Dalam rangkaian Festival Bau Nyale di Lombok Tengah beberapa waktu silam yang didatangi detikTravel, ada pacuan kuda tradisional. Dalam perlombaan ini, trek yang digunakan bukanlah yang permanen, melainkan buatan untuk keperluan lomba saja. Meski sebenarnya, nantinya arena ini akan tetap dijadikan trek pacuan kuda.
Selain itu, kuda yang dilombakan sangat beragam, mulai dari yang kecil hingga yang besar. Kuda lokal kecil biasanya hanya akan lomba dalam satu kali putaran trek. Beda dengan kuda peranakan yang biasanya lebih besar dari kuda lokal Sumbawa atau Lombok.
Dari sinilah mengapa ada para joki cilik yang pemberani. Lantaran kuda yang dilombakan tergolong kecil, maka sang joki pun harusnya tidak teralu berat agar kecepatan lari kuda bisa tetap maksimal. Dipilihlah anak laki-laki berumur 5-7 tahun yang berbadan kecil dan ringan untuk menjadi joki.
Sekali lagi, karena tradisional, tidak ada pakaian wajib yang digunakan para joki. Jangankan baju tebal untuk mengurangi luka jika jatuh, helm untuk melindungi kepala pun seadanya. Hampir semua joki memakai baju tidur atau baju main saat menjadi joki.
Mengapa disebut pemberani, karena mereka tidak mengenakan pelana dan lain-lainnya saat pacuan. Yang menjadi alat mereka selama di atas kuda hanyalah pecutan yang akan membuat kuda makin melesat. Sebelum kuda berlari kencang, mereka sudah berpegangan erat dengan tubuh kuda.
Tangan melingkar di sekitar leher kuda atau menjambak rambut kuda, kaki menjepit perut kuda dengan sekuat tenaga. Wush! Melesatlah kuda ke trek pacuan, tubuh sang joki cilik ini pun melambung-lambung mengikuti pegas alami kuda yang sedang berlari.
Tak jarang yang bernasib tidak terlalu baik. Karena treknya tidak rata, malah beberapa berlumpur, ada saja kuda yang terpeleset. Melempar joki dari tubuhnya, menghempas ke tanah. Namanya anak kecil, mereka akan menangis dan merengek saat jatuh. Tapi, siapa pula yang tidak akan menangis kesakitan saat terbanting ke tanah dan bahkan tertimpa kuda.
Namun kecelakaan ini tidak menyurutkan keinginan para joki cilik untuk tetap kembali punggung kuda. Kemungkinan besar karena kebutuhan ekonomi sehingga mereka harus tetap mempertaruhkan nyawa di pacuan. Tak bisa dipungkiri, uang yang didapat saat menjadi joki memang cukup menggiurkan.
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru