Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 20 Sep 2015 12:05 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Kabola, Suku di Alor yang Pakaiannya Kulit Kayu

Rengga Sancaya
detikTravel
Suku Kabola yang menggenakan pakaian adatnya (Rengga/detikTravel)
Suku Kabola yang menggenakan pakaian adatnya (Rengga/detikTravel)
Alor - Alor di NTT tidak hanya terkenal dengan bawah lautnya saja. Berbagai suku di sana menarik untuk dikenal lebih dekat, seperti suku Kabola. Pakaian adatnya ternyata terbuat dari kulit kayu.

Suku Kabola merupakan salah satu duku di Alor yang mendiami daratan Pulau Alor, Pantar dan pulau-pulau kecil di antaranya. Masyarakat Suku Kabola mendiami perkampungan tradisional Monbang yang berada di Desa Kopidil Kecamatan Alor Barat Laut, berjarak dari Kalabahi sekitar 7 km.

Suku Kabola mendirikan rumah-rumah bertiang kayu bulat, tinggi dan dengan atap dari alang-alang atau ijuk berbentuk bulat, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, daun lontar atau papan. Perkampungan tradisional Monbang mirip dengan perkampungan tradisional Takpala, namun ada hal unik yang membedakannya, yaitu pakaian adat mereka terbuat dari kulit kayu.

Bagi yang wanita, pakaiannya seperti dres menutupi seluru tubuhnya, kecuali bagian tangan. Sedangkan pria, hanya bagian bawah saja dan atasnya masih bertelanjang dada. Warna kulit kayu yang putih, membuatnya terlihat unik.

Masyrakat Suku Kabola menampilkan atraksi budaya seni tradisional: Cakalele, Lego-lego, tari rotan. Biasanya, mereka menyelenggarakan seni tersebut ketika ada turis yang datang, juga seperti sedang berlangsungnya event Festival Adventure Indonesia (FAI).

Nama Alor diberikan oleh orang luar untuk menyebut seluruh kelompok masyarakat yang berdiam di daerah tersebut. Mereka sendiri terdiri atas sejumlah sub-suku, antara lain Abui, Alor, Belagar, Deing, Kabola, Kawel, Kelong, Kemang, Kramang, Kui, Lemma, Maneta, Mauta, Seboda, Wersin, dan Wuwuli.

Pada masa lampau sub-sub suku bangsa tersebut masing-masing hidup terasing di daerah perbukitan dan pegunungan, terutama untuk menghindari peperangan dan tekanan dari dunia luar.

Di sanalah mereka mendirikan rumah-rumah bertiang kayu bulat, tinggi dan dengan atap dari alang-alang atau ijuk berbentuk bulat, dindingnya terbuat dari anyaman bambu, daun lontar atau papan.

(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED