Hari demi hari terlewati tanpa terasa 26 Oktober 2010 ini, saya sudah memasuki hari yang ke-25 dalam petualangan menapaki keindahan bumi Kalimantan. Rasa rindu akan keluarga yang semula tidak terpikirkan, mendadak membuat saya berinisiatif mencari pernak-pernik khas Kalimantan yang dapat saya jadikan oleh-oleh yang berkesan bagi mereka yang saya sayangi.
Setelah mencari informasi, akhirnya kami memutuskan menuju Desa Margasari yang konon terkenal dengan pernak-pernik anyaman rotannya. Hanya berselang 1 jam perjalanan, kami pun mulai memasuki perkampungan yang ternyata menyuguhkan pemandangan pagi yang luar biasa. Pemandangan yang sangat kental dengan aktifitas pedesaan. Pemandangan tentang warga yang sedang membuat anyaman rotan, menjahit, membuat perangkap ikan, mamanen padi serta ada yang hanya sekedar berkumpul dan berbincang sembari menyaksikan indahnya Jembatan Margasari.
Saya pun sedikit mengajak mereka berbicara hingga akhirnya saya mendapatkan informasi tentang keberadaan pengepul kerajinan anyaman rotan warga yang di koordinir oleh seorang wanita paruh baya bernama Ibu Wahdah. Menjumpai wanita tersebut membuahkan informasi untuk saya bertambah tentang hak paten yang telah dimiliki oleh Desa Margasari yang dinyatakan sebagai pencetus pertama kerajinan anyaman rotan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?