Jangan heran apabila anda tiba di kota Sumenep disambut dengan sangat ramah oleh warganya. Contohnya saya yang semula berpikiran bahwa budaya Madura erat kaitannya dengan carok, celurit, dan kekerasan justru terkaget, masyarakat kota ini begitu ramah dan mudah akrab dengan saya sebagai pendatang. Ternyata jika menilik sejarahnya, kota yang usianya telah mencapai 740 tahun ini dulunya pernah menjadi tempat persinggahan para pelancong dan pedagang dari kerajaan-kerajaan sekitar. Ada yang dari Majapahit dan Mataram, bahkan pedagang asing seperti dari Cina, Arab, juga Eropa. Selain itu apabila kita mendeskripsikan nama kota Sumenep dalam bahasa Madura maka kita akan menemukan bahwa nama ini merupakan gabungan dari kata 'kasoh' dan 'enep'. 'Kasoh' berarti lelah dan 'enep' berarti menginap.
Maka lalu saya teringat bahwa terdapat sebuah kalimat khas keramahan Jawa yang pas sebagai penjelas maksud dari kedua kata tadi, "Boten usah kesusu, mangga nginep rumiyin," yang dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya "Tidak usah buru-buru, menginaplah dahulu".
Lalu apakah budaya-budaya turis itu mempengaruhi budaya lokal Sumenep? Seharusnya iya karena perkembangan budaya terjadi karena adanya persinggungan antara budaya satu dengan yang lain. Faktanya di kota Sumenep bangunan Kraton dan Masjid Agungnya dirancang oleh arsitek dari Cina. Bangunan masjid yang bernama Masjid Jamik ini banyak menampilkan hiasan dan ukiran khas Cina pada faΓ§ade bangunan serta di beberapa bagian interiornya.












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru