Saat itu hari telah larut, saya bersama rekan media dan rombongan dari Bridgestone sedang berkunjung ke Desa Samboja Lestari, Kabupaten Kutai Kertanegara, Kalimantan Timur pada Rabu (11/7/2012). Kami datang khusus untuk menengok rumah primata endemik Kalimantan, orangutan.
Dengan tubuh yang lelah dan perut lapar, kami mulai menuju penginapan yang lokasinya tepat di tengah hutan. Kegelapan menyelimuti seluruh rombongan saat itu. Beruntungnya, tempat kami menginap telah dilengkapi dengan generator, lampu menyinari setiap sudut penginapan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di tengah tekunnya kami menikmati santap malam, sudut mata saya menangkap ada 5 gadis cantik berkulit putih datang, dan duduk di pinggir ruangan. Tubuhnya dibalut dengan pakaian manik-manik khas Kalimantan. Tangannya terlihat memegang bulu-bulu mirip bulu burung yang dirangkai seperti kipas.
Saya pun menjatuhkan pandangan ke arah meja tempat gadis cantik ini duduk. Sebuah topi unik dengan tulang sebagai penghiasnya tersusun rapi di atas meja. Tak mau menyimpan rasa penasaran lebih lama, saya pun menghampiri mereka.
"Ini tulang sapi," kata salah satu gadis cantik ini.
Belum sempat melanjutkan pertanyaan, kelima gadis dipanggil untuk unjuk kebolehan menari. Oh rupanya mereka adalah kumpulan penari yang akan menghibur makan malam kami. Kelima gadis ini akan membawakan tarian Burung Enggang.
Tari Burung Enggang adalah tarian khas suku Dayak Kenyah. Tarian ini memang rutin ditampilkan di setiap acara, seperti penyambutan tamu.
Terjawablah rasa ingin tahu saya. Bulu yang dirangkai menyerupai kipas rupanya salah satu properti menari. Dengan lemah gemulai, mereka mulai menari, melenggak-lenggokkan tubuh, dan menganyunkan kipas yang ada di tangan mengikuti alunan musik.
Halus sekali gerakan penari ini. Hampir seluruh peserta rombongan terkesima dengan penampilan mereka. Ada yang berhenti makan, ada pula yang sibuk mengabadikan tarian dalam jepretan kamera.
Tak lebih dari 15 menit para penari ini menghibur malam pertama kami di Samboja. Tapi suatu kesan terpatri jelas di memori saya, inilah Indonesia yang begitu kaya budaya.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Sejarah Tembok Ratapan yang Asli: Tempat Suci Umat Yahudi