Bounty Wreck merujuk pada reruntuhan jetty atau dermaga sepanjang sekitar 30 meter yang sengaja ditenggelamkan pada awal tahun 2000-an. Kini, struktur tersebut berubah menjadi salah satu spot selam yang banyak dicari para penyelam.
Sejak ditenggelamkan, Bounty Wreck menjelma menjadi habitat baru bagi berbagai spesies laut dan menarik banyak penikmat dunia bawah air untuk menjelajahinya. Reruntuhan ini terletak di perairan Gili Meno, Lombok Utara. Konon, nama "Bounty" diambil dari nama resort setempat yang sebelumnya memiliki dermaga tersebut sebelum akhirnya ditenggelamkan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjalanan menuju lokasi saya tempuh dengan menyeberang dari Teluk Nare. Tempat ini menjadi salah satu alternatif penyeberangan menuju Gili Meno serta deretan pulau Gili lainnya seperti Gili Trawangan dan Gili Air.
Berbeda dengan pelabuhan umum Bangsal yang selalu ramai oleh lalu lalang kapal dan penumpang, Teluk Nare cenderung lebih tenang karena umumnya hanya melayani perjalanan dengan kapal privat atau sewaan. Pilihan yang tepat jika ingin menghindari hiruk-pikuk penyeberangan utama.
Teluk Nare terletak di Desa Malaka, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara. Saat itu bulan Februari, cuaca cukup cerah. Beruntung ada sedikit tutupan awan yang membuat udara tidak terlalu menyengat.
Perjalanan terasa istimewa karena kapal kayu yang kami sewa berukuran cukup besar untuk perjalanan privat dengan hanya satu penyelam. Tidak perlu berbagi ruang dengan penumpang lain.
Saya ditemani seorang pemandu selam, kapten kapal, serta seorang asisten yang membantu mengurus peralatan selam. Kapal melaju membelah ombak yang relatif tenang menuju arah barat laut, mendekati Gili Meno. Perjalanan ini hanya memakan waktu kurang dari 15 menit.
Setelah itu kapal sedikit berbelok ke arah utara. Tak lama kemudian kami tiba di titik tujuan: Bounty Wreck. Sejujurnya saya tidak menaruh ekspektasi terlalu tinggi. Keputusan menyelam diambil secara mendadak di sela perjalanan kerja. Selain itu, cukup lama sejak terakhir kali saya menyelam. Secara alami hal tersebut sedikit menggerus rasa percaya diri di dalam air.
Ditemani Lombok Dive, operator selam yang bersedia mengatur perjalanan mendadak ini, ternyata pengalaman yang saya dapat justru melebihi ekspektasi.
Obrolan mengenai lokasi penyelaman baru terjadi di perjalanan dari hotel tempat saya menginap di Mataram menuju Teluk Nare bersama dive master. Awalnya saya setuju dengan tawaran untuk menyelam di tepian Teluk Nare.
Namun sesaat setelah tiba, kondisi dari permukaan menunjukkan jarak pandang kemungkinan terbatas. Partikel halus dari dasar laut yang terbawa arus tampak mengambang di air.
Dive master kemudian menawarkan opsi lain: boat dive di Bounty Wreck. Saya langsung menyetujuinya.
Keputusan itu ternyata tepat. Bounty Wreck kini terselimuti karang keras dan karang lunak. Jarak pandang cukup baik dan hampir tidak ada arus dasar laut. Kondisi ini memungkinkan saya menikmati kehidupan bawah laut di sekitar reruntuhan sembari kembali mengingat teknik menyelam dan mengatur buoyancy. Tekanan air sempat menimbulkan rasa kurang nyaman di telinga di awal penyelaman. Namun beberapa menit kemudian rasa itu menghilang.
Beberapa penyelam dari kapal lain juga turun di titik yang sama. Reruntuhan jetty tersebut telah berubah menjadi karang artifisial yang dipenuhi berbagai substrat laut.
Struktur logam besar menciptakan banyak ruang teduh dan celah bagi makhluk laut berukuran mikro. Tidak heran beberapa penyelam terlihat membawa kamera dengan lensa pembesaran, tampaknya berburu objek makro.
Dengan mata telanjang pun kehidupan kecil mudah ditemukan. Nudibranch-sejenis siput laut tanpa cangkang-tampak berwarna-warni. Selain itu terlihat pula berbagai invertebrata kecil, cuttlefish, krustasea seperti udang-udangan kecil, serta ikan-ikan mungil khas perairan tropis.
Sekelompok ikan yang saya duga sejenis rabbit fish juga melintas di depan mata. Beberapa jenis ikan lain yang tidak saya kenali ikut berkeliling di sekitar wreck.
Pemandangan bawah laut yang benar-benar saya rindukan.
Hiburan kecil lainnya adalah melihat ikan buntal bertotol yang tubuhnya tampak jenaka. Ikan ini hidup lebih soliter, namun tetap menarik perhatian setiap kali muncul.
Rentang kedalaman Bounty Wreck bervariasi antara 6 hingga 18 meter, sehingga kehidupan bawah laut yang bisa dinikmati juga cukup beragam.
Di sekitar wreck memang tidak terlihat banyak koloni karang besar. Beberapa patahan karang tampak berserakan, kemungkinan akibat aktivitas wisata, jangkar kapal, atau faktor alami lainnya.
Meski begitu, secara keseluruhan pemandangannya tetap memanjakan mata.
Setelah kembali ke permukaan, kapal bergoyang cukup kuat diterpa gelombang karena mesinnya sengaja dimatikan selama penyelaman. Beberapa menit di atas kapal saat rehat interval, saya mengeluhkan rasa mual yang tidak nyaman.
Pemandu selam menanyakan keinginan saya, apakah akan turun lagi atau mencukupkan penyelaman. Di tengah deraan mual, saya tahu momen apa yang akan saya lewatkan jika mengiyakan. Saya menjawab dengan keyakinan penuh, meminta awak meneruskan, untuk turun lagi ke titik penyelaman berikut. Mesin kapal kembali dinyalakan, haluan kapal kembali memecah gelombang, Rasa mual saya menguap pergi.












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons