Ada Apa di Kolong Rumah Panggung Desa Wabula, Buton?

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ada Apa di Kolong Rumah Panggung Desa Wabula, Buton?

Faela Shafa - detikTravel
Senin, 02 Sep 2013 14:50 WIB
Ada Apa di Kolong Rumah Panggung Desa Wabula, Buton?
Para ibu di desa yang sibuk menenun di kolong rumah panggung (Shafa/detikTravel)
Buton - Sebuah desa berdiri dengan cantiknya di pesisir Pantai Wabula, Buton. Rumah-rumah panggung berderet rapi. Tapi ada yang unik di hampir setiap kolong rumah panggung tersebut.

Tak tak tak! Bunyi kayu beradu terdengar di kolong rumah panggung. Beberapa anak kecil terlihat duduk mengelilingi atau bercanda di depannya. Di kolong rumah panggung, ada ibu yang sedang asyik menenun kain.

Biasanya, menenun kain dilakukan di teras rumah, area terbuka atau di ruangan. Beda dengan di Desa Wabula, para wanitanya menenun di kolong rumah panggung. Alasannya sederhana, agar bisa bekerja dengan lebih leluasa.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Kebiasaan dari dahulu memang sudah bekerja di kolong rumah," kata Ibu Naken, salah satu penenun yang telah menekuni tenun sekitar 15 tahun itu saat detikTravel berkunjung ke sana pekan lalu.

Kegiatan unik ini bisa dilihat sepanjang hari, dari pagi menjelang siang hingga sore. Para ibu ini selesai bekerja sekitar pukul 17.00 waktu setempat. Karena, mereka harus mempersiapkan makan malam untuk keluarganya.

Hasil kainnya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena, kain tenun dari desa ini sudah diekspor hingga luar kota bahkan luar negeri. Makin ke sini, produksinya pun makin bertambah karena ada peraturan baru di Buton yang mewajibkan semua instansi memakai kain tenun khas buton setiap hari Kamis.

Harga satu kain yang standar pun bisa dibilang tidak terlalu mahal, mulai dari Rp 150 ribu. Namun, ada juga yang eksklusif, dengan model dan bahan yang berbeda, dijual hingga Rp 2,5 juta per lembar.

Selain melihat kegiatan unik yang dilakukan para wanita di desa ini, Anda juga bisa berkeliling desa yang tepat berada di pesisir pantai. Meski tidak semuanya memiliki bibir pantai, namun airnya yang biru mampu menenangkan setiap mata yang memandang.

Ditambah, angin semilir yang meliuk di antara dedaunan nyiur dan pepohonan lain, sungguh sejuk. Berlama-lama di sini pun bisa, karena beberapa rumah membuka diri dengan menawarkan jasa homestay bagi pelancong yang ingin menghabiskan liburan di desa itu. Di ujung desa, ada pantai perawan yang bisa jadi tempat liburan tenang sepanjang hari. Mantap!

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads