Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 30 Mar 2022 20:45 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Mengenal Gelaran Upacara Adat Gumbreg di Seloharjo Bantul

Elyandra Widharta
d'Traveler
Ketika Sapi diberikan ketupat di tanduknya sebagai bagian prosesi Gumbreg
Ketika Sapi diberikan ketupat di tanduknya sebagai bagian prosesi Gumbreg
Beberapa warga dusun membawa sesaji untuk di doakan
Beberapa warga dusun membawa sesaji untuk di doakan
Kesenian Jathilan Mudho Manunggal
Kesenian Jathilan Mudho Manunggal
Kesenian Jathilan Mudho Manunggal
Kesenian Jathilan Mudho Manunggal
detikTravel Community -

Menyusuri pegunungan di daerah Bantul sisi paling selatan rupanya menyingkapkan pemandangan yang begitu eksotis. Terutama ketika menyusuri daerah perbuktian Seloharjo Pundong Bantul.

Tepatnya, di balik pegunungan yang hijau dan berdekatan dengan wilayah perbatasan Bantul dan, terdapat Dusun Geger, Kalurahan Seloharjo, Kapanewon Pundong, Bantul DIY. Siang yang cerah pada Selasa Wage 29 Maret 2022 mulai 14.00 digelar Upacara Adat Gumbreg.

Upacara adat ini digelar setiap delapan bulan sekali, bahkan setiap dusun memiliki ciri khas yang berbeda dari yang lain meskipun sama-sama menggelar upacara yang sama.

"Dalam tradisi peninggalan leluhur dan penanggalan Jawa dalam tradisi setempat, hari pasaran pada weton Selasa Wage dipilih karena memiliki makna yang bagus dan selasa wage dipercayai sebagai dina neton sato kewan ya sapi, kambing, ayam dan hewan ternak lainnya" papar Pak Nyono (59).

Gumbreg atau Gumbregan adalah upacara adat sebagai ungkapan rasa syukur para petani dimana hewan ternaknya selama ini sudah menjadi bagian dari penghidupan. Hewan ternak atau rajakaya bagi para petani dan warga Dusun Geger Seloharjo sudah menjadi bagian dari kehidupan dan budaya yang sudah berjalan turun-termurun dari generasi yang lampau sampai hari ini.

Warga masyarakat Dusun Geger melaksanakan upacara adat Gumbreg sebagai rasa ucap syukur terhadap alam semesta. Melalui hewan ternaknya, petani sudah dibantu mencari penghidupan dan saling menjaga harmoni antara manusia dengan alamnya.

Gumbreg ini digelar oleh warga para petani agar hewan ternaknya semakin sehat, gemuk, dapat berkembang biak, selalu sehat dan aman dari wabah penyakit. Sebab, hewan ternak juga turut memberi rejeki bagi para petaninya.

Rangkaian Gumbreg dimulai dengan setiap warga dusun dibagi menjadi empat bagian masing-masing RT. Mereka berjalan dari arah yang berlainan. Rombongan bapak-bapak ini membawa uba rampe atau sesaji berupa ketupat, pisang, ketan untuk gendurenan dan untuk sajen sapi berupa pulo, karuk, ketan, dan ketupat.

Uba rampe dikumpulkan di dalam sebuah pendapa limasan semacam balai pertemuan warga, kemudian di doakan bersama-sama. Setelah itu ritual dilanjutkan mendatangi masing-masing kandang sapi, lalu rapal mantra dilantunkan dan disambut oleh anak-anak bersahut-sahutan.

Sajen atau sesaji yang sudah didoakan di depan sapi dengan rapal mantra kemudian boleh diperebutkan oleh anak-anak di sekitarnya. Akhir dari runtutan Upacara Gumbreg sudah usai, kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan Jathilan dari Kelompok Mudho Manunggal.

Jathilan ini dimainkan oleh anak-anak muda warga sekitar Dusun Geger yang memiliki potensi kesenian pertunjukan tradisional. Upacara Adat Gumbreg ini mendapatkan fasilitasi dari Dana Keistimewaan DIY melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Pemerintah Daerah DIY. Dalam pembukaan Gumbreg mendapat sambutan dari Endang Widuri selaku Kasi Lembaga Budaya dan Pak Badrun selaku Lurah Seloharjo.

---

Artikel ini ditulis oleh pembaca detik Travel, Elyandra Widharta. Traveler yang hobi berbagi cerita perjalanan, yuk kirim artikel, foto atau snapshot kepada detikTravel di d'Travelers. Link-nya di sini

BERITA TERKAIT
BACA JUGA