Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Selasa, 23 Agu 2022 11:50 WIB

D'TRAVELERS STORIES

Pupuk Cinta Tanah Air dengan Ziarah ke Makam Tan Malaka

Dedy Rahmat Nurda
d'Traveler
Berpose di depan patung Tan Malaka
Berpose di depan patung Tan Malaka
Khusyuk berdoa di makam sang Pahlawan
Khusyuk berdoa di makam sang Pahlawan
Rumah gadang tempat kelahiran Tan Malaka yang indah
Rumah gadang tempat kelahiran Tan Malaka yang indah
Prasasti rumah masa kecil Tan Malaka
Prasasti rumah masa kecil Tan Malaka
Berfoto bersama di jalan masuk rumah Tan Malaka
Berfoto bersama di jalan masuk rumah Tan Malaka
detikTravel Community -

Tan Malaka, salah satu orang yang berjasa dalam membentuk negara Indonesia sepertinya mulai hilang dalam kenangan. Yuk datang ke 'rumahnya' untuk mengenangnya.

Jalan itu nyaris terbilang lurus, membentang sejak dari pusat Kota Payakumbuh terus menuju kearah barat laut, seolah hendak memotong gugusan Bukit Barisan yang samar-samar terlihat dari kejauhan. Hampir sepanjang 45 km panjang ruas jalan itu, namun siapa sangka jalan sepanjang itu hanya dinamai dengan satu nama saja oleh pemerintah daerah setempat, yaitu jalan Tan Malaka.

Nama yang tak terlalu populer itu, sesungguhnya diambil dari nama salah seorang tokoh pendiri Republik yang gaungnya hanya terdengar samar, nyaris terlupa dan tak terdengar, jauh dari hingar bingar euforia catatan sejarah kepahlawanan dalam perjuangan Indonesia merdeka. Dialah Ibrahim bergelar Datuk Tan Malaka.

Jalan lurus yang pagi itu kami lintasi bersama rombongan kecil komunitas pegiat literasi "Pustaka Dua-2" beserta putra-putri itu memang menuju ke sebuah kampung kecil yang bernama Nagari Pandam Gadang, sebuah kampung kecil yang terletak di Kecamatan Gunung Omeh Kabupaten 50 Kota, Sumatera Barat, yang merupakan tanah kelahiran tokoh pemilik nama ruas jalan itu. Ia adalah seorang negarawan yang disebut-sebut sebagai salah satu dari "4 Serangkai Pendiri Republik Indonesia" selain dari Soekarno, Hatta dan Soetan Sjahrir.

Berkendara hampir satu jam perjalanan dari Kota Payakumbuh, pemandangan eksotis khas Minangkabau dengan deretan perbukitan hijau di kejauhan berpadu dengan hijau dan menguningnya areal persawahan. Sesekali terlihat deretan pemukiman yang diantaranya bercirikan atap-atap rumah penduduk yang runcing bagaikan tanduk ala Rumah Gadang, terlihat disela-sela barisan batang kelapa. Sungguh amat memukau mata, hingga membuat perjalanan cukup jauh wisata edukasi kali ini tak terasa membosankan.

Menginjakkan kaki di Nagari (kampung) Pandam Gadang, tak ubahnya sebagaimana kampung-kampung pedesaan yang biasa kita lihat dengan dominasi warna hijau dari persawahan dan ladang-ladang penduduk sejauh mata memandang. Di beberapa tempat terlihat kelompok-kelompok pemukiman yang biasanya disebut dengan jorong, yang satu sama lain dipisahkan oleh puluhan petak sawah, aliran sungai atau bukit yang membelah.

Setelah sempat bertanya kepada salah satu warga sekitar, langkah kami terhenti di salah satu rumah gadang sebagaimana petunjuk yang diberikan. Rumah kayu yang berasitektur khas Minangkabau yang sederhana dan tak terlalu besar, dengan cat kombinasi hijau dan merah bata dengan sebuah ukiran yang bertuliskan 'TAN MALAKA' persis di atas singap atap depan tangga serambi menuju pintu rumah.

Inilah rumah yang kami cari, sungguh sederhana dan bersahaja, jauh dari bayangan 'megah' yang sempat terlintas dalam fikiran kami akan kediaman seorang tokoh besar yang disebut-sebut sebagai orang Indonesia pertama yang mencetuskan kata 'Republik' sebagai bentuk negara Indonesia yang dicita-citakannya, jauh hari sebelum kemerdekaan itu sendiri tercapai. Tan Malaka telah menggagas bentuk negara Republik Indonesia dalam buku yang dituliskannya "Naar de Republiek Indonesia" sejak tahun 1924, atau 21 tahun sebelum Proklamasi dicetuskan dan bentuk negara diputuskan.

Tak ada tanda-tanda peringatan yang megah dan monumental di sini, selain hanya sebuah patung wajah Tan Malaka setinggi hampir 2,5 meter yang berwarna hitam dan dipahat hingga dada dengan bertuliskan namanya dan sedikit riwayat hidupnya. Selanjutnya yang tampak cukup mencolok adalah keberadaan dua buah makam di depan rumah gadang itu, yang mana salah satu nisanya bertuliskan nama "Ibrahim Datuk Tan Malaka", nama tokoh yang sejak tadi kita bicarakan.

Sedangkan makam satunya lagi bertuliskan 'H.M Rasad Bagindo Malano' yaitu makam ayahanda tercinta dari Tan Malaka. Lalu benarkah jasad Tan Malaka yang berbaring di sana ? Sesungguhnya tak ada jasad Tan Malaka yang dikuburkan di sana, karena sejatinya jasad dari bapak bangsa Indonesia itu sejak lama telah terkubur di desa Selopanggung di kawasan gunung Wilis, Kediri Jawa Timur.

Di sanalah Tan Malaka menemui ajalnya, tatkala ia dieksekusi oleh satu regu tentara yang diperintahkan untuk menangkapnya dalam satu pergolakan politik saat itu di tahun 1949. Darah Tan Malaka tumpah di atas tanah negeri yang ia sendiri ikut memperjuangkan kemerdekaannya.

Ia dikubur ditempat dimana ia dieksekusi dan sempat tak diketahui dimana rimbanya lokasi keberadaan tempat pemakamannya. Di tahun 2007, lokasi makam Tan Malaka di Selopanggung Kediri ini akhirnya ditemukan kembali atas jasa dari penelitian sejarawan berkebangsaan Belanda, Harry Poeze yang telah meneliti sejarah hidup Tan Malaka selama puluhan tahun.

Dan di tahun 2017 lalu, sebagian dari bongkahan tanah makam Tan Malaka di Kediri, dibawa pulang ke Nagari Pandam Gadang untuk dimakamkan kembali di depan rumah masa kecilnya. Sementara jasadnya tetap ada di Kediri, karena permintaan dari masyarakat Kediri sendiri yang tak ingin melepas Tan Malaka untuk dibawa pulang ke kampung halamannya. Karena bagi masyarakat Kediri Tan Malaka adalah sosok yang juga mereka cintai.

Kini meski hanya bongkahan tanah makam yang ada ditanam di nagari Pandam Gadang, namun itu sudah cukup sebagai bukti dan sekaligus pengingat bagi anak cucunya, akan besarnya pengorbanan dan perjuangan kakek leluhur mereka, Tan Malaka, dalam memperjuangkan kemerdekaan negeri ini. Cita-cita perjuangan Tan Malaka akan kemerdekaan Indonesia tak akan pernah padam dan akan terus menyala, dilanjutkan oleh generasi kini dan nanti.

Sebagaimana ia semasa hidup dalam sebuah tulisannya pernah berkata 'Ingatlah bahwa dari dalam kubur suara saya akan lebih keras daripada dari atas bumi' Dirgahayu Indonesia.

BERITA TERKAIT
BACA JUGA