MesaStila adalah sebuah resor mewah bernuansa Jawa klasik di Losari, Magelang. Tempat yang dulunya bernama Losari Spa Retreat and Coffee Plantation ini, berada di areal seluas 22 hektar yang separuhnya adalah perkebunan kopi. 22 Villa dan aneka bangunan lain adalah asli rumah joglo dan limas tua yang direlokasi ke MesaStila.
detikTravel mencoba agrowisata kopi ini pada pekan lalu. Hawa sejuk dan embun pagi pukul 07.00 WIB menemani saya di depan Club House MesaStila, berupa sebuah rumah bergaya kolonial. Seorang pria menjadi pemandu kami pagi itu. Yoyok namanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari situ, kami berjalan ke sisi kiri Club House dan dimulailah tur kami di kebun kopi dalam cuaca yang agak gerimis. Di tengah-tengah pohon kopi yang tingginya hanya sekitar 2 meter itu, Yoyok berkisah kalau MesaStila menanam 4 jenis kopi yaitu robusta, arabica, excelsa dan jawa.
Losari yang berada di ketinggian 800 mdpl memang cocok untuk ditanami kopi. Turun ke bagian lembah, kami disambut sebuah kolam ikan yang cantik dan sepi. Menurut Yoyok, kolam ikan ini diairi dengan mata air kecil di dekatnya.
Saya pun dikenalkan cara membedakan jenis kopi berdasarkan ukuran daunnya. Yoyok pun menjelaskan teknik budidaya kopi dengan cara okulasi, sehingga satu pohon kopi bisa berbuah lebih dari satu jenis kopi.
Di tengah-tengah kebun kopi, MesaStila memiliki bangunan yang disebut dengan 'warung' seluas 10x5 meter. Ini adalah tempat peserta tur kopi rehat sejenak dengan pemandangan perbukitan yang cantik. Suguhannya tidak lain adalah kopi tubruk yang dipanen dari MesaStila.
Di sekitar warung, wisatawan bisa melihat bibit kopi dan tempat penjemuran. Jangan lupa mencoba menggiling kopi di alat penggilingan. Seru!
Nah, siap-siap untuk camilan unik di sini. Di meja kayu panjang, tersaji piring berisi biji kopi panggang yang belum digiling dan piring lainnya berisi remukan gula merah.
"Belum pernah coba kan, Mas? Ambil biji kopinya dan dimakan bareng dengan gula merahnya," kata Yoyok.
Saya pun mengambil biji kopi dan sejumput gula merah. Kriuk! Wah, biji kopinya renyah dan garing. Tidak sulit untuk mengunyahnya. Gula merah pun lumer di dalam mulut bersama dengan biji kopi garing ini. Rasanya seperti mengunyah permen kopi. Tak terasa, saya pun menjadi ketagihan. Sumpah enak!
Apalagi, pemandangan makin sedap menatap perbukitan dengan segelas kopi tubruk panas yang diberi gula merah. Ada juga camilan buah pisang untuk menambah ramai meja kami pagi itu.
Sebelum kami meninggalkan warung, Yoyok memperlihatkan mesin panggang biji kopi dengan cara diputar terus menerus agar terpanggang merata. Ada juga sejumlah panci yang berisi godokan jamu.
Tur kebun kopi kami berlanjut melihat kandang kuda milik MesaStila yang belum setahun dibangun. Kuda-kuda berbulu mengkilat tampak sehat dan gagah. Di sebelah kandang kuda, ada perkebunan sayur dengan selada hijau segar yang menggoda, begitupun daun oregano.
Jalan perkebunan kopi itu akhirnya tembus ke vila-vila milik Mesa Stila, menandai akhir dari tur perkebunan kopi ini. Para tamu yang menginap di MesaStila bisa menikmati tur kebun kopi ini, atau menikmati jalanannya dengan bersepeda.
Namun, wisatawan umum pun bisa menikmati tur kebun kopi, gratis. "Coffee plantation tour termasuk makan siang, tanpa menginap, bisa dengan Rp 450.000 ++ per orang," kata Direktur Marketing MesaStila Sri Utami kepada detikTravel.
Tertarik mencoba?
(ptr/fay)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Setelah Viral Dugaan Diskriminasi WNI di Acara Lari, Entourage Bali Minta Maaf
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten