Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta

Vicky Fadly Ardana Putra - detikTravel
Minggu, 18 Okt 2026 15:22 WIB
loading...
Vicky Fadly Ardana Putra
Suasana limasan di Kampoeng Djoang dilengkapi koleksi benda jadul para pejuang. (Foto Vicky Fadly).
Kampoeng Djoang di kawasan Museum Satria Mandala. (Foto Vicky Fadly).
Spot foto sepeda jadul yang dipajang di depan Kampoeng Djoang. (Foto Vicky Fadly).
Suasana di depan limasan Kampoeng Djoang terdapat becak dan area duduk. (Foto Vicky Fadly).
Suasana Kampoeng Djoang. (Foto Vicky Fadly).
Koleksi jam kuno di Kampoeng Djoang. (Foto Vicky Fadly).
Suasana di Kampoeng Djoang. (Foto Vicky Fadly).
Suasana di Kampoeng Djoang. (Foto Vicky Fadly).
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Bak di Desa, Begini Suasana Limasan Jadul di Jakarta
Jakarta -

Di tengah kota Jakarta, pemandangan seperti di kampung halaman ternyata masih bisa ditemukan. Suasana klasik bak di desa dapat dinikmati ketika berkunjung ke Kampoeng Djoang.

Kampoeng Djoang bukan sembarangan tempat makan. Nuansa vintage, klasik, hingga beberapa koleksi persenjataan pada zaman perang bisa dijumpai di rumah limasan ini. Pemandangan masih asri, rumah limasan ini dikelilingi oleh pepohonan hijau yang rindang.

Suasana di dalam limasan juga terasa seperti memasuki era zaman dulu. Pengurus Kampoeng Djoang, Julian mengatakan bahwa bangunan limasan Kampoeng Djoang sendiri diambil dari rumah yang sempat digunakan Panglima Besar Jenderal Sudirman saat perang gerilya di Pacitan. "Kampoeng Djoang ini sendiri bukan sembarangan kita bikin Kampoeng Djoang.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Rumah limasan ini tuh dulunya limasannya Jenderal Sudirman yang dipakai sebagai tempat tinggal saat perang gerilya di Pacitan," kata Julian kepada detikTravel, Senin (12/10/2026).

Julian mengatakan bahwa rumah gerilya Jenderal Sudirman di Pacitan tersebut sudah tidak terpakai. Karena sudah tidak terpakai, akhirnya rumah limasan ini dibongkar dan dibawa ke area museum.

ADVERTISEMENT

"Rumahnya yang ada di Pacitan itu dibawa ke sini. Rumahnya Jenderal Sudirman itu namanya rumah gerilya, waktu dia gerilya itu kan tinggal di situ (limasan). Nah, rumah limasan ini daripada tidak terurus akhirnya dibongkar dan dibawa ke sini," tambahnya.

Nama Kampoeng Djoang diambil karena seolah-olah pengunjung yang datang sedang ada di kampung halaman para pejuang. Tak biasa, rumah ini dilengkapi koleksi foto-foto, peninggalan senjata hingga benda kuno milik para pejuang Indonesia masa lampau. Tempat ini juga dilengkapi dengan sepeda kuno, becak, hingga barang-barang jadul.

Di sini, pengunjung bisa melakukan beragam aktivitas, seperti menyantap makanan dan minuman, foto-foto, nongkrong, atau sekadar bengong sambil membayangkan suasana zaman dulu.

Melengkapi suasana seperti di kampung halaman, menu-menu yang ditawarkan juga berupa menu tradisional. Harga menu makanan dan minuman mulai dari Rp 6.000 hingga Rp 45.000. Menu tradisional yang menarik dicoba seperti mendoan dengan harga Rp 25.000. Selain itu, ada minuman susu jahe yang dibanderol Rp 25.000 hingga minuman badak dengan harga Rp 30.000.

Kampoeng Djoang buka setiap hari Senin-Minggu mulai pukul 10.00 hingga 20.00 WIB. Lokasinya berada di kawasan Museum Satria Mandala, Jakarta Selatan. Traveler yang ingin mencoba suasana bak di kampung halaman ini dapat membeli tiket museum dengan harga Rp 5.000. Kampoeng Djoang cocok disinggahi wisatawan yang ingin rehat sejenak setelah mengelilingi Museum Satria Mandala.

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads