Sepeninggal suaminya, Teuku Umar, Cut Nyak Dhien melanjutkan bergerilya melawan penjajah di Aceh. Setelah 25 tahun berperang, akhirnya ia ditangkap Belanda dan diasingkan di Sumedang.
Cut Nyak Dhien ditempatkan di rumah panggung sederhana yang berada di Jl Pangeran Aria Suriatmaja. Tak lama ia diasingkan, hanya 3 tahun hingga akhirnya menghembuskan nafas terakhir.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut situs resmi Dinas Pariwisata Jawa Barat, Selasa (21/4/2015), Gunung Puyuh memang difungsikan sebagai komplek pemakaman bagi bupati keturunan Prabu Geusan Ulun dan keluarganya. Komplek ini jadi semakin harum namanya dengan adanya makam salah satu pahlawan wanita paling berani di Indonesia.
Bentuk makamnya dibuat senyaman mungkin, lengkap dengan pendopo dan pagar rendah terbuat dari kayu. Di dalam pendopo, terlihat makam dari pahlawan Indonesia, Cut Nyak Dhien.
Lokasinya yang berada di tepi jalan raya membuat makam ini mudah ditemui para traveler. Untuk menemukan makam Cut Nyak Dhien, Anda bisa melewati beberapa blok awal yang merupakan makam-makam dari keluarga keturunan Prabu Geusan Ulun. Setelah melewati beberapa blok awal, barulah ditemui makam pahlawan wanita pemberani ini.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun