Kesenangan Utuh di Ujung Kulon
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Astri Apriyani|1491|BANTEN|14

Kesenangan Utuh di Ujung Kulon

Redaksi Detik Travel - detikTravel
Selasa, 21 Jun 2011 10:30 WIB
loading...
Redaksi Detik Travel
selamat datang di Peucang :)
Bersama Bella, di Peucang.
Ini dia si Tanjung Layar.
Mari lihat-lihat banteng liar di Cidaon.
Kesenangan Utuh di Ujung Kulon
Kesenangan Utuh di Ujung Kulon
Kesenangan Utuh di Ujung Kulon
Kesenangan Utuh di Ujung Kulon
Jakarta -

Taman Nasional Ujung Kulon. Apa yang terpikir jika mendengar tempat ini? Sebagian besar orang pasti akan menjawab, badak bercula satu. Kalau boleh saya bilang, setelah selama dua hari (5-6 Oktober 2010) menjelajahi tempat ini, Taman Nasional Ujung Kulon lebih dari sekadar itu. Anda seolah memiliki kebun binatang sendiri.

Taman Nasional Ujung Kulon terdiri dari kumpulan pulau, di antaranya Pulau Peucang, Pulau Panaitan, Pulau Handeleum, Tanjung Layar, Pulau Umang, pulau-pulau bentukan letusan Gunung Krakatau, seperti Pulau Rakata, serta banyak lagi. Dan, saya bisa bilang, tiap-tiap pulau punya keindahannya sendiri. Saya bisa ceritakan untuk Anda, tapi (sayangnya) hanya beberapa.

Pulau Peucang. Ini adalah pulau tempat saya menginap, pulau yang tidak berpenghuni, kecuali para pengelola pulau dari staf Taman Nasional Ujung Kulon. Lalu, kenapa pula disebut "peucang"? Karena, nyatanya, di pulau ini, banyak sekali hewan peucang--sejenis rusa--yang hilir-mudik di padang rumput di depan tempat Anda istirahat. Mereka biasa muncul di sore hari dan (paling banyak muncul) pada malam. Mereka bergerombol, sekitar 5-10 peucang. Ngeri? Tidak perlu. Sebab, rusa-rusa ini sama sekali jinak, malah menyenangkan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masih di Peucang, tidak hanya Anda bisa istirahat dan menatap rusa-rusa dari dekat. Sedari awal, tour guide saya sudah mengingatkan, "Hati-hati sama monyet di sini. Suka masuk vila, terus bawa kabur barang-barang tamu." Lha, ada monyet juga, saya tanya. "Banyak, jahil juga. Belum lama, ada turis asing yang protes kamera sama handphone-nya hilang. Mereka nggak percaya kalo monyet yang bawa, disangkanya ada yang nyuri. Mereka baru percaya setelah kita ajak ke hutan, setelah mereka liat bungkus handphone-nya ada di pohon." Wah, usil. Maka itu, waspada tidak ada salahnya. Saran saya, selalu kunci pintu kamar vila setiap kali hendak keluar; entah makan atau ke pantai. Takut-takut kalau si monyet isengnya kumat.

Ada apa lagi di Peucang? Babi hutan, burung-burung, tonggeret yang suaranya menguar ke mana-mana setiap hari, serta burung merak. Soal yang terakhir, sayang saya hanya bisa dari jarak agak jauh. Rupanya para burung merak itu tipikal karakter yang sensitif. Tiap kali kita bergerak mendekat, mereka pasti aware dan langsung kabur. Too bad uh?

Kalau ingin lihat view yang lebih mencengangkan, cobalah jungle trekking menuju Karang Copong. Menerabas hutan-hutan sekitar 2 jam, Anda akan mendapatkan pemandangan bagus dari atas bukit ke arah Karang Copong, si karang yang bolong di tengahnya.

Soal rute, cobalah tanya ke petugas TN UK di Peucang. Meski membutuhkan waktu lama, scenery yang bisa Anda lihat langsung kontan menghilangkan letih Anda setelah mendaki-menurun Peucang.

Apa lagi? Mari beranjak ke Tanjung Layar, Cidaon, dan Pulau Handeleum. Tanjung Layar terletak sekitar 1 jam naik kapal dari Peucang. Di Tanjung Layar, karena musim hujan, jalan setapak yang harus kita hadapi adalah jalanan basah dan berlumpur. Yang ditawarkan di sana adalah bangunan-bangunan lama yang dibangun sejak zaman penjajahan, seperti benteng, penjara, serta mercusuar. Selebihnya, hutan. Dan, oh, di akhir perjalanan di Tanjung Layar, dengan girang hati saya disuguhi karang-karang besar (serupa layar terbentang--atau terpancang) lengkap dengan ombak-ombak berkecipak. Lalu, di Cidaon, pulau yang berjarak sekitar kurang dari sejam (masih) dengan kapal, memberikan pengalaman deg-degan yang natural bagi hidup Anda. Kenapa? Anda bisa melihat banteng-banteng dari jarak dekat. Itu jika Anda memang bernyali. Lalu, bagaimana dengan Handeleum? Pulau yang bisa dicapai sekitar 30 menit dari Peucang ini bisa jadi membuat Anda yang beradrenalin tinggi jadi semakin bergairah. Anda bisa berkano menyusuri Sungai Cigenter di dekat Handeleum. Jujur, di bagian berkano ini saya ngeri luar biasa. Sebab, saya melihat dua ular dari jarak sangat dekat, berdiam dengan nyaman di ranting pohon yang menjorok ke lajur kano. Belum lagi cerita guide saya soal buaya-buaya yang biasanya muncul. Tapi, (untung) saat saya berkano, buaya tidak muncul. Entah karena apa. Yang jelas, sangat disayangkan, track canoying ini tidak rapi. Banyak pohon serta ranting yang tumbang dan tidak diurus sehingga mengganggu track.

Sebenarnya masih ada Pulau Panaitan, Pulau Umang, dan Krakatau yang bisa dikunjungi di seputaran Ujung Kulon. Tapi, karena banyak kendala, seperti akses transportasi dan gejala alam yang tidak memungkinkan, sebagian destinasi tersebut tidak jadi saya kunjungi. Tapi, begini saja sudah menggembirakan. Selamat menikmati kebun binatang pribadi Anda. Dan, khusus untuk Krakatau, tunggu saja cerita seru soal gunung yang hingga sekarang masih aktif tersebut.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads