Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Jul 2021 16:57 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Perjalanan Lintas Barat Sumatera dan Suguhan Keindahan Pantainya

Nofiyendri Sudiar
d'Traveler
Pantai Linau
Pantai Linau
Pantai Kambang
Pantai Kambang
Rumah Kediaman Bung Karno
Rumah Kediaman Bung Karno
detikTravel Community -

Perjalanan darat dari kota Padang ke Pulau Jawa memiliki tiga alternatif yakni Lintas Timur, Tengah dan Barat. Kebanyakan orang menempuh Lintas Tengah karena jalur ini termasuk jalur yang paling lama.

Setelah Tol Sumatera rampung sampai kota Palembang orang beramai-ramai memilih Lintas Timur. Selain ingin mencoba tol jalur ini juga tidak banyak berkelok-kelok.

Pada perjalanan kali ini kami mencoba jalur Lintas Barat. Kami memilih jalur ini selain kita disuguhi pemandangan pantai dari Sumbar sampai ke Lampung juga disebabkan oleh sedikitnya truk dan bus besar yang lewat jalur ini.

Tidak seperti Lintas Timur yang sangat banyak dilalui oleh Truk. Bahkan mereka bisa konvoi sampai 30 deret. Bagi pengendara mobil kecil sangat susah untuk mendahului.

Perjalanan kami mulai dari kota Padang pukul 08:00 pagi. Mengawali perjalanan kita melalui kawasan Teluk Bayur. Di sini kita bisa memandang lautan mulai dari tempat yang rendah dan dekat dengan pantai sampai dari ketinggian.

Perjalanan kami tidak terlalu terburu-buru sambil menikmati indahnya alam dan kami sampai di Painan pukul 10:00 WIB. Untuk mencapai kota Painan sebenarnya ada dua jalur yakni jalur utama dan jalur wisata ke Kawasan Mandeh.

Kami memilih jalur utama karena beberapa tahun lalu kami sudah menjajal jalur Kawasan Mandeh tersebut. Jarak antara kota Padang dan Painan lebih kurang 79 km. Sesampai di kota Painan kami putar-putar kota dulu dan melanjutkan perjalanan kembali satu jam kemudian.

Siang hari kami melepas lelah sambil istirahat makan di daerah Kambang. Kami memilih tempat yang bisa memandang Samudera Hindia dari ketinggian. Sepanjang jalan di daerah ini banyak pondok-pondok yang menyediakan makanan untuk santap siang dengan pemandangan laut lepas.

Pukul 3:00 sore kami sampai di Muko-Muko Bengkulu. Jarak antara Painan dan Muko-muko ini lebih kurang 207 km. Menjelang Magrib kami sampai di Ipuh. Sampai Ipuh ini kondisi jalan mulus.

Perjalanan kami sedikit terhambat karena ada perbaikan jembatan selepas Ipuh ini. Di Daerah Ketaun ada persimpangan jalan. Belok ke kanan (jalur utama) jalanan ini rusak cenderung berat. Untuk mobil sedan sangat susah lewat jalur ini. Terus lurus (jalur alternatif) jalanan agak mendingan meskipun jaraknya lebih jauh.

Kami sampai di Bengkulu pukul 1:00 dini hari. Jarak Muko-muko ke Bengkulu lebih kurang 259 km. Kami pun menginap untuk melepas lelah agar esok hari segar kembali.

Di kota Bengkulu kami melanjutkan perjalanan pukul 10:00 pagi setelah terlebih dahulu berwisata sejarah ke kediaman Bung Karno saat pengasingan dulu dari tahun 1938-1942. Satu setengah jam setelah itu kami sampai di Manna dan istirahat sebentar.

Menjelang sore kami sampai di Pelabuhan Linau (pelabuhan ke pulau Enggano) dan perbatasan propinsi Bengkulu dan Lampung. Di pelabuhan ini kami berhenti sejenak sambil menikmati indahnya deburan ombaknya. Jarak Bengkulu dengan perbatasan Propinsi Bengkulu dengan Lampung lebih kurang 248 km.

Dari batas propinsi ini kami melewati daerah Krui dan Bengkunat. Untuk mencapai kota Bandar Lampung ada dua jalur yakni jalur Liwa dan Bengkunat. Kami tidak memilih jalur Liwa dikarenakan jalur tersebut jalannya sempit dan banyak yang rusak.

Selain itu jalur Liwa lebih panjang melintasi Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS). Senja hari kami memasuki TNBBS. Di TNBBS ini pendakian sangat panjang dan bekelok-kelok. Untuk mobil transmisi manual disarankan menggunakan gigi satu dan dua.

Selepas TNBBS ini ada pemberhentian Masjid Imaduddin di daerah Waikerap. Kami sampai pukul 20:30 malam di kawasan tersebut. Sambil mendinginkan mesin dan rem mobil kami istirahat sampai pukul 23:00 malam.

Sebagai catatan, penurunan di TNBSS ini sangat curam. Sangat dikhawatirkan rem mobil blong, jadi disarankan bantu pengereman dengan mesin menggunakan gigi dua. Di Mesjid Imaduddin banyak orang yang beristirahat.

Beberapa penjual makanan berjejal di dekat parkiran Mesjid. Selain ini pengurus mesjidnya juga menyediakan minuman hangat seperti kopi. Kami lanjutkan perjalanan dan masuk kota Bandar Lampung pukul 02:00 dini hari. Kami putuskan menggunakan tol dan sampai di Pelabuhan Bakauheni pukul 03:00 dinihari.

Jarak dari batas Provinsi Lampung ke pelabuhan Bakauheni lebih kurang 424 km. Total perjalanan kami dari Padang ke Pelabuhan Bakauheni melalui Lintas Barat Sumatera adalah 1217 km dengan waktu tempuh 43 jam. Sudah termasuk waktu kami menginap di Bengkulu.

---

Catatan Redaksi: Artikel ini dikirimkan pembaca detikcom Nofiyendri Sudiar, sebelum ada kebijakan PPKM Darurat.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA