Di tengah gempuran tren modern dan aktivitas serba digital, membatik dengan canting masih punya tempat tersendiri. Pengunjung Museum Batik TMII diajak merasakan langsung proses membuat batik tulis, dari menggoreskan malam hingga membentuk motif di atas kain.
Kegiatan bertajuk workshop mencanting itu diadakan di Ruang Lokakarya Museum Batik Indonesia TMII. Di ruangan tersebut terdapat alat batik tulis dan batik cap, seperti lilin malam hingga kain mori.
Nyaris semua alat batik di sini dipesan langsung dari perajin lokal Pulau Jawa bagian tengah, tepatnya di Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Mulai dari canting, kompor listrik, hingga meja khusus batik cap dipesan dari sana. Prosesnya dimulai dari pemilihan motif.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sejumlah motif batik yang bisa dipilih peserta adalah motif batik ceplok, megamendung, parang, dan kawung. Selain itu, ada motif bunga teratai dan bunga matahari yang bisa ditentukan sesuai keinginan pengunjung. Usai memilih motif, peserta memasuki tahap selanjutnya, yakni tracing atau menggambar pola sesuai motif yang dipilih.
Sambil menggenggam sebuah pensil, para peserta akan menggambar di selembar kain mori berukuran sekitar 30 x 30 sentimeter dengan mengikuti motif batik.
Di tengah proses menggambar, sebuah kompor listrik mulai dinyalakan untuk memanaskan malam. Aroma khas dari malam yang sedang dipanaskan langsung tercium. Dari proses itu, asap tipis muncul sebagai pertanda bahwa malam mulai mencair. Sampai malam mencair, proses yang dibutuhkan sekitar 10 menit.
Sembari menunggu proses tersebut, peserta kemudian memindahkan selembar kain mori ke sebuah alat yang dinamakan pemidangan. Pemidangan merupakan alat berbentuk bulat yang digunakan untuk merentangkan dan mengencangkan kain.
Di workshop kali ini, pemidangan berfungsi untuk menahan kain tidak mengerut saat malam mulai digoreskan di atasnya. Peserta diajarkan cara memegang pemidangan agar bisa menggoreskan malam batik dengan lancar. Pemidangan harus dipegang dengan posisi hampir 90 derajat untuk memudahkan proses mencanting.
Akhirnya, peserta akan melalui tahap inti dari kegiatan workshop, yakni mencanting. Edukator Museum Batik Indonesia, Melvi Ilya Herdiana, memandu para peserta dalam proses menuangkan malam menggunakan canting tradisional dengan teknik khusus.
Nah, cara pegangnya berlawanan dari cara pegang pensil. Kalau pegang canting, (lubang untuk keluar malam) diarahkan lebih naik. Ini untuk mengatur tetesan dengan malam panasnya, biar nggak terlalu banyak. Cantingnya (dipegang) 45 derajat," kata Melvi kepada detikTravel, Rabu (9/9/2026).
Ia juga menjelaskan bahwa pengambilan malam tidak perlu memenuhi kapasitas canting. Pengambilan cairan malam bisa sedikit karena gampang membeku kalau sudah terkena udara. Di proses ini, peserta juga diwajibkan mengenakan celemek sebagai alas untuk untuk menghindari malam yang jatuh mengenai pakaian.
Tangan para peserta mulai menari-nari, menggoreskan malam di sehelai kain dengan mengikuti pola batik yang sudah tergambar. Proses ini memakan waktu sekitar 10 menit, tergantung dari kepiawaian para peserta. Ketenangan dan kesabaran peserta diuji di tahap mencanting. Proses ini harus dilakukan dengan penuh hati-hati supaya goresan malam tidak keluar dari pola batik.
Usai menyelesaikan proses mencanting sesuai pola batik yang ada, peserta boleh membuat karya di sisi kain yang masih kosong. Biasanya, peserta menuliskan nama atau simbol khusus sebagai tanda kalau itu hasil karya mereka. Tak terasa, para peserta telah melewati rangkaian tahapan membatik dengan canting yang kurang lebih sekitar 30 menit.
Proses pembelajaran mencanting selesai, peserta boleh membawa pulang hasil karya tersebut. Workshop mencanting diadakan setiap hari Selasa-Minggu di Museum Batik Indonesia TMII. Kegiatan ini diadakan dalam dua sesi, sesi pertama berlangsung pukul 10.00 WIB (khusus rombongan). Sesi kedua berlangsung pukul 13.00 WIB (khusus perorangan).
Untuk merasakan pengalaman membatik dengan canting tradisional, setiap peserta wajib membeli tiket workshop mencanting di tempat. Tarif untuk wisatawan lokal Rp 25.000 dan wisatawan mancanegara Rp 35.000.











































Komentar Terbanyak
Bandara Supadio Kacau, Penumpang Gelar Demo dan Nginap Masal
Aturan Bagasi Baru Garuda Indonesia Diprotes
Rumah Trump Dijaga Ketat, FAA Batasi Penerbangan di Langit Palm Beach