Suhu 5 derajat Celcius langsung menyambut begitu detikTravel dan rombongan keluar dari Bandara Demodedovo, satu dari tiga bandara internasional di Moskow, Rusia. Sebelumnya saya dan rombongan telah belasan jam mengudara plus transit 7 jam di Abu Dhabi. Jaket tebal pun segera dikancingkan, demikian juga sarung tangan.
Jam menunjukkan pukul 16.00 sore, Jumat 16 November 2012. Sementara ada acara super duper penting yang wajib dihadiri pada pukul 18.00 sore di Hotel Ararat Park Hyatt di jantung Moskow. Naik mobil jelas tidak keburu, karena bandara terletak 40 km dari pusat Moskow dan jalanan macet.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengejar waktu, kami naik kereta ekspres. Tarifnya sekitar 350 rubel atau Rp 120 ribu. Tak banyak penumpang naik kereta dengan tempat duduk dua-dua ini. Meski demikian, kereta tetap melaju menuju pusat kota. Bayangan pun berkelebat di benak bahwa akan seperti inilah kereta Bandara Soekarno-Hatta ke Manggarai di masa mendatang.
Sepanjang perjalanan dengan naik kereta ekspres itu, kami disuguhi pepohonan menjulang yang meranggas karena musim dingin. Sesekali terlihat rumah-rumah dengan arsitektur lokal setempat dan bangunan-bangunan bercat krem kelabu di pinggir jalan.
Sekitar 30 menit, sampailah di stasiun tujuan. Penumpang turun dari kereta dan keluar dari stasiun. Di mulut stasiun sejumlah pria berjaket hangat dan bertopi menawarkan jasa taksi. Mirip seperti di Indonesia tapi mereka tidak memaksa apalagi main kerumun ke "sasaran".
Di luar stasiun, sebuah mobil telah menunggu kami untuk menuju ke hotel tempat acara. Bukan main, benar kata Mbak Pramugari Etihad itu, Moskow macet panjang. Hanya saja tidak ada rombongan pemotor yang menguasai jalan seperti di Jakarta. Semuanya mobil, bercampur dengan railbus listrik alias trem. Semuanya bersabar menunggu giliran jalan.
"Kalau musim dingin, orang sini lebih suka naik mobil karena hangat, makanya jalanan padat. Tapi kalau musim panas mereka lebih suka naik angkutan umum," kata Harry, seorang WNI yang 14 tahun menetap di Moskow. Angkutan umum di Moskow terbilang bagus, terdiri dari trem dan Metro (subway).
Sepanjang jalan kami deg-deg plas, khawatir tidak bisa mengejar acara. Bahkan kami berniat turun saja di tengah jalan saat mobil kesulitan berbelok menuju hotel yang sudah tidak seberapa jauh. Tapi sopir mobil yang asli orang Rusia melarang karena khawatir disemprit pak polisi.
Bangunan di Moskow rata-rata berarsitektur kuno yang dirawat habis-habisan, tidak terlalu tinggi paling 5-7 lantai, dan tidak memiliki basement. Artinya, parkir harus di pinggir jalan atau trotoar sehingga sering menjadi sumber macet. Mobil orang Moskow rata-rata premium seperti Audi, Mercy, BMW, Lexus, Jaguar, dan mereka harus parkir mepet-mepet, sepertinya tidak takut kebaret. Bagi mereka, beli mobil mewah seperti beli kacang goreng karena mereka rata-rata makmur.
Barang-barang di Moskow relatif terjangkau, yang termahal hanyalah properti. Tempat kos Harry saja Rp 10 juta/bulan, itu pun tak terlalu luas. Saking mahalnya properti, tarif hotel termahal rata-rata di dunia ada di Moskow.
Setelah check in di Hotel Ararat yang bertarif Rp 3 juta/malam untuk kelas standar, cuci muka dan ganti baju, kami mengejar acara di sebuah ruangan hotel di lantai bawah. Acara sudah mulai tapi untunglah acara inti bisa kami dapatkan.
Setelah acara berlalu, sekitar pukul 21.00 malam, kami makan malam di sebuah restoran Kuba populer, Havana namanya. Hidangan yang disajikan ciamik dan tarian Latin yang digelar sangat seksi, menampilkan dancer-dancer profesional asli dari Kuba dan sekitarnya. Mereka menari salsa, samba, capoeira dll. Dinner ini berakhir pukul 24.00 malam.
Esok harinya, hari Sabtu adalah waktu mengeksplorasi Moskow. Karena waktu yang tak banyak, kami manfaatkan untuk jalan-jalan di pusat wisata paling favorit: Red Square (Lapangan Merah). Lapangan ini berada di samping Kremlin, pusat pemerintahan Rusia. Di sekitar lapangan ini terdapat situs bersejarah seperti Museum Sejarah Uni Soviet, Katedral Santo Basil yang memiliki kubah warna-warni bak istana boneka, dan juga Mausoleum Lenin, tempat jasad Vladimir Lenin yang diawetkan disemayamkan.
Hingga kini Lapangan Merah masih digunakan sebagai tempat upacara, perayaan, dan parade militer. Di sekitar sini juga terdapat api abadi dan tamu negara biasanya meletakkan karangan bunga untuk para pahlawan di sini, termasuk SBY saat bertandang beberapa tahun lalu.
Dua tentara bermantel musim dingin berdiri tegak siaga di posnya sembari membawa senjata laras panjang. Sementara, ratusan turis berfoto ria tak jauh darinya. Di dekatnya terdapat tugu berderet bertulisan kota-kota bersejarah yang memblokade tentara Napoleon Bonaparte yang bermaksud menguasai Rusia di zaman dulu.
Bangunan tua di Rusia - termasuk gereja - banyak menampilkan kubah mirip masjid di Indonesia. Itu karena arsitek pembangunan gedung tersebut berasal dari Turki atau terpengaruh Turki. Sekadar diketahui, Rusia merupakan negara terluas di dunia dengan penduduk 145 jutaan saja. Sebanyak 20 juta di antaranya beragama Islam, agama terbesar kedua setelah Kristen Ortodoks. Muslim di Moskow di kisaran 1 juta jiwa.
Dari Lapangan Merah, kita juga bisa nelihat dari kejauhan Gereja Putih yang dibangun tahun 1800-an yang arsitekturnya berkiblat ke Turki. Namun seiring dominasi Komunis pada abad ke-19, gereja Kristen Ortodoks itu dihancurkan dan dipakai untuk kolam renang pada 1960-an. Pada tahun 1990-an, Komunis runtuh dan gereja itu pun dibangun sesuai aslinya.
Di sekitar Lapangan Merah, Anda bisa bertemu 'Stalin' dan 'Lenin' bekas para pemimpin Rusia. Tentu saja mereka bukan asli, melainkan hanya aktor dengan wajah mirip Stalin dan Lenin. Mereka memakai kostum Stalin dan Lenin, lantas wisatawan bisa berfoto dengan mereka.
Di sini juga ada bangunan yang sedang direnovasi. Proyek pembangunan harus tetap mempertahankan keindahan kota sehingga bagian luar proyek bangunan itu dibungkus kertas/tekstil bergambar indah. Kain penutup ini membuat proyek tidak tampak amburadul.
Kami lalu mengunjungi Leninski Gori, yang merupakan titik tertinggi di Moskow. Di sini kita bisa melihat landskap seluruh Moskow dari kejauhan. Di dekat tempat ini terdapat gedung pencakar langit Universitas Negeri Moskow yang megah, bergaya campuran barok, gothic dan berteknologi Amerika, yang biasa disebut Stalinish style.
Masih ada 6 gedung sama persis lainnya yang tersebar di Rusia dan bersama Universitas Negeri Moskow, ketujuh bangunan itu dijuluki The Seven Sisters. Dari atas Leninski Gori, kita bisa melihat satu Seven Sisters lainnya yang kini menjadi Hotel Radisson, hotel bertarif termahal di dunia.
Masih ada pemandangan menarik lainnya dari atas Leninski Gori yaitu Stadion Luzhniki. Pada 1956 Presiden Soekarno berpidato di stadion tersebut di hadapan ribuan warga Moskow dan menyebut mereka sebagai, "Saudara yang jauh di mata tapi dekat di hati." Tak lama setelah itu, Rusia membuatkan stadion yang sama persis dengan Luzhniki, yang kini bernama Gelora Bung Karno (GBK) di Senayan, Jakarta. GBK adalah salah satu penanda sejarah eratnya hubungan Indonesia - Rusia tempo doeloe.
Puas di sini, perjalanan berlanjut di kawasan pedestrian Arbat Street yang ramai orang berjalan-jalan. Di sini terdapat kafe dan toko-toko. Di antaranya adalah toko suvenir. Di toko ini biasanya turis Indonesia berbelanja. Seorang pramuniaga yang cantik dan kenes bernama Dameera bahkan bisa berbahasa Indonesia sepatah dua patah. Dameera yang berambut keriting sebahu dan beragama Islam ini mengaku pernah berpacaran dengan pria Indonesia.
Dameera melayani dengan ramah dan murah senyum. Saat kami bilang "mahal" pada suvenir tokonya Dameera langsung mengernyitkan alis dan menyahut dalam bahasa Inggris, "Ya saya setuju dengan Anda, semua barang di Moskow ini mahal."
Puas belanja, kami mengusir hawa dingin yang menusuk tulang dengan minum coklat panas di sebuah kafe yang cukup populer. Di kafe ini muda-mudi Rusia juga biasa nongkrong. Para gadisnya modis, cantik menawan khas Eropa Timur, berbadan tinggi semampai bak model, dan banyak di antaranya yang merokok.
Karena malam telah larut, kami lantas kembali ke hotel, packing, dan istirahat. Minggu esoknya setelah sarapan, langsung menuju bandara untuk kembali ke Jakarta. Karena hari libur, jalanan tidak macet sehingga kami naik mobil. Suhu 2 derajat Celcius, seolah membekukan urat-urat kami yaang terbiasa pada kehangatan tropis.
Sungguh, dua malam tak terlupakan di Moskow!
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar