Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 15 Sep 2014 18:27 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Akhir Nasib Bioskop Bersejarah di Curup, Bengkulu

detikTravel
Bekas tangga masuk Bioskop Sempurna yang bersejarah (Silvia/detikTravel)
Bekas tangga masuk Bioskop Sempurna yang bersejarah (Silvia/detikTravel)
Curup - Bioskop lokal di berbagai kota sampai di pelosok Indonesia pernah menjadi kebanggaan. Satu persatu mereka gulung tikar, termasuk Bioskop Sempurna di Curup, Bengkulu. Padahal, mereka adalah bagian dari sejarah kota.

Tangga setengah lingkaran dan dua tangga pengapit mencirikan kemegahan sebuah bangunan di Curup, Bengkulu. Tinggal itu yang tersisa. Di atas tangga ada beberapa bekas pilar beton yang kini tingginya tinggal setengah meter. Di belakangnya adalah bidang luas, kira-kira dua kali lapangan voli, yang landai menurun terus hingga ke ujung sana.

Reruntuhan ini berada di Jalan Mayor Salim Batubara, Curup, Bengkulu, belum jauh setelah berbelok masuk dari Jalan AK Gani. detikTravel berkunjung ke sana pada Rabu, 3 September 2014 dan bertandang ke rumah ahli waris pemiliknya, rumah asri bercat putih persis di kiri bioskop. Rumahnya senada dengan langgam rumah-rumah Menteng asli dari pengembang NV de Bouwploeg. Tirai jendela samping berkibar-kibar ditiup angin siang. Pintu pagarnya tidak dikunci.

Tak lama setelah saya memencet bel, seorang ibu berambut pendek membuka pintu. Dia adalah Yusnil Chotimah, 60 tahun, anak ke-5 dari delapan anak H Muhammad Abbas Saleh. Kini dia tinggal sendiri di rumah yang dibangun orangtuanya, setelah suaminya meninggal dan dua anaknya bekerja di Bengkulu.

Awalnya kami ngobrol di teras yang sejuk berangin, duduk di atas kursi rotan. Nyaman sekali. Lalu Nilma, panggilan akrabnya, mempersilakan saya melihat-lihat dalam rumahnya yang luas, bersih, dan banyak perabotan kuno warisan orang tuanya. Berikut cerita Nilma tentang Bioskop Sempurna.

Bioskop Sempurna dibangun di atas tanah milik M Abbas Saleh, ayahnya yang berdarah Rejang Lebong. Abbas yang berisitrikan Sare'ah binti H. Bakri adalah pedagang hasil bumi (buah, biji kopi, beras, dan sayur-mayur) yang menjual dagangannya ke Palembang dan Lampung. Kemudian dia bermitra dengan TNI sebagai pemasok bahan makanan untuk Sekolah Kader Infanteri (SKI - sekarang jadi Korem Curup).

Pemilik bangunan bioskopnya adalah perkongsian lima orang, yakni 55 persen M. Abbas Saleh; dan 45 persen lainnya dibagi empat orang, yakni Nanang Abu Bakar, Wahid, Moh. Asan Han, dan Mahmud TAA yang seluruhnya masih bersaudara. Pembangunan dimulai pada 1955, rampung pada Agustus 1956, dan diresmikan 2 Januari 1957.

Bioskop pertama dan pernah jadi satu-satunya di Curup itu sangat ramai didatangi penonton. Film kung fu dan film India menyedot penonton paling banyak. Kalau yang diputar film kung fu, maka penduduk Tionghoa tua hingga muda keluar dari rumah-rumah mereka, berduyun-duyun ke bioskop. Apalagi kalau film India yang diputar, calon penonton tumpah sampai ke jalan.

Dengan luas 28x75 meter dan kapasitas 1000 kursi, Bioskop Sempurna adalah gedung yang sangat megah pada masa itu. Dalam sehari ada tiga kali pemutaran film, yakni pukul 14.30, 16.30, dan 19.30 dengan harga karcis Rp 50. Bioskop Sempurna juga jadi sumber kehidupan 24 karyawannya, terdiri dari tiga operator proyektor, tiga penjaga, empat petugas karcis, enam tenaga kebersihan, dan delapan petugas lainnya.

Pemilik bioskop untung besar. Abbas dan istrinya pergi haji pada 1965. Empat tahun kemudian, 2 Februari 1969, HM Abbas Saleh wafat dalam usia 51 tahun dan pengelolaan bioskop dipegang anak-anaknya sambil diawasi ibu mereka, Sare'ah Abbas.

Ketika saudara-saudara Nilma ini harus meninggalkan Curup untuk kuliah di Palembang, keluarga dan para pemegang saham lainnya sepakat menyewa jasa orang lain sebagai pengelola. Keluarga Abbas hanya menerima hasil tiap bulannya sesuai persentase saham. Baru kemudian adik Nilma, Farid (kelahiran 1965) ikut mengelola bioskop sambil kuliah di Universitas Bengkulu.

Dimulai keberadaan televisi di hampir tiap rumah pada 1970-an dan berlanjut dengan hadirnya video berimbas pada berkurangnya jumlah penonton bioskop. Pesaing pun muncul ketika Pemerintah Daerah mendirikan Bioskop Pat Petulai pada 1974. Kondisi ini diperburuk dengan berkurangnya pasokan film. Setelah merugi makin banyak, dan gempa besar yang mengguncang Bengkulu pada Desember 1979 menyebabkan bangunan bioskop retak-retak, Bioskop Sempurna terpaksa menutup layarnya untuk yang terakhir pada 1986.

Pemilik/ahli waris sepakat meruntuhkan Bioskop Sempurna guna menghindari korban nyawa. Materialnya dibagi lima dan tanahnya dikembalikan ke keluarga Abbas. Kursi kayu deret yang sekarang diletakkan di depan rumah Nilma adalah salah satu warisan bioskop. Dulunya kursi penonton kelas ekonomi. Penonton kelas eksekutif duduk di kursi rotan beralas bantal empuk. Kursi rotan itu sudah tidak ada lagi sekarang.

Saya sempat bertanya jika Nilma masih menyimpan foto saat Bioskop Sempurna berjaya, tapi sayang dia tidak lagi menyimpan foto itu. Dulu pernah ada yang pinjam tapi tidak dikembalikan. Mengapa tidak dibangun lagi atau dijual?

"Siapa yang berani bangun? Siapa yang mau beli? Sudah, biarkan saja begitu," kata Nilma.

(fay/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA