Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera

Mohammad Jafar Bua - detikTravel
Sabtu, 20 Jun 2026 16:02 WIB
loading...
Mohammad Jafar Bua
Ketua Paralayang Indonesia, Asgaf.
Asgaf, Hendra Daniel Wilar dan Hendra Noval sesaat setelah terbang di atas Gunung Kerinci.
Ketua Paralayang Indonesia, Asgaf.
Tim Kerinci Archipelago.
Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera
Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera
Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera
Hike and Fly, Pilot Paralayang Menari di Atap Sumatera
Jambi -

Di banyak gunung, puncak adalah garis akhir. Namun di Gunung Kerinci, puncak justru menjadi gerbang menuju petualangan berikutnya. 18 Juni 2026 pagi, tiga pilot paralayang Indonesia berdiri di titik tertinggi Sumatra, 3.805 meter di atas permukaan laut.

Di hadapan mereka terbentang lautan awan, hutan tropis, dan rangkaian Pegunungan Bukit Barisan yang memanjang hingga cakrawala. Ketua Paralayang Indonesia Asgaf S.Pd., M.Pd., bersama Dr. Hendra Daniel Wilar, S.H., M.H., serta Hendra Noval dari Kerinci Paragliding Club datang bukan sekadar mendaki.

Mereka menjalankan ekspedisi 'hike and fly', olahraga yang memadukan pendakian gunung dan penerbangan menggunakan paralayang. Di Eropa, khususnya kawasan Alpen, 'hike and fly' telah menjadi bagian penting wisata petualangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Indonesia sesungguhnya memiliki modal yang tak kalah besar. Dengan ratusan gunung dan bentang alam yang beragam, negeri ini menyimpan potensi luar biasa yang belum sepenuhnya dikenal dunia.

Gunung Kerinci berdiri di jantung Taman Nasional Kerinci Seblat, kawasan konservasi yang menjadi habitat berbagai satwa langka seperti harimau Sumatra, tapir, dan beruang madu. Perpaduan kekayaan alam, geologi, dan budaya menjadikan kawasan ini salah satu lanskap pegunungan paling menarik di Asia Tenggara.

"Sering kali kita mencari destinasi petualangan ke luar negeri, padahal Indonesia memiliki lokasi yang kualitasnya setara bahkan lebih menarik," ujar Asgaf.

Perjalanan dimulai sehari sebelumnya dari Pintu Rimba, Kayu Aro. Berbeda dengan pendaki biasa, peserta 'hike and fly' harus membawa perlengkapan mendaki sekaligus perlengkapan terbang dengan total beban belasan kilogram.

Setiap langkah terasa lebih berat, namun justru di situlah esensi olahraga ini. Jalur pendakian membawa rombongan melintasi hutan hujan tropis yang rapat. Kanopi pohon menjulang tinggi, sementara suara burung dan serangga mengiringi perjalanan.

Semakin jauh memasuki rimba, semakin terasa bahwa manusia hanyalah tamu sementara di tengah alam yang telah hidup selama ribuan tahun. Setelah hampir sembilan jam berjalan, mereka tiba di Shelter 3 untuk bermalam.

Dari sana, lampu-lampu permukiman di Lembah Kerinci tampak seperti titik cahaya kecil. Saat malam turun, langit dipenuhi bintang dan bentangan Galaksi Bima Sakti terlihat jelas.

Bagi Hendra Daniel, momen seperti itulah yang membuat seseorang selalu rindu kembali ke gunung. Di alam liar, hidup terasa lebih sederhana dan jernih. Pendakian menuju puncak dimulai sebelum fajar.

Medan vulkanik yang curam menguras tenaga, tetapi seluruh perjuangan terbayar ketika matahari muncul dari ufuk timur. Langit berubah jingga keemasan, sementara bayangan Kerinci membentuk siluet raksasa di atas lautan awan.

Sesampainya di puncak, perhatian tertuju pada cuaca. Dalam dunia paralayang, alam adalah penentu utama. Keahlian pilot tidak akan berarti tanpa kondisi yang mendukung.

Pagi itu, angin bertiup stabil dengan arah ideal untuk lepas landas. Pada pukul 08.43 WIB, Hendra Daniel menjadi pilot pertama yang mengudara, disusul Asgaf dan Hendra Noval.

Beberapa langkah cepat di lereng gunung, kanopi terbuka sempurna, lalu tubuh mereka terangkat meninggalkan bumi. Dalam hitungan detik, puncak Kerinci berubah menjadi titik kecil di kejauhan. Menurut Asgaf, sensasi pertama saat terbang bukanlah ketegangan, melainkan ketenangan.

Dari udara, jalur pendakian tampak seperti garis tipis, sementara hutan berubah menjadi hamparan hijau tanpa batas. Salah satu pemandangan paling memukau adalah Danau Gunung Tujuh.

Danau kaldera tertinggi di Asia Tenggara itu tampak seperti batu safir raksasa di tengah pegunungan. Tak jauh dari sana, hamparan perkebunan teh Kayu Aro membentuk pola hijau yang mengikuti lekuk lereng.

"Inilah keistimewaan Kerinci. Dalam satu penerbangan, kita dapat melihat gunung api aktif, hutan hujan tropis, danau kaldera, perkebunan teh, hingga permukiman masyarakat," kata Asgaf.

Setelah sekitar 35 menit mengudara, ketiga pilot mendarat dengan aman di kawasan perkebunan teh PTPN IV. Namun keberhasilan penerbangan bukanlah pesan utama ekspedisi ini.

Pesan yang ingin disampaikan jauh lebih besar: Indonesia memiliki peluang menjadi salah satu pusat wisata petualangan dunia. Di berbagai negara, sport tourism berkembang pesat karena wisatawan tidak lagi hanya ingin melihat pemandangan, tetapi juga mengalaminya secara langsung.

Kerinci memiliki hampir seluruh unsur yang dibutuhkan untuk menjadi destinasi 'hike and fly' kelas internasional, ketinggian ideal, kondisi meteorologi yang mendukung, panorama spektakuler, serta budaya lokal yang kuat.

Dengan pengelolaan profesional dan komitmen terhadap konservasi, kawasan ini berpotensi menjadi model wisata petualangan berkelanjutan di Indonesia. Menjelang siang, awan kembali menyelimuti puncak Kerinci.

Gunung itu tampak tenang, seolah tidak terjadi apa-apa. Namun seperti semua gunung besar, yang tertinggal bukanlah jejak langkah manusia, melainkan cerita. Cerita tentang langit yang terasa lebih dekat, angin yang menjadi sahabat perjalanan, dan sebuah pagi di atap Sumatra yang membuktikan bahwa petualangan kelas dunia tidak selalu berada di negeri yang jauh. Kadang-kadang, ia berada di rumah kita sendiri, menunggu untuk ditemukan dan diceritakan kepada dunia.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads