Pagi itu pada akhir pekan lalu, detikTravel baru saja menyantap sarapan pagi di Hotel Mangkuto di Payahkumbuh, Ibukota Kabupaten Limapuluh Koto, Sumbar. Hotel di tepi jalan protokol itu kelihat termewah dibanding sederatan rumah penduduk.
Tidak seperti hotel berbintang lainnya, ruang sarapan paginya ada di bagian belakang terpisah dengan bangunan gedung utamanya. Ruangan sarapan paginya adalah panggung dengan dinding terbuka dan di bawahnya kolam ikan. Kolam cukup luas berbatasan dengan sawah milik warga sekitar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari hotel menuju jalan lintas Sumbar-Riau berjarak sekitar 3 km dari pusat kota ada pertigaan. Arah ke kiri ada petunjuk Objek Wisata Harau dan ke kanan menuju Pekanbaru. Dari pertigaan menuju Lembah Harau ini sekitar 13 km.
Jalan beraspal yang sangat mulus di kanan kiri diapit bentangan sawah yang sangat luas. Pagi itu para petani sudah menceburkan kakinya ke lumpur untuk memanen padi yang menguning. Sebagian petani ada yang menyemai padinya. Terlihat, ada padi yang menguning siap untuk dipanen, namun sebagian terlihat baru ditanam.
Udara nan sejuk dan pemadangan yang indah, membuat AC roda empat pun dimatikan. Semilir angin terasa segar tanpa ada asap dari kebakaran hutan dan lahan di Riau. Sekitar 2 km menuju lembah, ada gapura bertuliskan 'Selamat Datang di Objek Wisata Lembah Harau'.
Sejumlah pemuda berkumpul di bawah gapura. Mereka bertugas mengutip dana retribusi setiap kendaraan roda empat yang akan memasuki kawasan objek wisata. Tak luput kendaraan roda dua juga harus membayar. Satu orang dikenakan pajak retribusi Rp 5 ribu.
Sepanjang jalan selain terlihat sawah, juga berjejer rumah penduduk yang hidup sederhana. Dari kejauhan telah terlihat jika desa itu diapit lembah yang indah. Jalan yang lurus seakan mentok ke dinding tembok bukit yang terjal.
Ternyata di ujung jalan ada pertigaan. Ke kanan dan ke kiri sama-sama jalan kecil beraspal itu mengitari bukit nan menjulang ke langit. Untuk pertama, kendaraan menuju ke arah kiri. Jalan kecil ditutupi pepohonan rindang, seakan memasuki gua. Sebelah kanan jalan, tebing nan tinggi lebih dari 200 meter. Bebatuan tebing itu ditumbuhi pepohonan kecil.
Di dalam kawasan lembah ini, ternyata ada pondok-pondok kecil yang menjual berbagai makanan ringan khas Sumbar. Ada juga sebagian yang menjual kaos anak-anak berikhas Sumbar. Di sana ada juga tempat rekreasi anak-anak. Ada kereta api putar, ada ayunan dan kolam untuk sepeda air. Tapi memang, sarana hiburan anak-anak ini sangat minim.
Bila dilihat dari kejauhan sebelum memasuki kawasan Lembah Harau, rasanya tidak mungkin ada perkampungan di bawah terjalnya bukit tersebut. Dinding bukit yang berbatu itu bak tembok gedung di Jakarta yang mencakar langit.
Sungguh pemadangan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa itu sangat yang menakjubkan. Beberapa kali Sumatera Barat ini dilanda gempa, diding bebatuan itu tidak runtuh.
Puas melihat bagian sayap kiri, lantas kembali ke pertigaan awal menuju sayap sebelah kanan. Jalan sempit yang beraspal harus sering-sering menghidupkan klakson kendaraan Anda. Karena jalan yang sempit kadang mendadak muncul kendaraan dari arah berlawanan.
Menyisiri Harau sebelah kanan ini, kembali posisi tebing berada di sebelah kiri. Sama dengan Harau sebelah kiri, bukit terjal itu juga mencakar langit. Sebelah kanan jalan hamparan sawah. Bila dilihat, maka perkampungan Harau ini dikelilingi bukit nan terjal.
Mentok di ujung jalan, ada objek wisata pemandian alami. Air mengalir dari bukit di bawah rindangnya kawasan hutan belantara. Monyet-monyet kecil akan menyambut di ujung sana. Banyak warung makan tersedia. Termasuk buah durian yang dijajakan masyarakat setempat.
Di lokasi ini juga ada tempat untuk kemping pramuka. Di hari libur, objek wisata alam ini lumayan ramai. Mereka ada yang datang dari Riau, Sumut, Jambi. Malah saat detikTravel berkunjung, ada turis dari mancanegara yakni Jepang dan Eropa.
Para turis asing ini menyempatkan diri untuk turun ke sawah. Mereka mencoba merasakan bagaimana para petani sehabis memanen padinya lantas digiling dengan putaran roda yang dikayuh dengan kaki di bawah gubuk. Para turis ini juga terlihat memotret pemandangan indah yang menakjubkan itu.
Sayangnya, objek wisata alam ini belum tertata dengan baik. Sarana penginapan yang tersedia belum ditata maksimal. Sehingga pengunjungpun sedikit enggan untuk menginap di kawasan ini.
Tempat penginapan yang tersedia, kamarnya juga terbatas. Bentuk tempat penginapannya, bergaya arsitek rumah Minang dengan sisi kanan kiri atap melengkung ke atas dan mengerucut. Masyarakat yang berkunjung ke lokasi ini, lebih memilih menginap di hotel yang tersedia di Kota Payakumbuh.
Lokasi Lembah Harau ini, sekitar 100 km jika Anda beranjak dari Kota Padang, Sumbar, atau sekitar 170 km dari Pekanbaru, Riau. Untuk menuju ke lokasi ini, rombongan sering menggunakan bus travel baik dari Bukittinggi atau Padang. Namun sebagian besar mereka yang berkunjung menggunakan kendaraan pribadi.
"Untuk cuci mata, kawasan Harau lumayan indah dari sekian banyak objek wisata yang ada di Sumbar. Namun sayangnya, pemda masih setengah hati menglola kawasan ini," ujah Mohamat Lakoni (60) yang datang dari Palembang.
(cha/fay)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Menhub Usulkan Masjid di Jalur Arus Lebaran Jadi Rest Area Pemudik