembaruan, mereka hidup berdampingan dengan pembaruan. Desa Bayan terletak di Kabupaten Lombok Utara. Beruntung ketika kami berkunjung (10 Oktober 2010), kami dapat berbincang langsung dengan Raden Wira Anom, pemangku adat setempat. Panggilan hormat untuk beliau adalah Mamiq (Mami'). Mamiq mengajarkan kami banyak hal tentang kearifan masyarakat Bayan.

Suku Bayan memegang teguh ajaran leluhur mereka yang disebut "metu telu", seperti dalam bahasa jawa artinya keluar tiga. Yaitu sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). "Selain itu sebagai manusia kita juga berasal dari tiga, yaitu Ibu, Bapak dan Tuhan." Lanjut Mamiq. 

Masyarakat Bayan juga memaknai hidup. Setiap tahap kehidupan diupacarakan, dari saat bayi lahir, berusia 8 hari, lalu khitanan, menikah, hingga 1000 hari setelah wafat. Kelestarian alam juga dipelihara betul. Sebelum musim tanam, masyarakat akan bersama-sama membersihkan saluran air, lalu mengadakan upacara adat di mata air yang terdapat di hutan adat. Ketika akan menanam benih, ketika musim panen tiba semua diadakan upacara adat yang sarat makna. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan. Jika kedapatan menebang pohon, akan didenda satu ekor kerbau.

Banyak yang menyangka metu telu adalah suatu ajaran agama. Mamiq menegaskan kepada kami "Ini bukan agama, melainkan adat. Adat dan agama tidak boleh bertentangan. Tata tertib itulah adat." Mereka mngusung adat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam yang mereka anut. Perayaan adat yang besar yang sejalan dengan ajaran agama antara lain saat idul fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad. Tetapi setiap perayaan tidak akan memberatkan warga, karena masyarakat saling membantu. Saling mengirimkan kebutuhan untuk memasak dan mengerjakan semuanya bersama-sama. 

Dulu Kerajaan Bayan dipimpin oleh seorang wanita dengan pusat pemerintahan di Bayan Agung, Bayan Beleq (baca: Bayan Ble'). Beruntung kami dapat mengunjungi peninggalan pedaleman (atau keraton) bayan dan mesjid kuno bayan. Hidup masyarakat bayan sederhana dan mengedepankan kebersamaan, tercermin dari bangunan peninggalannya. Pedaleman Bayan merupakan satu komplek yang berisi beberapa bangunan beruga (bale-bale) dan bangunan untuk menyimpan pusaka. Komplek ini dipagari dengan anyaman bambu, bangunan beratapkan alang-alang dan terbuat dari kayu yang dibangun tanpa paku. Dalam komplek pedaleman, terdapat empat buah beruga yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Beruga Agung yang berfungsi sebangai tempat musyawarah atau disebut gundem, yang mencirikan sikap kebersamaan suku Bayan. Selain itu setiap rumah wajib memiliki beruga untuk menjamu tamu. "Tidak boleh tamu duduk di bawah, harus di atas, di beruga ini." Ujar Mamiq. 

Mesjid Kuno bayan terletak di atas bukit tak jauh dari wilayah keraton. Mesjid ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Mesjid ini pun sangat sederhana, berlantai tanah, beratap bambu dan alang-alang dan berdinding anyaman kayu. Mesjid hanya dibuka untuk upacara peringatan adat tertentu. 

Terlepas dari segala tradisi yang kental dan dipegang teguh, mereka tidak menolak pembaruan. Mereka hidup modern dan tidak menutup diri. Sebagian masyarakat masih bekerja mencocok tanam, tetapi ada pula yang menjadi pegawai negri sipil dan guru. Belajar memaknai hidup dari Mamiq sungguh membuka mata kami, dari kearifan dan keserhanaan prinsip hidup masyarakat setempat. Manusia dan alam hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat tidak menolak pembaruan, tanpa melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan. (HRA)

 

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads