Satu hal yang pasti kamu lihat saat melancong ke Papua, adalah wanita-wanita di sana yang selalu mengenakan noken. Baik di kota-kota besar seperti Jayapura, bahkan sampai di desa-desa di pedalaman hutan.
"Noken ini digunakan oleh wanita-wanita di sini untuk mengangkut barang-barang. Itu banyak macamnya," ujar Malama, seorang warga Desa Ugimba, Kabupaten Intan Jaya kepada tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 sebelum pendakian ke Puncak Carstensz, pertengahan Agustus kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Malama melanjutkan, barang-barang yang bisanya dimasukan ke dalam noken yakni makanan seperti ubi-ubian, sayur mayur dan hasil kebun lainnya. Menurutnya, berat barang-barang tersebut belum seberapa.
"Babi dan bayi itu bisa masuk ke noken. Nokennya kuat, tidak rusak. Wanitanya juga kuat-kuat," kata Malama.
Bahkan, para wanita Papua mampu mengangkat potongan kayu sampai batu-batu sungai dengan noken. Beratnya tidak main-main, bisa sampai 30 kilogram!
"Mereka (wanita) sudah biasa bawa noken itu. Mereka dari kecil sudah dibuatkan noken, lalu belajar membawanya. Ah, cara pakainya tidak seperti pakai tas," papar Malama.
Cara memakainya ada dua. Pertama, noken ditaruh di belakang badan dan ditahan dengan menggunakan dahi. Sebelumnya, dahi sudah diberi pakaian atau kain agar tidak mudah lecet saat tergesek.
"Pria biasanya memakai di dada. Nokennya ditahan dengan dada," kata Malama memberitahu cara kedua.
Saya sendiri coba memakai noken, untuk merasakan seberapa susahnya sih. Oh benar kata Malama, satu noken yang berisi penuh ubi dan kol saja sudah berat. Apalagi kalau yang lain isinya.
"Ini wanita Papua perkasa pakai noken. Porter yang menemani kita ke Carstensz juga membawa barang pakai noken toh. Mereka bisa bawa 20 kilo, 30 kilo kah," tutup Malama.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong