Kecamatan Imogiri terletak 20 km sebelah selatan Kota Yogyakarta. Sebuah gapura besi berwarna hijau tua akan menuntun wisatawan masuk ke dalam sebuah kompleks yang dikenal sakral. "Pajimatan Girirejo Imogiri" begitu tulisan yang tertera di papan tersebut.
Ratusan anak tangga menghampar di depan mata, konon jumlahnya 409. Anak tangga inilah yang akan menuntun Anda ke Pemakaman Imogiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemakaman Imogiri dinaungi pohon-pohon rindang. Gapura selanjutnya adalah Gapura Supit Urang yang mencirikan arsitektur Bali lewat material batu bata yang dominan. Pemakaman Kerajaan Surakarta Hadiningrat ada di sebelah barat, sementara pemakaman Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat di sebelah timur.
Adalah Sultan Agung Hanyokrokusumo, orang di balik dibangunnya Pemakaman Imogiri. Waktu itu tahun 1632, dan kompleks Imogiri telah terbagi jadi dua. Pengaruh Belanda telah memecahkan Kerajaan Mataram menjadi dua, Surakarta dan Yogyakarta. Sang Sultan sekaligus menjadi orang pertama yang dimakamkan di sini.
Di Pemakaman Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat terdapat makam Sri Paduka Hamengku Buwana I sampai Sri Paduka Hamengku Buwana IX, kecuali Hamengku Buwana II yang dimakamkan di Kotagede. Sementara di Pemakaman Kerajaan Surakarta Hadiningrat, terdapat makam Raja Paku Buwana mulai dari Sri Paduka Paku Buwana I sampai Sri Paduka Paku Buwana XI.
Sakralnya tempat ini juga tercermin lewat banyaknya peziarah yang bertapa di sisi makam. Pengunjung juga bisa melihat beberapa peninggalan Sultan Agung, seperti empat tempayan pemberian Kerajaan Sriwijaya (Palembang) dan Syam (Thailand). Ada juga cincin kayu yang terbuat dari tongkat Sultan Agung.
Anda bisa menyambangi kompleks Imogiri tiap Senin, Jumat, dan Minggu kecuali Ramadan dan hari besar agama Islam. Saat berkunjung, jangan lupa mengobrol dengan para peziarah atau penjaga makam. Anda akan mendapat banyak cerita, tentang sejarah dan unsur sakral yang menyelimuti kompleks Imogiri.
(sst/aff)










































