Hans Christian Andersen memang pendongeng jagoan. Semasa hidupnya di abad ke-19, lahirlah dongeng seperti Thumbelina, Gadis Korek Api, Itik Buruk Rupa dan tentu saja si Putri Duyung Kecil. Yang terakhir ini, diangkat menjadi film animasi oleh Disney dengan judul Little Mermaid.
Untuk menghargai jasa Andersen, maka dibuatlah patung Putri Duyung di Copenhagen. Ide ini digagas oleh Carl Jacobsen, anak dari pemilik perusahaan bir Carlsberg pada 1909. Yang menjadi pematung adalah Edvard Eriksen dengan memakai model istrinya sendiri untuk tubuh, dan ballerina Ellen Price untuk kepalanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk yang baru pertama kali melihatnya, cukup mengejutkan juga. Seperti waktu detikTravel berkunjung beberapa waktu lalu. Meskipun patung ini menjadi maskot Copenhagen yang terkenal di dunia, ukurannya ternyata kecil. Tingginya hanya 1,25 meter dengan berat 175 kg.
Meski begitu, turis tetap membanjir ke pelabuhan ini. Ternyata, patung Putri Duyung hanya sedikit saja menjorok ke lautan. Para turis masih bisa menjangkau patung ini dengan berdiri di tepi dermaga, dan bebatuan agar bisa berfoto dari dekat.
Di tempat tersebut ada larangan memanjat batu dan patung Putri Duyung. Tapi, tetap saja ada turis yang tidak peduli. Memang tidak ada polisi yang menjaga maskot Copenhagen ini. Kawasan dermaga Langelinie pun secara umum memang sepi, kecuali di sekitar patung.
Itu sebabnya, patung Putri Duyung ini rawan dijahili wisatawan dan sudah berulang kali direnovasi. Sepanjang sejarah, Putri Duyung ini pernah dicat sampai dipotong kepala dan tangannya.
Copenhagen pun punya banyak oleh-oleh bertema Putri Duyung. Berbagai toko suvenir Copenhagen menyediakan aneka cinderamata mulai dari miniatur patung lengkap dengan batu dudukannya sampai T Shirt Putri Duyung. Jangan lupa untuk mampir ke Museum Hans Christian Andersen di seberang Balaikota Copenhagen, ya!
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Parah Banget! Turis Thailand Jadi Korban Maling di Bromo, 7 Koper Hilang
11 Bandara Papua Ditutup
Investor Serbu Gunungkidul, GKR Mangkubumi: Kita Adalah Jogja, Bukan Bali