Kisah Mistis Tentang Tentara Jepang di Biak, Papua

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Travel Highlight Papua

Kisah Mistis Tentang Tentara Jepang di Biak, Papua

- detikTravel
Kamis, 04 Des 2014 20:09 WIB
Kisah Mistis Tentang Tentara Jepang di Biak, Papua
Tangga untuk masuk ke dalam gua (Hani/detikTravel)
Biak - Di Papua selain bisa menikmati keindahan alam, traveler juga bisa berwisata sejarah menuju situs yang ada di Biak. Tempat ini merupakan sepenggal cerita peninggalan Perang Dunia ke II yang kental dengan kisah mistis.

Berada di Kabupaten Biak Numfor, Papua, tempat ini merupakan situs saksi bisu sejarah Perang Dunia II. Di sini terdapat 2 gua yang dulunya pernah dijadikan tempat berlindung pasukan tentara Jepang, yaitu Gua Binsari dan Gua Jepang Lima Kamar.

Beberapa waktu lalu detikTravel sempat mengunjungi tempat ini dan menggali informasi di dalamnya, diceritakan bahwa gua tersebut pernah dibom pasukan Sekutu pimpinan Jendral Douglas MacArthur pada tahun 1944. Tak tanggung-tanggung, 6 ribu tentara Jepang pun mati terkubur hidup-hidup di dalamnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gua Binsari berasal dari kata 'Binsari' yang berarti perempuan tua, konon dahulu ada seorang warga lokal menjaga gua ini sejak tahun 1989. Uniknya Gua Binsari ini tembus hingga Gua Jepang Lima Kamar di tepi pantai yang menghadap di Samudera Pasifik.

Pada tahun 1980-an mulai lah dilakukan penggalian untuk mencari jasad para tentara jepang yang terkubur karena ledakan bom tersebut. Sampai tahun 2012 kemarin sudah ada sekitar seribu tentara Jepang yang ditemukan tulang belulangnya.

Kejadian masa lalu tersebut menjadikan tempat ini angker dan penuh misteri. Sebelum situs ini resmi dibuka untuk umum, banyak kejadian-kejadian aneh yang dialami warga sekitar. Salah satunya adalah ada warga yang pernah mendengar suara langkah tentara seperti sedang berbaris di kawasan tersebut.

Menurut cerita yang pernah dikumpulkan detikTravel dari warga sekitar, pernah ada pengunjung yang kesurupan, bicaranya meracau. Ada juga yang pernah lihat tentara berpakaian putih-putih. Biasanya mereka menampakan dirinya kepada yang datang, bukan penduduk sini.

Semakin menjadikan bukti sejarah, di tempat ini juga ditemukan amunisi, senjata laras panjang, granat, topi, botol minuman hingga baju tentara. Semua penemuan tersebut dipajang di halaman depan gua agar traveler bisa melihatnya, sedangkan tulang belulang disimpan di dalam kotak besi berukuran 1,5 meter dan sebagian ada yang dipulangkan ke Jepang.

Berada di Gua Binsari, traveler bisa melihat 2 buah lubang besar mirip seperti sumur raksasa. Sumur ini memiliki diameter 10 meter dengan kedalaman 20 meter. Untuk masuk ke dalam gua Anda harus melewati ratusan anak tangga, tangga ini pun dilengkapi pegangan kayu yang dibuat oleh Pemkab Biak.

Puas menjelajah gua, traveler juga bisa menuju situs ke-2 yaitu Monumen Perang Dunia II yang berjarak 2 km dari Gua Binsari. Monumen ini berupa pelataran batu seluas 50 m dengan hiasan minimalis ala Jepang dilengkapi kubah dan kursi-kursi batu, tempat ini sengaja dibangun oleh keluarga tentara Jepang untuk mengenang keluarga mereka.

Monumen Perang Dunia II ini berada di Gua Jepang Lima Kamar, gua yang tidak luput dibom Sekutu hingga menewaskan 3500 tentara Jepang. Kisah mistis di monumen ini menurut warga adalah, konon 3 tiang bendera yang dipasang di monumen itu suka bergerak-gerak sendiri bila malam.

Terdapat prasasti dari 3 bahasa, Jepang, Inggris dan Indonesia yang bertuliskan "Monumen Perang Dunia ke II. Monumen untuk mengingatkan umat manusia tentang kekejaman perang dengan segala akibatnya agar tidak terulang lagi". Dalam prasasti juga disebutkan, monumen itu dibangun berdasarkan kesepakatan Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Jepang pada 24 Maret 1996.

Ada juga ruang berupa lorong sepanjang 10 meter yang terdapat kaleng-kaleng besi setinggi 50 cm berisi serpihan tulang belulang tentara Jepang. Di depannya terlihat banyak foto-foto, papan nama kayu, dupa hingga benda peninggalan korban yang sengaja diletakan keluarganya.

Banyak pengunjung datang diantaranya adalah para ahli forensik yang masih menggali tulang belulang terkubur. Tak lupa juga, keluarga dari tentara Jepang juga meminta maaf pada penduduk Biak.

(fay/fay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads