Wah! Bangka Juga Punya Legenda 'Malin Kundang'

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Wah! Bangka Juga Punya Legenda 'Malin Kundang'

- detikTravel
Senin, 04 Mei 2015 16:50 WIB
Wah! Bangka Juga Punya Legenda Malin Kundang
Batu Balai di Pulau Bangka (Sastri/detikTravel)
Muntok - Bicara soal legenda Malin Kundang, yang terlintas di benak traveler pastilah Sumatera Barat. Tapi siapa sangka, Pulau Bangka juga punya legenda serupa. Tentang seorang anak yang durhaka kepada ibunya, kemudian dikutuk jadi batu!

Batu Balai, begitu nama batu granit raksasa yang terletak di Desa Air Putih, Kecamatan Sungai Daeng, Pulau Bangka. Batu berukuran 8x6 meter dengan tinggi 5 meter ini disebut-sebut mirip kapal. Hal tersebut tak lepas dari legenda masyarakat setempat yang rupanya mirip kisah Malin Kundang.

"Legendanya tentang anak yang pergi meninggalkan ibunya, kemudian pulang tapi tidak mau mengakui ibunya," tutur Erwin, pemandu rombongan wartawan saat mengunjungi Batu Balai beberapa waktu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begini kisahnya. Alkisah di sebuah hutan dekat Kota Muntok, Bangka, hiduplah seorang janda miskin bersama anak laki-lakinya yang bernama Dempu Awang. Sehari-harinya mereka menanam ubi, keladi, dan sayur-sayuran di ladang. Hingga suatu hari Dempu Awang mengutarakan keinginannya kepada sang Ibu, bahwa dia ingin merantau ke negeri seberang demi kehidupan yang lebih baik.

Sang Ibu pun menerima keputusan anak semata wayangnya itu. Dia kemudian mengantar Dempu Awang , yang menjadi anak buah kapal, ke Pelabuhan Muntok. Singkat cerita, 10 tahun kemudian Dempu Awang sudah menjadi seorang yang kaya raya dan mempunyai istri cantik jelita.

Sang istri pun memberi ide kepada Dempu Awang, untuk kembali ke kampung halamannya dan bertemu sang mertua. Dempu Awang segera menyiapkan kapal beserta awaknya, dan berlabuh menuju Pelabuhan Muntok.

Tiba di pelabuhan, Dempu Awang langsung mencari ibunya. Seorang penduduk berkata, ibunya masih hidup. Dempu Awang pun memintanya untuk menjemput sang Ibu. Namun begitu sang Ibu tiba di pelabuhan, Dempu Awang merasa malu karena ibunya sangat kurus dan berpakaian compang-camping.

Dempu Awang tidak mau mengakui ibunya, bahkan mendorong wanita itu hingga jatuh terguling di tangga kapal. Hati sang Ibu pun hancur berkeping-keping, kemudian berdoa kepada Tuhan untuk memberikan balasan yang setimpal kepada anaknya yang durhaka.

Doa sang Ibu rupanya langsung terkabul. Begitu kapal Dempu Awang hendak berlayar meninggalkan Pelabuhan Mentok, tiba-tiba langit mendung. Badai pun datang, menghantam kapal Dempu Awang sehingga karam ke dasar laut.

Saat cuaca kembali cerah, tampaklah sebuah batu besar di tempat kapal Dempu Awang karam. Konon itu merupakan penjelmaan kapal Dempu Awang.

"Tapi dinamakan Batu Balai karena di dekat batu ini dulu ada kantor pemerintahan (balai). Tempat ini populer di kalangan turis lokal," tambah Erwin.

(sst/sst)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads