Suku Bayan memegang teguh ajaran leluhur mereka yang disebut "metu telu", seperti dalam bahasa jawa artinya keluar tiga. Yaitu sumber kehidupan di dunia berasal dari yang tiga, yang melahirkan (seperti manusia), yang bertelur (seperti unggas), dan yang tumbuh (seperti tanaman). "Selain itu sebagai manusia kita juga berasal dari tiga, yaitu Ibu, Bapak dan Tuhan." Lanjut Mamiq.
Masyarakat Bayan juga memaknai hidup. Setiap tahap kehidupan diupacarakan, dari saat bayi lahir, berusia 8 hari, lalu khitanan, menikah, hingga 1000 hari setelah wafat. Kelestarian alam juga dipelihara betul. Sebelum musim tanam, masyarakat akan bersama-sama membersihkan saluran air, lalu mengadakan upacara adat di mata air yang terdapat di hutan adat. Ketika akan menanam benih, ketika musim panen tiba semua diadakan upacara adat yang sarat makna. Penebangan pohon tidak boleh dilakukan. Jika kedapatan menebang pohon, akan didenda satu ekor kerbau.
Banyak yang menyangka metu telu adalah suatu ajaran agama. Mamiq menegaskan kepada kami "Ini bukan agama, melainkan adat. Adat dan agama tidak boleh bertentangan. Tata tertib itulah adat." Mereka mngusung adat tanpa meninggalkan ajaran agama Islam yang mereka anut. Perayaan adat yang besar yang sejalan dengan ajaran agama antara lain saat idul fitri dan saat Maulid Nabi Muhammad. Tetapi setiap perayaan tidak akan memberatkan warga, karena masyarakat saling membantu. Saling mengirimkan kebutuhan untuk memasak dan mengerjakan semuanya bersama-sama.
Dulu Kerajaan Bayan dipimpin oleh seorang wanita dengan pusat pemerintahan di Bayan Agung, Bayan Beleq (baca: Bayan Ble'). Beruntung kami dapat mengunjungi peninggalan pedaleman (atau keraton) bayan dan mesjid kuno bayan. Hidup masyarakat bayan sederhana dan mengedepankan kebersamaan, tercermin dari bangunan peninggalannya. Pedaleman Bayan merupakan satu komplek yang berisi beberapa bangunan beruga (bale-bale) dan bangunan untuk menyimpan pusaka. Komplek ini dipagari dengan anyaman bambu, bangunan beratapkan alang-alang dan terbuat dari kayu yang dibangun tanpa paku. Dalam komplek pedaleman, terdapat empat buah beruga yang memiliki fungsi sendiri-sendiri. Salah satunya adalah Beruga Agung yang berfungsi sebangai tempat musyawarah atau disebut gundem, yang mencirikan sikap kebersamaan suku Bayan. Selain itu setiap rumah wajib memiliki beruga untuk menjamu tamu. "Tidak boleh tamu duduk di bawah, harus di atas, di beruga ini." Ujar Mamiq.
Mesjid Kuno bayan terletak di atas bukit tak jauh dari wilayah keraton. Mesjid ini diperkirakan sudah ada sejak 300 tahun sebelum masehi. Mesjid ini pun sangat sederhana, berlantai tanah, beratap bambu dan alang-alang dan berdinding anyaman kayu. Mesjid hanya dibuka untuk upacara peringatan adat tertentu.
Terlepas dari segala tradisi yang kental dan dipegang teguh, mereka tidak menolak pembaruan. Mereka hidup modern dan tidak menutup diri. Sebagian masyarakat masih bekerja mencocok tanam, tetapi ada pula yang menjadi pegawai negri sipil dan guru. Belajar memaknai hidup dari Mamiq sungguh membuka mata kami, dari kearifan dan keserhanaan prinsip hidup masyarakat setempat. Manusia dan alam hidup berdampingan dengan damai. Masyarakat tidak menolak pembaruan, tanpa melupakan leluhur dan asal-usul kehidupan. (HRA)











































Komentar Terbanyak
Gunung 'Bahtera Nuh' mulai Dibor
AS Tutup Penerbangan Iran, Irak Pusing Tujuh Keliling
Makin Gokil! Paspor Malaysia Jadi yang Terkuat Kedua di Dunia, RI ke-56