Gerimis hujan yang perlahan membasahi bumi Banjarmasin 22 Oktober 2010 tidak membuat Kota Banjarmasin berhenti dengan kesibukannya. Masyarakat yang sibuk dengan rutinitas jual belinya di pasar-pasar tradisonal sampai para wisatawan yang sibuk objek-objek wisata yang akan dikunjunginya. Tidak terkecuali dengan saya yang masih menelusuri setiap sudut keindahan 'Kota Seribu Sungai' ini. Tidak jauh dari hotel tempat saya menginap, saya mendapat informasi bahwa terdapat sebuah kelenteng yang berusia kurang lebih satu abad yang juga menjadi salah satu peninggalan sejarah tentang penyebaran agama Budha di Banjarmasin.
Beruntung hari itu saya dapat bertemu Bapak Tiono Husin, salah seorang pengurus senior kelenteng tersebut. Ditengah kesibukan kelenteng mempersiapkan hari sembahyang di keesokan harinya yang bertepatan dengan 15 imlek, beliau bersedia menceritakan beberapa hal tentang sejarah kelenteng tersebut dan rutinitas kelenteng sampai dengan hari ini.
"Kelenteng ini memang berusia kurang lebih satu abad, tapi tidak ada yang tau siapa pendirinya", ujar Pak Tiono. Kelenteng ini juga tidak ingin disebut miliknya orang Budha karena kelenteng Suci Nurani yang nama lainnya adalah Sen Sen Kung ini adalah kelenteng Tridharma atau perpaduan 3 agama, Tau Is yang memiliki ajaran kembali ke alam, Kong Hu Chu berarti hubungan antara manusia dan Budha yang mengajari tentang Syurga. Sehingga penganut ketiga agama tersebut selalu bersembahyang kek kelenteng tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Arsitektur bangunan yang unik, ukiran-ukiran naga pada setiap tiang luar bangunan ini yang bertujuan menolak bala masuk, serta beragam patung para dewa untuk sembahyang menjadi daya tarik yang sangat luar biasa yang menjadikan kelenteng ini salah satu objek wisata yang harus dikunjungi setiap wisatawan yang datang.Β Β












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru