Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 17 Agu 2021 08:41 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Sebelum Jakarta, Daerah Ini Pernah Jadi Ibu Kota RI

Indonesia.go.id
detikTravel
Pesona Koto Tinggi, Ibu Kota RI Masa Darurat
Foto: ANTARA FOTO/Iggoy el Fitra
Jakarta -

Tahukah kamu, Indonesia sempat memiliki beberapa ibu kota negara sebelum dipusatkan di DKI Jakarta? Salah satunya Koto Tinggi di Sumatera Barat. Ini profinya.

Koto Tinggi berada di Kabupaten Limapuluh Kota, Sumatera Barat. Daerah ini dikenal akan keindahan deretan Bukit Barisan yang digandrungi wisatawan.

Dilansir dari Indonesia.go.id, Koto Tinggi ini memiliki komoditas unggulan, yakni jeruk. Di sana masyarakat menanami kebun dengan jeruk yang juga diselingi tanaman cabai.

Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa.Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa. Foto: Dok.aieangekcity

Jeruk yang ditanam di sana bukanlah jeruk sembarangan. Dijuluki Jeruk Gunung Omeh, ukuran jeruk ini lebih besar dan manis. Selain itu, kandungan airnya juga melimpah.

Jeruk Gunung Omeh ini juga sudah terkenal hingga ke mancanegara, lho. Pasar Singapura hingga Malaysia sudah dijamah jeruk ini. Wisatawan yang ingin menikmati jeruk itu dapat berkunjung ke agrowisata yang dikelola petani dan kelompok masyarakat sadar wisata.

Nah, selain dapat menikmati jeruk, jika berwisata ke Koto Tinggi, traveler juga dapat menikmati pemandangan Rumah Gadang. Rumah tradisional Minangkabau ini dapat ditemukan dengan mudah di daerah pedesaan.

Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa.Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa. Foto: Dok.Kototinggigunuangomeh

Koto Tinggi dulunya Ibu Kota RI

Di balik pesona alamnya yang memikat, Koto Tinggi menyimpan sejarah perkembangan negara Indonesia. Daerah ini pernah menjadi Ibu Kota Republik Indonesia pada masa Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) tahun 1948.

Sayangnya, meskipun pernah menjadi ibu kota, tak banyak jejak bangunan yang mengabadikan momen tersebut. Ini karena pada masa itu para pemimpin RI tinggal berpindah-pindah.

Tokoh masyarakat Koto Tinggi, Metrial, mengatakan di masa lampau, kakek serta kerabatnya terlibat dalam berbagai kegiatan PDRI. Mereka bahu-membahu bersama pemimpin-pemimpin bangsa kala itu mempertahankan kedaulatan RI.

Ditemani Wali Nagari Arman, Met, begitu beliau biasa disapa, menuturkan awal mula terbentuknya PDRI.

"PDRI terbentuk 22 Desember 1948 di Halaban Limapuluh Kota. Ini akibat agresi Belanda yang menawan Dwi Tunggal Soekarno Hatta," kata Met.

"Mencegah terjadinya kevakuman pimpinan negara, Syafruddin Prawiranegara selaku Menteri Perekonomian yang saat itu sedang berada di Bukittinggi mengambil inisiatif membentuk pemerintahan darurat dan terus menginformasikan kepada dunia akan eksistensi Indonesia," Met menambahkan.

Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa.Sebuah desa kecil di Sumatra Barat (Sumbar) yang selain memiliki potensi menjadi destinasi wisata, juga pernah menjadi penyelamat dalam sejarah perjuangan bangsa. Foto: Dok.aieangekcity

Saat mendapat kabar penyerangan di Yogya, Syafruddin bersama rombongan langsung meninggalkan Bukittinggi. Sebelumnya, mereka menghanguskan seluruh sarana prasarana yang ada, kecuali sebuah radio stesen (stasiun) yang nantinya jadi cikal bakal RRI Bukittinggi. Dari Bukittinggi Syafruddin bergerak ke Halaban.

Daerah ini dipilih karena menjadi posko Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di masa itu, sehingga mereka berpendapat keamanan cukup terjamin. Di sanalah Menteri Syafruddin menunggu kedatangan tokoh lainnya yaitu Gubernur Militer Sumatra Barat, Rasjid.

"Jadi, sebenarnya PDRI itu embrionya dari Bukittinggi, lahir di Halaban dan besarnya bergerilya termasuk di Koto Tinggi," ujarnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2
BERITA TERKAIT
BACA JUGA