Aturan bagasi baru Garuda Indonesia mendapat respons dari para penumpang. Sejumlah penumpang yang terdampak aturan ini menilai bahwa aturan ini membuat perjalanan lebih ringkas, tetapi ada pula yang mulai harus lebih teliti menimbang koper.
Sejumlah penumpang ditemui detikTravel di Terminal 3 Gate 5 Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Bagi sejumlah penumpang, ketentuan baru dinilai masih cukup mudah diikuti.
Garuda Indonesia resmi mulai menerapkan sistem piece concept untuk bagasi tercatat pada tiket yang dibeli atau diterbitkan per 1 September 2026. Di penerbangan domestik, jika tiket mencantumkan jatah satu koper dengan berat maksimal 23 kilogram, penumpang tidak bisa lagi membagi atau menggabungkan jatah berat tersebut ke koper yang berbeda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan ini membuat urusan mengemas barang sedikit berbeda. Kini penumpang perlu lebih teliti memperhatikan jumlah total berat barang dan jumlah koper dengan batas berat yang tercantum.
Salah satu penumpang yang dijumpai detikTravel, Hasanudin ikut merespons kebijakan tersebut sebagai hal yang bukan masalah besar. Ia menilai penumpang memang perlu mengikuti ketentuan maskapai yang digunakan.
"Semuanya ada plus minusnya. Tetapi kita sebagai penumpang ya kita mengikuti gitu kan. Tetapi terlepas dari demikian, semua itu kalau memang itu aturan, ya kita akan ikuti gitu kan. Kalau pun kami berangkat, kami sudah perkirakan, misalnya kita harus timbang dulu, betul enggak 23 kg," kata dia.
Sementara penumpang lain, Najla justru melihat perubahan ini menjadi ketentuan bagasi yang terasa lebih seragam dengan penerbangan internasional yang selama ini ia gunakan.
"Rasanya lebih seragam gitu ya peraturannya karena biasanya juga untuk penerbangan internasional yang lain itu menerapkan peraturan yang sama. Kalau travel, biasanya saya nggak terlalu banyak bawa barang. Jadi terkait peraturannya dihitung dari jumlah bagasi atau kilo itu nggak masalah sih, karena udah lebih nyaman jadinya," Najla menjelaskan kepada detikTravel.
Respons serupa disampaikan Agus Iswadi. Ia melihat pembatasan berdasarkan jumlah koper sebagai hal yang masih diterima selama barang bawaan dapat ditata dengan baik.
"Sebenarnya kalau dari sisi saya sendiri nggak ada masalah sih, karena kalau menurut aturannya di situ kan per luggage ya, per koper ya. Sebenarnya nggak masalah, mungkin karena Garuda Indonesia supaya simpel ya penempatan barang-barang tidak makan tempat," komentar Agus.
Menurut Agus, sistem berdasarkan jumlah koper juga dapat membuat penempatan barang lebih sederhana. Namun, dirinya juga memahami kalau aturan baru bisa terasa beda bagi penumpang yang membawa lebih banyak barang, seperti oleh-oleh atau suvenir dari perjalanan.
Sementara itu, Lilly mengatakan kalau kebijakan bagasi baru malah terasa praktis. Dia mengaku terbiasa membawa tas berukuran besar sehingga pembatasan tersebut tidak terlalu mengganggu penerbangannya. "Itu menurut saya jadi lebih ringkas, jadi lebih baik. Karena saya biasa bawa bag yang besar. Jadi kayaknya memudahkan banget buat saya," ucap Lilly.
Tak hanya itu, Riadi juga mengomentari kebijakan bagasi baru Garuda Indonesia. Ia merasa kalau jatah satu koper 23 kilogram untuk penerbangan domestik masih cukup untuk kebutuhan perjalanannya.
"Kalau misalkan ada aturan 23 kg untuk satu koper sih nggak masalah. Kalau untuk satu koper kan cukup, semua barang bisa terkumpul di sana dengan berat maksimal, udah cukup," komentar Riadi.
Respons para penumpang menunjukkan pengalaman terhadap aturan bagasi bisa berbeda.. Bagi mereka yang terbiasa terbang dengan barang secukupnya, aturan ini cukup bikin praktis. Sementara itu, bagi penumpang dengan banyak bawaan perlu lebih cermat mengatur penataan barang di koper sebelum berangkat.
Perubahan paling terasa bukan sekadar batas maksimal barang yang dibawa, tetapi cara penumpang menyiapkan barang sebelum terbang. Cek jatah bagasi di e-ticket dan timbang koper sebelum berangkat kini menjadi langkah kecil yang bisa bikin perjalanan lebih tenang.











































Komentar Terbanyak
Kata Pramugari, Kalau Bisa Penumpang Tak Pakai Meja Lipat di Penerbangan
Whoosh Belum Bikin Untung dari Tiket, tapi Benarkah Indonesia Rugi?
Nih Buat Penggemar Pokemon, Bisa Tidur di Poke Ball dan Gratis Pula!