Pontianak -
Kota Pontianak di Kalbar punya tradisi unik menjelang lebaran. Ada Festival Meriam Karbit yang diselenggarakan setiap tahunnya. Konon, salah satu tujuan festival ini adalah untuk mengusir Kuntilanak. Wah, seperti apa?
Tiap malam sebelum Lebaran, selalu diadakan festival unik ini di Pontianak. Ada puluhan meriam siap untuk diledakkan menyambut datangnya Hari Kemenangan. Dihimpun detikTravel dari situs pariwisata Pontianak, Kamis (8/7/2015), berikut 5 uraiannya:
1. Sejarah Festival Meriam
(Youtube)
|
Atraksi permainan meriam karbit memiliki sejarah yang menarik. Konon, Kesultanan Kadriah Pontianak yang berdiri pada 1771-1808, membunyikan meriam demi mengusir hantu-hantu kuntilanak yang gentayangan di Kota Pontianak. Bunyi kerasnya juga sering digunakan untuk menandakan waktu azan Maghrib.
Itu baru versi pertama, versi kedua menyebutkan sejarah festival meriam berawal dari Sultan Syarif Abdurrahman saat pertama kali membuat Kota Pontianak. Meriam ditembakkan sebagai pertanda untuk menentukan di mana ia akan membangun Kota Pontianak.
2. Masyarakat banyak yang ikut serta
(Youtube)
|
Peserta Festival Meriam terdiri dari puluhan kelompok warga lokal Pontianak. Masing-masing kelompok mewakili gang atau RT-nya, mereka pun berkumpul di kedua sisi Sungai Kapuas. Setiap kelompok punya lima sampai belasan meriam karbit yang siap untuk diledakkan.
Untuk membuat lima unit meriam, setidaknya membutuhkan biaya sekitar Rp 15 juta hingga Rp 30 juta, tergantung persediaan kayu meriam yang sudah dimiliki peserta. Biasanya mereka berpatungan untuk membuat meriam. Jika sudah pernah mengikuti kompetisi ini, biaya yang dikeluarkan semakin ringan.
3. Meriam terbuat dari kayu
(Youtube)
|
Meriam yang digunakan dalam festival ini bukanlah meriam versi Belanda yang terbuat dari besi, meliankan terbuat dari kayu. Kayu ini berasal dari sebatang pohon yang dibelah dua memanjang untuk diambil tengahnya. Nantinya kedua belahan itu akan disatukan dengan ikatan rotan yang kuat.
Kayu tersebut lalu dibuat menyerupai meriam asli yang dibuat dari besi/baja. Diameter kayu untuk meriam sendiri mencapai sekitar 50 cm. Pantas jika bunyi yang dihasilkan meriam bisa mencapai radius 5 Km.
4. Diadakan di tepi sungai
(Youtube)
|
Lokasi diadakannya Festival Meriam biasanya di tepi Sungai Kapuas. Lokasi persisnya ada di jalan Imam Bonjol, yang terletak di pusat kota Pontianak. Traveler mengarah ke tenggara jika berjalan dari Alun-alun Kapuas, jaraknya mungkin sejauh 5 Km.
Setelah sampai di lokasi, traveler akan langsung menemukan puluhan meriam berjejer dengan rapi di tepian sungai. Biasanya ada 2 kelompok yang masing-masing berada di sisi sungai dan saling berhadapan. Persis seperti sedang mau perang meriam. Seru!
5. Dilombakan setiap tahun
(Youtube)
|
Selain sebagai acara budaya, festival ini juga dilombakan setiap tahunnya. Tercatat puluhan kelompok meriam karbit siap mengikuti festival ini. Bahkan saat pemecahan rekor MURI, tercatat ada ratusan meriam dilibatkan.
Acara ini pun langsung menjadi daya tarik pariwisata Kota Pontianak bagi para wisatawan. Tak kurang ratusan turis datang dan menyaksikan festival yang digelar selama selama 3 malam, dari hari sebelum Lebaran sampai hari setelah Lebaran ini. Sungguh meriah!
Atraksi permainan meriam karbit memiliki sejarah yang menarik. Konon, Kesultanan Kadriah Pontianak yang berdiri pada 1771-1808, membunyikan meriam demi mengusir hantu-hantu kuntilanak yang gentayangan di Kota Pontianak. Bunyi kerasnya juga sering digunakan untuk menandakan waktu azan Maghrib.
Itu baru versi pertama, versi kedua menyebutkan sejarah festival meriam berawal dari Sultan Syarif Abdurrahman saat pertama kali membuat Kota Pontianak. Meriam ditembakkan sebagai pertanda untuk menentukan di mana ia akan membangun Kota Pontianak.
Peserta Festival Meriam terdiri dari puluhan kelompok warga lokal Pontianak. Masing-masing kelompok mewakili gang atau RT-nya, mereka pun berkumpul di kedua sisi Sungai Kapuas. Setiap kelompok punya lima sampai belasan meriam karbit yang siap untuk diledakkan.
Untuk membuat lima unit meriam, setidaknya membutuhkan biaya sekitar Rp 15 juta hingga Rp 30 juta, tergantung persediaan kayu meriam yang sudah dimiliki peserta. Biasanya mereka berpatungan untuk membuat meriam. Jika sudah pernah mengikuti kompetisi ini, biaya yang dikeluarkan semakin ringan.
Meriam yang digunakan dalam festival ini bukanlah meriam versi Belanda yang terbuat dari besi, meliankan terbuat dari kayu. Kayu ini berasal dari sebatang pohon yang dibelah dua memanjang untuk diambil tengahnya. Nantinya kedua belahan itu akan disatukan dengan ikatan rotan yang kuat.
Kayu tersebut lalu dibuat menyerupai meriam asli yang dibuat dari besi/baja. Diameter kayu untuk meriam sendiri mencapai sekitar 50 cm. Pantas jika bunyi yang dihasilkan meriam bisa mencapai radius 5 Km.
Lokasi diadakannya Festival Meriam biasanya di tepi Sungai Kapuas. Lokasi persisnya ada di jalan Imam Bonjol, yang terletak di pusat kota Pontianak. Traveler mengarah ke tenggara jika berjalan dari Alun-alun Kapuas, jaraknya mungkin sejauh 5 Km.
Setelah sampai di lokasi, traveler akan langsung menemukan puluhan meriam berjejer dengan rapi di tepian sungai. Biasanya ada 2 kelompok yang masing-masing berada di sisi sungai dan saling berhadapan. Persis seperti sedang mau perang meriam. Seru!
Selain sebagai acara budaya, festival ini juga dilombakan setiap tahunnya. Tercatat puluhan kelompok meriam karbit siap mengikuti festival ini. Bahkan saat pemecahan rekor MURI, tercatat ada ratusan meriam dilibatkan.
Acara ini pun langsung menjadi daya tarik pariwisata Kota Pontianak bagi para wisatawan. Tak kurang ratusan turis datang dan menyaksikan festival yang digelar selama selama 3 malam, dari hari sebelum Lebaran sampai hari setelah Lebaran ini. Sungguh meriah!
(rdy/rdy)