Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 28 Jun 2020 10:50 WIB

UGC-BRIDGE

Sejarah Kerajaan Gowa-Tallo, Penguasa Nusantara bagian Timur

Pasti Liberti Mappapa
detikTravel
Foto Drone Fort Rotterdam
Fort Rotterdam, benteng peninggalan masa jaya Kerajaan Gowa-Tallo. Foto: (Didik Dwi/detikTravel)
Jakarta -

Kerajaan Gowa-Tallo merupakan gabungan dari dua kerajaan yang berasal dari garis darah sama yakni Kerajaan Gowa. Dikenal pula dengan nama Kerajaan Makassar. Wilayah kekuasaannya terbentang sampai kawasan timur Nusantara.

Saat Sultan Hasanuddin memerintah Kerajaan Gowa, meletus perlawanan sengit melawan Kongsi Dagang atau Perusahaan Dagang Belanda di Hindia Timur (Vereenigde Oostindische Compagnie atau VOC) yang melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah dari Kepulauan Maluku.

Berikut sejarah Kerajaan Gowa-Tallo :

1. Berasal dari Dua Kerajaan yang Bersaudara

Kerajaan Gowa menurut Ahmad M. Sewang dalam bukunya Islamisasi Kerajaan Gowa : Abad XVI sampai abad XVII pertama kali dipimpin oleh Tomanurung. Pelantikan Tomanurung diperkiran terjadi pada abad XIV. Tidak ada catatan tertulis terkait lama pemerintahan Tomanurung.

Catatan terkait Kerajaan Gowa baru ada pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tonangka Lopi. Raja ini membagi wilayahnya ke dalam dua wilayah yang dipimpin dua putranya yakni Batara Gowa dan Karaeng Loe Sero.

Batara Gowa melanjutkan kekuasaan di Kerajaan Gowa sebagai Raja Gowa VII saat Toangka Lopi meninggal dunia. Wilayah kekuasaannya meliputi Paccelekang, Pattalasang, Bontomanai Ilau, Bontomanai 'Iraya, Tombolo, dan Mangasa.

Sementara Karaeng Loe Sero mendirikan kerajaan baru bernama Kerajaan Tallo yang meliputi Saumata, Pannampu, Moncong Loe, dan Parang Loe. Kedua kerajaan yang masih berkerabat ini tak pernah akur. Bertahun-tahun terjadi perang karena persaingan. Sampai akhirnya Kerajaan Tallo mengalami kekalahan.

Pada masa pemerintahan Raja Gowa X, I Mariogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tonipalangga Ulaweng (1512-1546) terjadi kesepatakan untuk menyatukan kedua kerajaan itu yang kemudian disebut Kerajaan Gowa-Tallo. Kesepakatan itu diperkirakan terjadi pada akhir masa pemerintahan Raja Gowa X.

Para sejarawan kerap menamakan Kerajaan Gowa-Tallo ini dengan sebutan Kerajaan Makassar. Namun akhirnya nama Kerajaan Gowa yang tetap paling populer. Para sultan berasal dari garis keturunan Gowa, sedangkan perdana menterinya berasal dari garis Tallo. Penyatuan dua kerajaan ini membankitkan kekuatan besar di pulau Sulawesi bagian selatan.

2. Sultan Pertama bernama Tunipalangga

Tunipalangga diangkat menjadi raja pertama Kerajaan Gowa Tallo. Perdana menteri dari Tallo, Nappakata'tana Daeng Padulung. Mereka melakukan ekspansi ke kerajaan tetangga yang terletak di pedalaman Bugis dan perairan Teluk Bone.

Diantaranya Siang, Bacukiki, Suppa, dan Sidenreng, juga Bajeng, Lengkese, Polombangkeng, Lamuru, Soppeng, Lamatti, Wajo, Duri, Panaikang, Bulukumba, Bone, dan sejumlah kerajaan kecil lainnya. Untuk menghadapi invasi Kerajaan Gowa-Tallo itu, pemimpin Kerajaan Bone, Wajo dan Soppeng memutuskan untuk berkoalisi.

3. Elite Kerajaan Gowa-Tallo memeluk Islam pada 1605
Pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo secara resmi memeluk agama Islam pada 22 September 1605. Pedagang Melayu yang bermukim di Makassar mengenalkan agama Islam pada raja dengan mengundang sejumlah ulama dari Minangkabau. Sebelum berdakwah di Kerajaan Gowa-Tallo, ulama ini mengenalkan Islam pada Raja Luwu.

Raja Gowa XIV I Mangarangi Daeng Manrabia, mengikrarkan dirinya menjadi seorang Muslim. Dia kemudian mengganti namanya menjadi Sultan Alauddin. Sultan Alauddin kemudian menjadikan Islam sebagai agama resmi kerajaan pada 1607.

4. Perang Dahsyat Melawan VOC Belanda
Cucu Sultan Alauddin, bernama Sultan Hasanuddin naik takhta pada November 1653. Dia membawa Kerajaan Gowa-Tallo mencapai puncak kejayaan dengan menguasai jalur perdagangan utama di Nusantara bagian timur. Hasanuddin akhirnya berhadapan dengan VOC yang melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah dari Kepulauan Maluku.

Pertempuran akhirnya meletus pada 1660. Selama 7 tahun berperang, Sultan Hasanuddin terpaksa menyerah dan bersedia diajak berunding. Perundingan itu dilakukan pada 18 November 1667 dan dikenal dengan nama Perjanjian Bungaya. Hasanuddin yang tak puas memberontak. Namun VOC akhirnya meruntuhkan perlawanan kerajaan ini pada 12 Juni 1669.

Sultan Hasanuddin akhirnya turun dari takhta. Setahun kemudian dia wafat. Sejak itu kejayaan Kerajaan Gowa-Tallo memudar.




Simak Video "Ragam Cara Bandara Sultan Hasanuddin Tangkal Corona"
[Gambas:Video 20detik]
(pal/erd)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA