Banda Aceh -
Tanpa terasa, sudah 10 tahun berlalu sejak tragedi tsunami Aceh pada Desember 2004. Banyak cerita tak terlupakan, salah satunya adalah kisah Masjid Raya Baiturrahman di Kota Banda Aceh yang sering dikunjungi wisatawan.
Masjid Raya Baiturrahman merupakan landmark Provinsi Aceh. Kisah fenomenal dan bangunannya yang megah membuat banyak wisatawan tertarik datang untuk melihat langsung masjid yang tersohor ini. Dirangkum oleh detikTravel, Selasa (23/12/2014) inilah profil Masjid Raya Baiturrahman:
1. Diterjang tsunami
(Merza Gamal/d'Traveler)
|
Saat tragedi tsunami 2004 lalu, banyak bangunan di Aceh yang rusak terkena gelombang yang begitu dahsyat. Namun, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Arus air yang sangat kencang juga tidak merobohkan masjid ini.
Saat itu, masjid hanya mengalami kerusakan di bagian pagarnya saja. 10 Tahun berlalu, masjid ini sudah cantik kembali.
Hingga kini, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang berkunjung ke masjid ini. Masjid raya yang ikonik ini memang daya tarik utama wisatawan.
2. Menjadi tempat berlindung ribuan pengungsi
(Merza Gamal/d'Traveler)
|
Karena bangunannya yang masih berdiri kokoh, para korban tsunami Aceh yang selamat menggunakan masjid sebagai tempat perlindungan. Puluhan ribu orang mengungsi ke masjid, baik muslim maupun non muslim.
Kejadian tsunami Aceh menewaskan banyak sekali korban. Pekarangan masjid dipenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan. Saat itu, Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat yang cukup nyaman bagi para pengungsi. Bagian dalam masjid tetap kering karena air bah tidak masuk ke dalam bangunan.
3. Kemegahan yang memukau
(Merza Gamal/d'Traveler)
|
Masjid Raya Baiturrahman dibangun di pusat Kota Banda Aceh. Bangunan masjid begitu megah dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Di depan masjid ada kolam besar dan rerumputan yang cantik. Ada juga pohon kurma yang tumbuh subur di halamannya.
Banyak wisawatan yang foto-foto di halaman masjid. Menara induk juga boleh dimasuki oleh wisatawan. Dari atas menara, Anda bisa melihat keindahan Kota Banda Aceh dari ketinggian 60 meter. Saat datang ke masjid, pastikan Anda berpakaian sopan.
Masjid yang disebut-sebut sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara ini memiliki 4 menara, 7 kubah dan 1 menara induk. Masjid ini memiliki luas sekitar 4 hektar dan bisa menampung hingga sekitar 10 ribu jemaah.
4. Saksi bisu sejarah Aceh
(Merza Gamal/d'Traveler)
|
Masjid Raya Baiturrahman memang sudah lama sekali berdiri. Masjid dibangun sekitar tahun 1612 Masehi. Selain menjadi saksi tragedi tsunami pada tahun 2004 silam, Masjid raya Baiturrahman juga menjadi saksi bisu di zaman penjajahan Belanda.
Pada tahun 1873-1904, masjid ini menjadi tempat pertahanan saat rakyat Aceh melawan Belanda. Masjid Raya Baiturrahman juga pernah dibakar dan kemudian dibangun kembali pada zaman penjajahan.
5. Tempat mempelajari sejarah Aceh
(Merza Gamal/d'Traveler)
|
(Merza Gamal/d'Traveler)
5. Tempat mempelajari sejarah Aceh
Masjid Raya Baiturrahman kental dengan budaya dan sejarah Aceh. Selain sebagai tempat beribadah, Anda juga bisa belajar sejarah Aceh dan budaya ala Serambi Makkah di sini.
Masjid ini mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku sejarah Aceh. Selain itu di masjid juga sering diadakan ceramah, pengajian dan juga kajian Islam. Berkunjung ke Aceh memang belum lengkap jika tidak datang ke Masjid.
Saat tragedi tsunami 2004 lalu, banyak bangunan di Aceh yang rusak terkena gelombang yang begitu dahsyat. Namun, Masjid Raya Baiturrahman tetap berdiri kokoh. Arus air yang sangat kencang juga tidak merobohkan masjid ini.
Saat itu, masjid hanya mengalami kerusakan di bagian pagarnya saja. 10 Tahun berlalu, masjid ini sudah cantik kembali.
Hingga kini, banyak wisatawan dari berbagai daerah yang berkunjung ke masjid ini. Masjid raya yang ikonik ini memang daya tarik utama wisatawan.
Karena bangunannya yang masih berdiri kokoh, para korban tsunami Aceh yang selamat menggunakan masjid sebagai tempat perlindungan. Puluhan ribu orang mengungsi ke masjid, baik muslim maupun non muslim.
Kejadian tsunami Aceh menewaskan banyak sekali korban. Pekarangan masjid dipenuhi mayat-mayat yang bergelimpangan. Saat itu, Masjid Raya Baiturrahman menjadi tempat yang cukup nyaman bagi para pengungsi. Bagian dalam masjid tetap kering karena air bah tidak masuk ke dalam bangunan.
Masjid Raya Baiturrahman dibangun di pusat Kota Banda Aceh. Bangunan masjid begitu megah dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh. Di depan masjid ada kolam besar dan rerumputan yang cantik. Ada juga pohon kurma yang tumbuh subur di halamannya.
Banyak wisawatan yang foto-foto di halaman masjid. Menara induk juga boleh dimasuki oleh wisatawan. Dari atas menara, Anda bisa melihat keindahan Kota Banda Aceh dari ketinggian 60 meter. Saat datang ke masjid, pastikan Anda berpakaian sopan.
Masjid yang disebut-sebut sebagai salah satu masjid terbesar di Asia Tenggara ini memiliki 4 menara, 7 kubah dan 1 menara induk. Masjid ini memiliki luas sekitar 4 hektar dan bisa menampung hingga sekitar 10 ribu jemaah.
Masjid Raya Baiturrahman memang sudah lama sekali berdiri. Masjid dibangun sekitar tahun 1612 Masehi. Selain menjadi saksi tragedi tsunami pada tahun 2004 silam, Masjid raya Baiturrahman juga menjadi saksi bisu di zaman penjajahan Belanda.
Pada tahun 1873-1904, masjid ini menjadi tempat pertahanan saat rakyat Aceh melawan Belanda. Masjid Raya Baiturrahman juga pernah dibakar dan kemudian dibangun kembali pada zaman penjajahan.
(Merza Gamal/d'Traveler)
5. Tempat mempelajari sejarah Aceh
Masjid Raya Baiturrahman kental dengan budaya dan sejarah Aceh. Selain sebagai tempat beribadah, Anda juga bisa belajar sejarah Aceh dan budaya ala Serambi Makkah di sini.
Masjid ini mempunyai perpustakaan yang berisi buku-buku sejarah Aceh. Selain itu di masjid juga sering diadakan ceramah, pengajian dan juga kajian Islam. Berkunjung ke Aceh memang belum lengkap jika tidak datang ke Masjid.
(ptr/ptr)
Komentar Terbanyak
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?
Bali Kehilangan Sawah, 3 Ribu Hektare Raib dalam 8 Tahun