Kawasan Teluk Pangpang punya kawasan wisata mangrove yang disebut-sebut menandingi hutan mangrove Blok Bedul, Banyuwangi Selatan. Kawasan ini tidak menjadi wewenang Balai Konservasi Taman Nasional maupun Perhutani. Di sini, masyarakat bisa langsung terlibat dalam pengelolaan kawasan tersebut.
detikTravel dan sejumlah wartawan lainnya blusukan ke Teluk Pangpang, Desa Kedungasri, Kecamatan Tegaldlimo. Kepala Desa Kedungsari, Sunaryo pun ikut bersama wartawan mencari kepiting di pesisir pantai yang airnya sedang surut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pencarian kepiting cukup menarik. Dengan bekal alat berupa kawat besi kemudian mencari lubang yang banyak ditemui di pesisir.
"Dapat Pak, ada di lubang ini," kata Nokia (13), salah satu anak Sunaryo yang ikut mencari kepiting. Sontak, sang ayah langsung merogoh lubang yang disebut ada kepitingnya.
Dengan lihainya, Sunaryo itu berhasil mendapatkan kepiting. Satu persatu kepiting tangkapan itu dimasukkan tas yang terbuat dari jaring. Cangkang kepiting diikat terlebih dahulu.
"Di Teluk Pangpang ini hutan mangrovenya bagus," kata Sunaryo. Ia setuju bila ada pengembangan sebagai lokasi wisata namun dengan syarat pemberdayaan warganya harus disiapkan.
"Jangan sampai warga hanya jadi penonton, warga di sini harus mendapat pelatihan dan siap," kata dia.
Dari data yang dihimpun, selain ada 12 jenis mangrove di kawasan tersebut juga merupakan habitat satwa liar terutama jenis burung air (water birds). Terdapat 30 jenis burung, 10 di antaranya merupakan jenis yang dilindungi.
Kementerian Kehutanan telah menetapkan mangrove di kawasan Teluk Pangpang satu di antara 17 lokasi ekosistem esensial di Indonesia. Selain satwa yang hidup di permukaan air, Teluk Pangpang juga menjadi habitat bagi berbagai spesies fauna air.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Setuju?
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
AS Siapkan Paspor Edisi Khusus, Tampilkan Wajah Donald Trump