Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Halida Agustini|1508|KALTIM 2|22

Maey Petuq Meuhuey Las Wehea

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Rabu, 18 Mei 2011 13:05 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
persiapan sebelum berangkat
banyak longsor yang kami temui di daerah sekitar hutan
kawasan ini dilindungi oleh hukum adat!
stasiun yang berada di dalam hutan lindung
terdapat air terjun kecil di belakang homestay, airnya jernih sekali
pemandangan dari puncak menara pandang, beautiful!
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Maey Petuq Meuhuey Las Wehea
Jakarta -

Β Ini saatnya kami menjelajahi Hutan Lindung Sungai Wehea. Dengan menumpang di mobil double garda sewaan para peneliti Loka Litbang Kalimantan Timur, kami menyusuri 3 jam perjalanan. Untuk memasuki kawasan Hutan Lindung itu sendiri, kami harus melewati 3 portal pemeriksaan kartu identitas dan surat izin memasuki wilayah Hutan Lindung Sungai Wehea ini. Kami pun diperbolehkan masuk kedalam, hingga akhirnya kami berhenti pada satu titik, stasiun hutan lindung.

Terdapat sekitar 4 bangunan disana. Stasiun, dapur, gazebo dan homestay yang baru akan diresmikan setelah datangnya bupati sekitar hari jumat nanti. Sekitar 7-10 orang laki-laki yang bertugas mengurusi hutan lindung ini, termasuk abang Kris yang rumahnya kami tinggali satu malam kemarin. Sebelum berangkat menuju menara pandang, kami menyempatkan waktu untuk berdiskusi sejenak dengan Pak Edi, salah satu koordinator disini. "hutan lindung ini dulunya adalah sitaan dari HPH, termasuk bangunan stasiun ini..". HPH adalah badan perusahaan yang menaungi usaha logging, namun sejak diadakannya pertemuan antar kepala adat disekitar Wehea, lahan tersebut disita dan dijadikan hutan lindung. Hanya ada satu akses untuk memasuki hutan lindung ini, yaitu dengan mengikuti jalur logging yang telah ada. Setelah melewati portal ketiga, kami menemui gapura hutan lindung yang bertuliskan 'kawasan ini dilindungi oleh hukum adat' artinya, segala sesuatu yang bersifat merusak hutan akan dikenai denda adat yang beragam macam.

Dihutan ini terdapat banyak satwa yang bebas berkeliaran, orang utan dan beruang biasanya akan keluar ketika panen buah berlimpah, sekitar 4 tahunan sekali, yaitu pada bulan Maret hingga April. Selain itu, pada musim panen itu juga kita akan melihat berbagai macam bunga anggrek betebaran dimana-mana, ditambah lagi aliran sungai yang jernih akan menambah diri kita kerasan untuk tinggal lebih lama disini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setelah puas berbincang-bincang dengan pak Edi, kami diajak bang Kris untuk mendapatkan view hutan Wehea yang menakjubkan itu. Beberapa kali menemui banyak longsoran, kubangan, jurang akhirnya kami sampai di pos kedua, menara pandang. Lalu dengan penuh semangat kami menaiki anak tangga menara yang kira-kira tingginya sekitar 15-20 meter. Cukup membuat kaki merinding dan kepala pening, tapi kami lakukan itu sampai tiba di puncak menara. "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA KEREEEEEN! GILAAA GILA KEREEEEEN!" teriak Bhaga. "aku juga ndak mau pulang kalo begni bang, indah sekali.." lanjut mas Kripik pada bang Kris. Dan beberapa nada yang sama dilontarkan ketika kami semua melihat pemandangan bukit-bukit Wehea yang masih bewarna hijau, kabut-kabut yang menyelimuti, dan udara yang -saya yakin- tidak lagi kita temui di Jakarta. Sekitar 30 menit di menara kami habiskan waktu untuk berfoto dan menghilangkan stres sejenak sebelum akhirnya kami balik ke stasiun.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads