Mendengarkan petikan senar dari alat musik Sasando membuat kita terbuai dengan petikan sasandonya serta syair lagu yang dibawakannya. Sasando alat musik khas dari Pulau Rote ini dipercaya pertama kali dikenal dan dimainkan pada tahun 1600an. Hal ini seperti yang diungkapkan oleh Pengrajin sekaligus pemain Sasando di Pulau Rote, Bapak San Malelak, seorang Pensiunan Dinas P dan K.
San Malelak yang dijumpai di rumahnya di Desa Ba'A Dalle, Kecamatan Loba Lain ini mengisahkan bahwa alat musik Sasando yang original itu mempunyai 10 buah senar yang diikatkan pada sebuah bambu berdiameter 10 CM serta di bungkus dengan daun pohon lontar yang kering. Alat musik ini biasanya dimainkan pada acara-acara adat, tarian, penyambutan tamu serta dimainkan untuk mengiringi penyanyi pada acara-acara kedukaan yang diisi dengan syair-syair duka.
Pada jaman dahulu, Ta'e Sasanu atau Orang yang memainkan sasando hanya dijumpai satu orang ditiap pulau, hal ini dikarenakan bahwa orang yang memainkan Sasando bukan orang sembarangan tapi membutuhkan ritual dan proses untuk menjadi seorang Ta'e Sasanu. Sementara itu Proses pemilihan daun pohon lontar untuk membungkus Sasando, diperhatikan dengan mendengarkan suara yang dihasilkan oleh daun lontar kering bila tertiup angin. Para pembuat Sasando mengerti, daun mana yang tepat yang akan digunakan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Protes Keras Upacara Adat di Bali, Terganggu Suara Musik
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali
Cerita Pilot Wanita Garuda Terbangkan Bryan Adams dan Diundang ke Konsernya