Segitiga Emas India: Taj Mahal, Lambang Cinta Abadi
Reza Arismunandar - detikTravel
Rabu, 24 Agu 2011 16:24 WIB
Jakarta - "Ke India? Mau ngapain? Nggak ada negara lain apa untuk dikunjungi?" Itu pertanyaan-pertanyaan yang timbul setelah mendapatkan tiket murah ke New Delhi melalui penerbangan yang katanya 'semua orang bisa terbang' :) India mungkin berada di tempat paling rendah di daftar 'travel' saya (mungkin juga kebanyakan orang-orang). Bahkan di buku Lonely Planet pun, India merupakan salah satu buku yang paling banyak 'do's and don't'-nya. Dari mulai tempat yang tidak bersih, sampai orang-orang-nya yang suka maksa dan menipu.Ah masa sih seburuk itu? Ada embel-embel dari orang bule yang katanya "India is the Jewel of South East Asia" ditambah "You're not a true traveller if you haven't been to India". OK. Pergi sekarang atau tidak sama sekali. Sehingga diniatkan lah perjalanan Golden Triangle saya ke India (yang akan saya tulis di lain waktu). Dan ada salah satu tempat yang betul-betul berbekas di hati saya yaitu Taj Mahal. Ini juga merupakan salah satu alasan kenapa saya mau ke India (selain mendapat tiket murah) yaitu untuk mengunjungi Taj Mahal yang terletak di kota Agra, yang katanya juga salah satu 7 keajaiban dunia modern.Menggunakan kendaraan Taxi dari Delhi ke Agra, perjalanan sejauh 253KM ditempuh kurang lebih selama 4 Jam. Agak macet untuk keluar dari kota Delhi, setelah itu perjalanan lancar (Kecuali kalau ada Sapi berhenti di tengah jalan :)Sesampainya di Agra, saya dan 2 orang kolega dari kejauhan sudah bisa melihat bangunan putih beratap kubah. Kami tidak sabar untuk berhenti sebentar, karena dari seberang sungai Yamuna, bangunan Taj Mahal sudah terlihat bersinar putih. Di sisi sebelah kanan jalan, tempat kami berhenti juga ada sebuah benteng tinggi tua megah berwarna merah. Benteng tersebut bernama Benteng Agra atau Agra Fort.Ok, fokus ke Taj Mahal. Kami berangkat ke Taj Mahal keesokan paginya pukul 5.30 dari hotel karena ingin mengejar Matahari Terbit di Kompleks Taj Mahal. Pemerintah atau Pengelola Taj Mahal tidak memperbolehkan adanya kendaraan dalam radius 500 Meter dari kompleks bangunan. Terpaksa lah kami berjalan kaki ditemani guide bernama Javeed Khan. Dia memberitahu kalau jalan akan sedikit cepat karena akan banyak penjual dan penjaja sepanjang perjalanan. Seperti bermain game, selain jalan kaki cepat, kaki-ku juga harus hati-hati untuk memilah milih jalan, karena kalau tidak, dijamin akan terjebak 'ranjau' kering produksi tubuh-tubuh hewan yang berseliweran. Sampai di pintu loket, kami harus membayar 750Indian Rupee per orang. Sudah termasuk air mineral dan bungkus sepatu (Menyesal karena saat itu saya menggunakan sandal jepit=>disangka mau masuk mesjid, ingatnya kalau sepatu dilepas takutnya hilang seperti ketika Jum'atan). Taj Mahal dibuka setiap hari kecuali hari Jum'at untuk restorasi bangunan. Javeed mulai menerangkan detail dimulai dengan garis lurus di luar pintu gerbang utama yang diteruskan akan simetris dengan bangunan utama Taj Mahal. Kagum.Begitu menapakkan kaki ke gerbang utama, saya dapat melihat pemandangan indah yang sudah sering dilihat di TV, majalah2, poster2, delel. Saat itu adalah masa-masa hati saya berhenti sebentar dan hanya decakan kagum keluar dari mulut. Putih bersih dan begitu indah, hanya karakter kartun dengan rahang terbuka yang bisa menggambarkan keadaan saya saat itu. Rasanya semua bau-bau binatang dan ranjau-ranjau keringnya, juga yang buruk-buruk tentang India langsung hilang dari ingatanku. Ok. 'Lebay' level dua. :)Kembali ke..Taj Mah..hal! (Ngikutin gaya tukul).Taj Mahal sendiri, menurut Javeed, dibangun 300 tahun lalu berlandaskan cinta murni dan tulus. Dibangun untuk cintanya Shah Jahan terhadap isteri ketiganya, Mumtaz Mahal yang meninggal akibat melahirkan anaknya yang ke-14 (14!? wow breeder machine). Shah Jahan adalah Raja kelima DinastiMughal atau Moghul. Saking cintanya terhadap isteri ketiga-nya ini, begitu dia meninggal, kononnya Rambut Shah Jahan berubah jadi putih dalam hitungan hari karena kesedihan yang mendalam. Mungkin itu menjelaskan mengapa Taj Mahal dilambangkan sebagai tanda cinta abadi menyaingi Bunga Edelweiss.Kompleks Taj Mahal terletak di tepi sungai Yamuna yang terdiri atas 16 Taman Persia, lengkap dengan kolam yang mempunyai 53 air mancur dan di dalamnya terdapat 3 bangunan. Semuanya masih tertata dengan rapih. Air Mancur akan dinyalakan jika, pertama,Β Ada tamu VIP yang datang berkunjung. Tradisi ini dikekalkan semenjak zamannya Shah Jahan berkuasa. Kedua,Β pada perayaan memperingati hari lahir atau ulang tahunnya Shah Jahan selama 3 hari. Pada perayaan ini juga Taj Mahal digratiskan untuk para pengunjung setiap tanggal 27-28-29 Juni.Bangunan utama berwarna putih dengan kubah besar terletak di tepi sungai, dikelilingi 4 Minaret dan diapit dengan rumah tamu di samping kanan dan sebuah masjid di samping kirinya.Β Javeed mulai menerangkan trivia Taj Mahal dengan pertanyaan 'Kenapa semua minaretnya dibangun sedikit condong keluar?' Jawaban: "karena jika ada gempa maka minaret tersebut didesain akan rubuh keluar dan bukan mengenai bangunan utama berwarna putih'. 'Ooo..' Hanya itu yang bisa keluar darimulut kami. :)Hampir semua yang dibangun di kompleks tersebut ada maknanya tersendiri, dari mulai 22 kubah kecil di gerbang yang menandakan dibangun selama 22 tahun, 14 surah Alquran yang dipatri di pintu masuk bangunan utama menandakan Shah Jahan mempunyai 14 anak, sampai 16 taman dan 53 air mancur yang menandakan tahun selesainya Taj Mahal dibangun (1653).Dengan menggunakan sandal jepit yang ditutup bungkus sepatu, saya berjalan di sekitar bangunan utama sambil melihat marmer yang penuh dengan ukiran-ukiran kaligrafi Arab dan pola-pola bunga berwarna merah, kuning, biru tua, hijau. Bagian bunga tersebut dipahat dan ditempel batu akik yang mana kalau dipantulkan cahaya, bagian bunga tersebut akan bersinar.Selain itu, marmernya pun akan memantulkan cahaya, apabila terbit/terbenam matahari, bangunan utama akan bersinar kemerah-merahan, siang hari akan bersinar putih terang, dan bila sedang bulan penuh, Taj Mahal akan bersinar putih kekuning-kuning-an. Keunikan lain adalah dari sisi manapun, Taj Mahal akan terlihat sama dan simetris.Tapi yang membuat saya penasaran adalah, ada apa sih di dalam bangunan utama-nya? Β Ternyata, di dalam tengah ruangan bangunan utama terdapat makam Mumtaz simetris di tengah-tengah ruangan dan terdapat makam suaminya di sampingnya. Bukan makam asli yang ditampilkan di ruang utama, makam yang asli terletak tepat di bawah replika makam di atas. Ada semacam terowongan yang boleh masuk melihat makam yang asli namun ditutup dan dibuka hanya pada hari Ulang Tahun Shah Jahan saja.Javeed menerangkan kenapa makam suaminya tidak simetris dengan bangunan dikarenakan memang Shah Jahan tidak direncanakan untuk di makamkan di situ tetapi di seberang sungai Yamuna, yang menurut mitos, rencananya akan dibangun Taj Mahal Hitam. Anak lelakinya yang bungsu, Aurangzeb (setelahmembunuh saudara kandungnya yang tua agar berkuasa) merasa Ayahnya hanya membazirkan uang dengan membangun Taj Mahal untuk ibunya, sehingga rencana membangun Taj Mahal hitam pun ditolak. Bukan hanya ditolak, malahan Aurangzeb merumah-tahankan Ayahnya sendiri di Benteng Agra. Ayahnyadiletakkan di bagian benteng yang masih dapat melihat Taj Mahal dari kejauhan (tempat di mana saya melihat Taj Mahal dari kejauhan ketika datang pertama kali di Agra).Setelah hampir 3 jam menikmati keindahan Taj Mahal, saya hanya bisa tertegun. Mungkin Taj Mahal hanya sebuah bangunan lama, sama seperti Borobudur atau Angkor Wat, tapi sungguh, Taj Mahal adalah salah satu bangunan yang menakjubkan di dunia dan bisa bertahan selama lebih dari 300 tahun di antara segala kesemrawutan negeri India. Saya setuju dengan penyair Rabindanath Tagore yang menggambarkan Taj Mahal sebagai "A tear drop on the face of eternity" atau "Setetes air mata yang jatuh di wajah keabadian".
(travel/travel)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru