Teluk Kiluan, Lampung, selain pulau kecilnya yang indah, terkenal karena lumba-lumbanya. Beberapa petualang yang sudah pernah ke sini hampir semuanya dikarenakan ingin melihat lumba-lumba liar yang memang sering muncul di lautan sekitar Kiluan. Saya pun tidak mau ketinggalan, Kamis, 7 Oktober 2010 saya dan tim berencana untuk pergi ke laut lepas untuk melihat lumba-lumba itu. Konon kabarnya lumba-lumba di Kiluan mencapai jumlah ratusan, jauh lebih banyak daripada yang ada di Lovina, Bali. Ah, saya jadi makin penasaran.
Pagi itu saya bangun pukul 5, tanpa mandi, hanya dengan cuci muka dan gosok gigi, minum teh hangat yang sudah disiapkan ibu pemilik penginapan. Sesuai jadwal yang disepakati sehari sebelumnya, jam 6 akan segera berangkat melihat lumba-lumba. Setengah jam lewat dari jam 6, saya masih saja duduk di teras sambil menikmati teh, belum ada tanda-tanda kapal akan berangkat, saya berjalan mendekat ke pantai, ah sepertinya ini masalah cuaca. Pagi itu mendung, angin bertiup kencang kadang-kadang, dan ombak di pantai terlihat cukup beringas untuk ukuran ombak pagi. "Jangan dipaksa ya", kata mas Yopie, pendamping saya waktu itu. Oh oke, berarti acara petualangan mengejar lumba-lumba nampaknya dibatalkan, saya pun melanjutkan jalan-jalan sekitar pulau ditemani ipod saya. Kecewa dan murung, karena saya sudah membayangkan lucunya memotret lumba-lumba yang genit muncul di permukaan laut. Ah ya sudah, toh saya sudah pernah melihat lumba-lumba di laut lepas sebelumnya.
Saya pun menyusuri bibir pantai bersama kawan-kawan, pantai di pulau Kiluan ini tak semuanya berpasir ternyata. Di sisi timur, pantainya berbatu-batu, bahkan cenderung jarang pantainya, hanyalah tebing. Dari tebing tersebut kita bisa melihat laut lepas yang dipenuhi batu-batu menyerupai pulau. Ombak yang berdebur keras menambah syahdunya hati. Cukup lama saya duduk di batu di atas tebing dan memandang ke laut lepas. Sangat indah, dan tak ingin cepat-cepat beranjak. Beberapa saat kemudian, saya pun berjalan lagi menyusuri tebing pinggir pulau, semua pemandangannya sangat indah, dari sisi manapun! Selesai berkeliling, saya pun beristirahat di pondokan tempat saya menginap, perut sudah mulai keroncongan. Tiba-tiba Zulfi, rekan setim saya menghampiri, katanya perahu bisa berangkat, tapi kalau di jalan ombaknya kencang maka kita akan balik ke pulau lagi. Baiklah, saya pun segera bersiap-siap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tertawa itu pun segera berganti dengan kepanikan, karena hanya dengan bantuan sebuah dayunglah harapan saya untuk kembali ke pulau Kiluan. Pak Agus pun mulai mendayung, sebentar berhenti, membuat layar dengan kain seadanya. Ombak semakin besar, pulau Kiluan terlihat masih sebesar butir beras. ya Tuhan, ini sangat tidak mungkin pikir saya. Perut pun perlahan mulai merasa mual, ditambah rasa pusing di kepala, karena kapal yang terombang ambing ombak. Saya berpikir, gawat gawat gawat, satu saja datang ombak besar, habis kapal ini. Semua perasaan bercampur dalam hati, rasa panik, takut, marah, menyesal, pasrah, dan tidak ada yang bisa saya lakukan selain berdoa dan berharap. Berharap ada kapal yang melintas dan membantu kami, berharap kawan-kawan yang masih di pulau mencari kami, berharap cuaca segera membaik, berharap saya bisa lompat ke daratan, berharap bisa menghilang, berharap ada baling-baling bambu, dan berjuta harapan-harapan aneh lainnya. Ombak hari itu rasanya mencapai 2 meteran, bagaikan kutu terombang ambing dalam bak mandi, cemas sekali.
Saat itu saya berpikir, jika kita sudah berhadapan dengan alam, segala hal yang kita punya menjadi bukan apa-apa. Saya punya handphone, tapi tidak ada sinyal. Saya punya kamera, tapi buat apa. Saya punya uang untuk membeli mesin kapal, tapi mana bisa. Andai saya punya jabatan, tidak ada pengaruhnya. Semua materi yang kita kejar mati-matian di kota tidak berarti apa-apa. Betapa kecilnya kita sebagai manusia. Ada batas yang tidak akan bisa saya tembus. Yah, satu-satunya yang saya bisa lakukan adalah berdoa dan berharap ini semua segera lewat. Sesekali saya menoleh ke belakang melihat Zulvi yang memegang kemudi kapal, dan pak Agus yang masih mendayung, wajah mereka masih cerah ceria. Sepertinya ini akan baik-baik saja, sambil mendengungkan lagu dari Cocorosie "the sea is calm, and so my heart.." berusaha menikmati ombak dan mengurangi rasa mual di perut.
Oke, setelah nyaris 2 jam, akhirnya pulau Kiluan yang saya rindukan itu pun terlihat, ombak di depan pulau sangat tenang, jauh berbeda dibandingkan dengan yang di lautan lepas tadi. Semua rasa mual hilang. Pusing hilang. Dunia cerah kembali. Terima kasih ya Tuhan saya bisa menginjak daratan lagi dengan selamat. Segera saya melompat keluar dari perahu, rasanya waktu itu saya ingin berteriak kegirangan. Yah, jika kita mau bersabar, semua rintangan pasti bisa terlewati. Big steps come from tiny little steps. Yang paling penting, jangan kehilangan harapan untuk melawan segala rintangan, hope does have power. Lumba-lumba bisa kita temui dengan mudahnya, tapi petualangan yang sangat menyentuh hati ini, belum tentu bisa didapatkan semua orang. Oh I'm so alive. Ya, beruntunglah saya, si Petualang Aku Cinta Indonesia :)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru