Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 08 Okt 2015 16:10 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

2 Rumah Bersejarah di Menteng dengan Tragedi Berdarah

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Museum AH Nasution (Wahyu/detikTravel)
Museum AH Nasution (Wahyu/detikTravel)

FOKUS BERITA

Sisi Lain Jakarta
Jakarta - Jakarta menyimpan destinasi sisi lain yang menjadi saksi bisu tragedi berdarah G30S/PKI. Semua itu tersimpan dalam 2 rumah bersejarah di kawasan Menteng.‎

Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani dan Museum Jenderal Besar AH Nasution adalah 2 lokasi berdekatan yang menjadi saksi sejarah gugurnya Ahmad Yani dan Ade Irma Suryani Nasution, putri Jenderal AH Nasution. Keduanya ditembak secara mengenaskan di kediaman pribadi masing-masing, yang kini dialihfungsikan menjadi museum.

Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani terletak di Jalan Lembang Terusan No D 58, Menteng, Jakarta Pusat. detikTravel pun menyambangi lokasi tersebut, Selasa (6/10/2015) untuk menyaksikan rumah bersejarah yang menyimpan kisah tragis terbunuhnya Menteri/Panglima Angkatan Darat saat itu.

Museum Ahmad Yani terdiri dari beberapa ruangan. Dari mulai ruang tamu, ruang santai, ruang makan, serta ruang kamar tidur pribadi Ahmad Yani, serta kamar tidur putra-putri beliau. Dari sekian ruangan yang ada, pihak pemandu yang berjaga, mewanti-wanti agar tidak memotret satu ruangan khusus di dalam museum. Ruangan tersebut adalah Kamar Pribadi Jenderal Ahmad Yani. Dia mengaku tidak bertanggung jawab apabila sesuatu yang buruk terjadi.

"Silakan kalau mau memaksakan diri, yang penting saya sudah memperingatkan. Paling nanti fotonya nge-blur, atau kalau nggak yang memotret akan jatuh sakit," ujar Wawan, pemandu yang saat itu bertugas.

Kapten Infanteri Hendra Firdaus, Kepala Museum Ahmad Yani pun menceritakan tragedi berdarah yang terjadi di rumah tersebut pada tanggal 30 September 1965. Dia menceritakan secara rinci dari awal hingga
saat peristiwa penembakan terjadi.

"Kejadiannya pagi hari pukul 04.00 WIB, pasukan Cakrabirawa masuk dari pintu belakang. Pintu itu memang tidak dikunci karena itu pintu masuk ajudan dan pembantu. Mereka memang sudah memantau terlebih dulu. Saat suasana sudah sepi, yang masuk ke dalam hanya 3 orang, padahal sebenarnya rumah ini sudah dikepung sekitar 100 orang lebih, dari Pemuda Rakyat dan Gerwani," ungkap Hendra.

3 Orang anggota pasukan Cakrabirawa saat itu yang masuk adalah Sersan Raswad, Kopral Tumiran dan Kopral Giyadi. Ketiga orang ini ditugaskan untuk menjemput Sang Jenderal. Setelah berhasil masuk ke dalam rumah, mereka memaksa pembantu rumah untuk membangunkan majikannya, namun pembantu ini tidak berani. Akhirnya terjadi keributan dan membangunkan Irawan Suaedi, anak Ahmad Yani yang saat itu masih kecil. Irawan kecil pun diminta membangunkan Ayahnya, dan ia pun menurut.

"Pak Yani saat itu sudah merasakan ada yang tidak beres. Kopral Tumiran meminta Beliau menghadap Presiden dengan nada kasar dan membentak. Mana ada tentara berpangkat Kopral berani membentak Jenderal. Beliau minta waktu untuk mandi dan berganti baju dengan yang lebih pantas karena akan menghadap Presiden. Namun, Kopral Tumiran bilang 'Tidak usah Jenderal, tidak perlu'. Pak Yani pun marah dan menempeleng Tumiran. 'Setidaknya biarkan saya cuci muka dulu,' kata Pak Yani. Saat itulah peristiwa penembakan itu terjadi," kisah Kapten Hendra.

Saat hendak berbalik menuju ke kamar pribadinya itulah, Pak Yani langsung diberondong dengan senjata Thompson milik Pasukan Cakrabirawa. Total ada 7 peluru yang ditembakkan dan langsung mengenai tubuh sang jenderal bintang 4 itu. 3 Peluru bersarang di dalam, sisanya menembus badan dan terpantul ke beberapa arah. Jenderal Ahmad Yani pun gugur dengan bersimbah darah.

"Setelah tertembak, Pak Yani diseret di sepanjang lorong kemudian dilempar ke samping rumah. Di sana beliau kemudian dilempar ke dalam truk untuk dibawa ke Lubang Buaya. Dalam kondisi seperti itu, Pak Yani masih mengalami penyiksaan di dalam truk oleh Gerwani dan Pemuda Rakyat," tutur Hendra.

Kisah tak kalah tragis juga terjadi di Rumah Pribadi Jenderal AH Nasution. Ade Irma Suryani, yang saat itu masih berusia 5 tahun menjadi korban penembakan yang dilakukan oleh pasukan Cakrabirawa. Gadis kecil tak bersalah itu menjadi korban karena menjadi tameng ayahnya.

Diorama yang menggambarkan peristiwa penembakan saat itu, bisa traveler lihat di Museum Jenderal Besar AH Nasution yang terletak di Jalan Teuku Umar No.40, Jakarta Pusat. Ada patung-patung tentara, serta patung Ade Irma Suryani. Di bangunan samping yang merupakan rumah ajudan, juga bisa dilihat diorama penangkapan Kapten Anumerta Pierre Tendean yang juga menjadi korban pengkhianatan G30S/PKI.

Kedua museum ini bisa kalian kunjungi untuk belajar sejarah dan meneladani perjuangan Jenderal Ahmad Yani dan AH Nasution. Jam buka museum ini mulai dari pukul 08.00 WIB dan tutup 14.00 WIB.

(aff/aff)

FOKUS BERITA

Sisi Lain Jakarta
BERITA TERKAIT
BACA JUGA