Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 01 Jul 2020 09:27 WIB

UGC-BRIDGE

Isi Perjanjian Bongaya, Titik Awal Melemahnya Sultan Hasanuddin

ILUSTRASI/ Benteng Rotterdam Makassar Sulsel
Patung Sultan Hasanuddin, pemimpin Kerajaan Gowa-Tallo saat Perjanjian Bongaya diteken pada November 1667 (Noval Dhwinuari Antony-detikcom)
Jakarta -

Perjanjian Bongaya diteken di sebuah kampung kecil bernama Bungaya atau Bongaya oleh Sultan Hasanuddin dan Cornelis Speelman. Sultan Hasanuddin terpaksa menandatangani perjanjian tersebut setelah mengalami beberapa kali kekalahan dalam perang melawan VOC yang telah berlangsung 7 tahun sejak 1660.

Menurut peneliti sejarah dari UCSI University, Malaysia, Ivie Carbon Esteban dalam artikelnya yang berjudul The Narrative of War in Makassar: Its Ambiguities and Contradictions menyebut negosiasi antara Kerajaan Gowa-Tallo dengan VOC berlangsung alot.

Perbedaan bahasa pun menjadi kendala. Penerjemah harus mondar-mandir menghadap kedua belah pihak. Speelman yang jengkel mengusulkan menggunakan orang Portugal sebagai negosiator. Dia juga menyarankan, juru bicara resmi Kerajaan Gowa Tallo, Karaeng Karunrung turut mengambil peran. Karunrung dikenal fasih berbahasa Portugis. Sultan Hasanuddin menyepakati hal tersebut.

Pembahasan Perjanjian Bongaya ini berlangsung berhari-hari. Ini membuat Speelman kesal. VOC mengeluarkan ancaman, jika Sultan Hasanuddin tidak menghadiri penandatanganan perjanjian, maka negosiasi tak akan dilanjutkan.

Akhirnya pada 18 November 1667, Sultan Hasanuddin bersedia memenuhi permintaan tersebut. Kehadiran Sultan Hasanuddin, disambut dengan pakaian resmi suku Makassar. Namun, isi Perjanjian Bongaya yang setidaknya terdiri dari 30 pasal sangat merugikan Kerajaan Gowa-Tallo.

Berikut beberapa pokok isi Perjanjian Bongaya :

1. VOC Menguasai Sepenuhnya Akses Perdagangan di Gowa dan sekitarnya

VOC menjadikan kesepakatan itu sebagai alat legitimasi memonopoli perdagangan di kawasan timur nusantara. Isi Perjanjian Bongaya seperti misalnya, semua orang Eropa yang lain di Makassar harus segera diusir dan tidak diizinkan masuk atau bertransaksi jual beli di Makassar.

Tak hanya pedagang Eropa, orang India, Moor , Jawa, Melayu, Aceh, Siam juga tidak diizinkan. Siapapun yang melanggar akan dihukum dan barang dagangannya disita VOC. VOC bahkan dibebaskan dari keharusan membayar biaya dan pajak ekspor impor perdagangan.


2. Kerajaan Gowa-Tallo Diminta Melepas Wilayah Kekuasaannya

Selain soal perdagangan, isi Perjanjian Bongaya juga mengatur soal wilayah jajahan Kerajaan Gowa-Tallo. Sultan Hasanuddin diminta meninggalkan seluruh kekuasaan atas negeri-negeri Luwu dan Bugis. Bangsawan-bangsawan Bugis dan keluarganya yang ditawan di wilayah Makassar harus dibebaskan.


3. Penghancuran Benteng-Benteng Pertahanan


VOC juga melemahkan kekuatan Sultan Hasanuddin dengan meminta Seluruh benteng di sepanjang pantai Makassar harus dihancurkan termasuk benteng Barombong, Pa'nakkukang, Garassi, Mariso, Boro' boso kecuali benteng Somba Opu untuk kediaman Sultan Hasanuddin.

Salah satu isi Perjanjian Bongaya juga mensyaratkan bahwa Benteng Ujung Pandang harus diserahkan dalam kondisi yang baik kepada Belanda bersama dengan tanah wilayah di sekitarnya.

4. Pelucutan Senjata

Sekutu Kerajaan Gowa-Tallo harus menyerahkan alat-alat perang berupa meriam dan senapan. Selain itu, Kerajaan Gowa-Tallo juga harus membayar ganti rugi pada VOC dalam bentuk meriam, barang, emas, perak atau permata

Merasa dirugikan dengan isi Perjanjian Bongaya tersebut, Sultan Hasanuddin diam-diam mulai menyusun kekuatan. Dia membangun beberapa benteng yang sudah dirobohkan. Namun, VOC rupanya mengetahui siasat tersebut. VOC lalu mengerahkan seluruh pasukan gabungan, termasuk bantuan dari Bone, Ambon, dan Batavia, untuk menyerang Benteng Somba Opu pada 12 Juni 1669.

Kekuatan Kerajaan Gowa-Tallo yang lumpuh akibat Perjanjian Bongaya dengan singkat ditaklukkan. Sultan Hasanuddin akhirnya tertangkap pada 29 Juni 1669. Hampir setahun kemudian, dia meninggal dunia dalam usia 39 tahun.



Simak Video "Bandara Sultan Hasanuddin Punya Wajah Baru"
[Gambas:Video 20detik]
(erd/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA