Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 09 Mei 2016 12:50 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengenal Gereja Tugu, Peninggalan Sejarah Portugis di Jakarta Utara

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Gereja Tugu di Kampung Tugu, Jakarta Utara (Randy/detikTravel)
Gereja Tugu di Kampung Tugu, Jakarta Utara (Randy/detikTravel)
Jakarta - Selain Belanda, bangsa Portugis juga pernah datang dan meninggalkan warisan sejarah di Batavia. Salah satu peninggalannya adalah Gereja Tugu di Jakarta Utara.

detikTravel pun sempat menelusuri fakta sejarah tentang Gereja Tugu di Jakarta Utara, Minggu (8/5/2016), bersama rombongan dari komunitas Jakarta Food Adventure (JFA). Sejarahnya, Gereja Tugu merupakan salah satu yang yang tertua sekaligus peninggalan Portugis yang masih ada.

"Salah satu, yang tertua ada di Kota Batavia, dulu Gereja Salib Putih. Dulu itu gereja yang sekarang jadi Museum Wayang. Kalau ini kan baru 1661 mereka ke sini bikin gereja. Masih Katolik waktu itu, tapi termasuk gereja-gereja tertua," terang salah satu pemandu dari Jakarta Food Adventure, Adjie Hadipriawan.

Menariknya, ada papan penanda persis di depan Gereja Tugu yang menuliskan tahun 1748. Usut punya usut, ternyata dahulu orang Portugis yang dibawa sebagai tahanan oleh Belanda dari Malaka melakukan ibadah di Gereja Sion yang berada di daerah kota.


Papan peresmian Gereja Tugu (Randy/detikTravel)

Namun karena merasa tidak bebas di bawah Belanda, para leluhur orang Tugu pun melarikan diri ke Kampung Tugu yang dahulu masih hutan dan rawa. Atas inisiatif dari Pendeta Melchior Leydecker, dibangunlah gereja pertama di sana pada tahun 1678 yang konon berlokasi di Gereja HKI Tanjung Priok yang berada tidak jauh.

Namun karena faktor usia, perlahan bangunan itu rusak di digantikan oleh Gereja Tugu yang ada kini. Namun pada tahun 1740, bangunan Gereja Tugu mengalami pengrusakan saat pemberontakan etnis Tionghoa.

"Pas tahun 1700 ada pemberontakan orang Tionghoa dan sempat dibakar," tambah salah satu pemandu JFA, Ira Lathief.

Barulah pada tahun 1744, Gereja Tugu dibangun kembali dan selesai pada tahun 29 Juli 1747. Setelah selesai, Gereja Tugu diresmikan pada tanggal 27 Juli 1748 oleh pendeta J.M. Mohr. Sama seperti tahun yang ada di depan Gereja Tugu.


Interior Gereja Tugu yang tidak banyak berubah (Randy/detikTravel)

detikTravel dan rombongan JFA pun sempat masuk ke dalam Gereja Tugu yang bersejarah dan diberi penjelasan langsung oleh Majelis Gereja Tugu yang masih keturunan Portugis, Brengki Abraham. Marganya pun asli Portugis.

Uniknya, ada sejumlah peninggalan sejarah di Gereja Tugu yang tidak berubah dan masih ada hingga kini. Contohnya seperti piala yang digunakan untuk misa, mimbar hingga engsel pintu yang tidak berubah.


Piala asli Roma yang dibawa Portugis (Randy/detikTravel)

"Ini salah satu peninggalan Portugis yang dibawa dari Roma, piala untuk misa, meja kayu itu masih asli, engsel pintu yang ada dibelakang itu juga masih peninggalan portugis," terang Brengki.

Tepat di samping Gereja Tugu, traveler juga dapat melihat lonceng gereja yang masih ada dari dulu. Hanya saja lonceng aslinya disimpan di ruang samping gereja dan digantikan oleh replikanya. Sejumlah makam keturunan Portugis juga masih dapat dijumpai di halaman gereja.

Sekiranya Gereja Tugu tetap bertahan dibalik gempuran kendaraan kontainer yang sehari-hari melewatinya. Geliat industri memang jauh lebih terlihat ketimbang keberadaan Gereja Tugu sebagai situs cagar budaya peninggalan Portugis di Jakarta Utara.


Lonceng Gereja Tugu (Randy/detikTravel)

(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED